Total Tayangan Halaman

INILAH KISAH KU

Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.

Selasa, 17 Desember 2013

Do you really trush me?

Wow, berapa orang yang bilang Gw bijak dalam berkata?
Tapi mereka gak lebih tahu, bahwa ada lebih banyak kegalauan yang Gw alami. So, itu menjelaskan bahwa kegalauan Gw menghasilkan sebuah kebijakan dalam berkata, dan kadang bertindak.
Dan berapa banyak orang yang percaya sama kata-kata Gw?
Padahal Gw lebih sering gak percaya sama kata-kata Gw sendiri dibandingin siapapun. Sungguh aneh...
Tapi dengan begini pikiran Gw terbuka, jadi buat apa Gw mendengarkan kata-kata orang lain. Karena belum tentu mereka bener-bener apa sama apa yang Gw maksud, dan jawaban terbaik yang sebenernya ada di diri Gw. Pendapat orang lain itu cuma bahan pertimbangan. Masuk akal untung, salah besar ya bukan masalah buat Gw...
So, just trust to your self, more than anyone trust to you.

Jumat, 11 Oktober 2013

Bagian 1 - BNADGOAIOWLAGIHINEW

Namanya BNADGOAIOWLAGIHINEW...
Bagaimana ya mendeskripsikannya????
Kurang tepat rasanya kalau menyebut dia SANGAT BAIK. Karena akan ada lebih banyak orang yang menyangkalnya, mengingat gelar 'anak rese' yang disandangnya entah sejak kapan itu. Tapi aku rasa tak berlebihan menyebutnya CUKUP BAIK. Remember please, no body perfect.
Kapan tepatnya aku mulai mengenalnya???? Entahlah...
Berdasarkan bukti konkrit yang ada, menunjukkan kalau kami satu sekolah saat masih menduduki bangku TK. Kami hanya terpisah tembok yang membagi kelas menjadi nol besar dan nol kecil. Yang berarti kami sudah pernah bertemu sejak saat itu, entah bagaimana caranya.
Memasuki masa SD, kami berada di satu kelas yang sama. Untuk waktu yang sangat lama, 6 tahun, kami mengenal, bertemu, sesekali berbicara, atau bertengkar, hanya sekedar untuk mengingat bahwa dia adalah orang yang ku kenal.
Lalu masa SMP. Disatu sekolah yang sama, kami menjadi dua titik yang berada diantara ribuan kepala. Hanya sesekali berpapasan, tanpa saling menyapa. Hanya sesekali melihat, untuk memastikan kalau itu benar-benar dia yang ku kenal. Temannya mungkin juga teman ku. Lorong kelas yang pernah dia lewati, mungkin juga pernah ku lewati. Tapi tak ada sekalipun tegur sapa.
Dan lama, lama, lama kemudian. Entah berapa lama itu. Kami berpapasan dijalan. Tentu tak ia sadari, lagi pula siapa aku, dia tak harus dapat mengingat siapa aku. Saat itu yang terlintas dalam benak ku adalah, "Itu dia. Tak banyak berubah."
Kemudian entah bagaimana caranya semua ini bekerja, tiba-tiba selalu ada alasan untuk bertemu dengannya. Lalu kami terbiasa bersama. Dan akhirnya memutuskan untuk bersama.
Begitu mudah. Sepertinya tidak dibuat-buat.
Hingga lama, lama, lama kami bersama. Entah sampai kapan...
Mungkin dia jawaban untuk sebuah pertanyaan yang bahkan mungkin belum terpikirkan. Ataukah sebuah hadiah dari kesabaran dalam penantian yang panjang. Bisa juga potongan puzzel yang melengkapi susunan gambar hidup ku...

Saat berjalan, langkah kami tepat beriringan. Duduk bersamanya dalam bisu-pun tak membosankan. Itulah kami. Tunggu apakah sudah saatnya menyebut KAMI... Entahlah...

Jumat, 29 Maret 2013

Si Angsa Buruk Rupa yang Gila


Ini adalah kisah si angsa buruk rupa yang gila.

Entah ini sudah tahun berapa, yang ia tahu ini adalah siang hari karena matahari bersinar dengan teriknya. Tik.Tok.Tik.Tok. Itu bukan bunyi dentingan jarum jam, karena tak ada jam disini. Itu suara dua ranting yang bergoyang dan sesekali bertubrukan karena tertiup angin.

Ia duduk terdiam disana, ditepi danau kehidupan yang menampung air dari air terjun harapan yang tak seberapa deras alirannya. Dibawah bayang-bayang pepohonan si angsa buruk rupa yang gila terdiam menatapi langit, bersembunyi dari rasa panas yang menakutkan dan menghirup udara baru dari dedaunan yang baik. Kali ini ia coba berpikir apa yang akan ia pikirkan. Dan ia memulainya dari sana, dari saat terburuk yang sempat terlupakan.

Dahulu angsa buruk rupa yang gila sangat benci kehilangan, apa lagi kehilangan seseorang yang dikasihi. Ia kehilangan seorang badut yang sangat menarik bagi orang-orang, ia kehilangan pangeran bergitar, ada juga lucky boy yang tak pernah bersyukur, ada si anak pertama yang dapat dipercaya, juga si mata empat yang cerdik dan cerewet. Tapi tak ada yang lebih buruk bagi si angsa buruk rupa yang gila, dari pada saat ia nyaris kehilangan ayahnya.

Dan kemudian ia mulai belajar menerima, bahwa kehilangan bukan akhir bagi segalanya. Tuhan memang membuat segalanya datang dan pergi silih berganti. Lalu bulan dan matahari datang silih berganti tanpa dapat terhitung lagi, dan datanglah dia yang lain. Seorang malaikat tak bersayap, bukan malaikat penyelamat, hanya seorang malaikat penjaga. Yang saat ini sedang bertengger diantara pepohonan, menatapi siangsa buruk rupa yang gila yang sedang menatapi langit.

Seperti hembusan angin


Wahai hembusan angin...

Dapatkah kau membawa kegelisahan hati ini padanya...
Katakan padanya, aku merindunya. Berharap ia baik-baik saja disana, dan dapat terus tersenyum. Seandainya ia tahu, betapa besarnya harapan ini untuk berada disampingnya. Tapi kini, hanya mengetahui bahwa ia telah lebih kuat untuk menjalani hidup sudah cukup rasanya.

Pagi bukan milikku, tak dapat ku buat mentari yang hangat selalu menemanimu. Malampun bukan milikku, tak dapat kubuat cahaya bulan dan gemerlap bintang selalu menghiasi gelapmu. Tapi sebagian hati ini terisi olehmu, akan selalu ada ruang untukmu.
Wahai hembusan angin, taukah kau betapa takutnya aku...

Aku takut ia tak bahagia, aku takut ia terluka, terlebih aku takut ia merasa sendiri. Seandainya aku dapat menjadi sepertimu, aku akan berhembus ketempatnya dan membuatnya tak merasa sendirian lagi. Sayangnya aku hanya aku, yang hanya dapat berdiam disini. Yang bahkan tak dapat mendekatinya tanpa seizinnya.
Tetapi doaku bukanlah dosa. Aku harap Kau terus menjaganya, Tuhan.Aku yakin rencana-Mu lebih sempurna dan indah untuknya. Dan aku, besarkan hatiku, Tuhan. Berikan aku kekuatan untuk menjalani dan menerima segala rencana-Mu. Sesungguhnya aku hanya makhluk kecil yang tak bedaya tanpa seizin-Mu...

Rabu, 27 Februari 2013

Sebuah Rasa


Benci rasanya, saat menjadi lemah...
Saat tak dapat melakukan apapun untuk orang yang terkasih,
Saat tak mampu menjadi tumpuan baginya,
Saat hanya diam yang ada...
Tak sanggup memang ku memberikan semua inginnya,
Tapi akan ku upayakan segala yang ia butuhkan,
Semampu ku...

Ini adalah tentang sebuah rasa,
Rasa yang tak perlu seluruh dunia tahu jika itu pernah ada,
Rasa yang menjadi kekuatan untuk bertahan,
Rasa yang menjagaku dari kehampaan tak terbatas...
Rasa ini mengajarkanku untuk membuka mata ini,
Melihat dari sisi yang berbeda...
Rasa ini yang mengajarkanku untuk membuka telinga ini,
Mendengarkan lebih banyak...
Rasa ini menciptakan untaikan kata yang begitu indah,
Rasa ini membuat jantung ini berdetak dengan irama yang indah,
Karena rasa ini hidup bersama aliran darahku...

Baiklah, ini saatnya mengakui dosa...
Pada akhirnya harus ada yang dikorbankan demi sebuah ego yang lebih besar dari apapun yang telah dijaga. Kala aku memperjuangkan kebahagiaan, maka harus ada yang terluka. Dan kala aku merasa kalah, maka tak ada juga orang yang lebih bahagia dari ku.
Ini tentang dia, dia yang ku harap bahagia.
Saat aku mencoba membuatnya tersenyum, dibayang-bayangi kehilangan yang tak akan tergantikan oleh apapun. Rasanya nyaris mustahil. Disana semua kabut terlihat saling bertumpang tindih, tak jelas yang mana yang akan benar-benar menjadi jawaban. Karena terlalu banyak tanya, terlalu banyak kegelisahan, terlalu banyak ketidakpastian...
Dan akhirnya hanya doa yang dapat menjaga hati ini,
Semoga Tuhan menjaga hati-hati yang galau ini,
Semoga Tuhan memberi kekuatan bagi hati-hati yang sedang diuji ini,
Semoga Tuhan menjadikan hati ini lebih kuat, sabar, dan ikhlas untuk menanti rencana-Nya yang indah...

Berdamai dengan diri sendiri

Cinta.
Cinta itu...
Saat gambaran wajahnya terus muncul tanpa kita sadari.
Saat selalu ada maaf, bahkan sebelum ia meminta maaf.
Ketakutan tak beralasan dengan apa yang dipikirkannya...
Cinta itu begitu baik, dan juga kejam.
Ia datang setelah bertahun-tahun menjadi obsesi,
Ia memberikan kata-kata indah yang ingin kau dengar,
Ia menjanjikan kebahagiaan bersamanya,
Dan ia juga yang meninggalkanmu tanpa penjelasan apapun...
Cinta adalah kekasih dari kebahagiaan,
Cinta adalah sahabat bagi air mata,
Cinta adalah jiwa dari kehampaan...

Baiklah, mari kita bicara.
Saya tidak mencoba menggurui anda, tapi saya akan membantu anda belajar.
Ya, belajar untuk berdamai dengan diri anda dan mendengarkan hati anda.
Sekarang cobalah tenangkan diri anda, tarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Berilah kesempatan bagi diri anda untuk merasakan damai untuk sesaat, tutuplah mata anda dan dengarkan suara-suara yang ada disekitar anda. Dan katakan dalam hati anda, "Terimakasih Tuhan, Kau telah memberiku kekuatan untuk melewati hal-hal besar dimasa lalu."
Apa anda merasa lebih baik? Lebih baik dari sebelum anda menyadari bahwa hidup yang sedang anda jalani ini begitu berharga, dan sangat sayang jika anda sia-siakan. Jika belum, dengarkanlah satu lagu kesukaan anda. Nikmati iramanya, buat anda merasa bahwa andalah yang sedang menyanyikan lagu tersebut.
Mari kita mulai dengan kata CINTA...
Apa definisi cinta bagia anda?
Tak perlu terburu-buru, coba pikirkan definisi cinta seperti yang anda inginkan, dan bukan apa yang sudah dipikirkan orang lain seperti yang selama ini anda ketahui.
Saya yakin itu adalah hal yang sangat indah.
Sekarang, cobalah mengingat kembali kisah-kisah percintaan yang ada di film, dongeng, novel, atau mungkin komik yang pernah anda ketahui.
Saya sangat yakin, kisah apapun yang terlintas dalam benak anda adalah kisah hebat yang anda harap juga akan terjadi dalam hidup anda, atau sebaliknya anda berharap itu tak akan pernah terjadi pada anda.
Entah saat ini anda sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang spesial, ataukah anda sedang dalam masa kebangkitan dari jatuh yang sangat menyakitkan, atau mungkin anda sedang dalam masa pendekatan dengan seseorang.
Pertanyaan saya sama, siapakah orang yang sebenarnya anda cintai? Orang yang anda harap dapat membalas cinta anda, orang yang akan menjadi anugerah terindah dalam hidup anda, dan orang yang sangat sempurna untuk dicintai.
Satu nama, ya, hanya satu nama. Sebutkan nama itu dalam hati anda.
Sekarang kembalilah kuasai diri anda dari segala emosi yang mungkin sedang menghujani anda, apakah itu bahagia, sedih, marah, atau apapun itu. Kembalikan kedamaian dalam hati anda.
Jika sudah, sekarang saatnya kita berpikir.
Cobalah menjadi orang yang objektif, hilangkan emosi dalam jawaban yang anda berikan. Tetapi jangan terburu-buru untuk menjawab, izinkan hati anda mengutarakan jawabannya dengan lugas dan tegas. Akan lebih baik jika anda menuliskannya dikertas.
Orang itu, ya, satu nama itu. Apa yang mungkin terjadi jika ia benar-benar menjadi kekasih anda?
Berikan jawaban sebanyak mungkin yang bisa anda pikirkan.
Dan apa yang mungkin terjadi jika memang ia dan anda tidak dipersatukan?
Dan cobalah bandingkan hasil jawaban dari kedua pertanyaan tersebut, perbedaannya akan lebih terlihat ketika anda menuliskannya dikertas.
Saya yakin anda sudah dapat menilai diri anda saat ini. Apakah anda adalah orang yang realistis? Ataukah anda masih berbohong pada diri anda sendiri pada kenyataan yang ada?
Mungkin ada yang merasa bingung, baiklah, saya akan bantu menjelaskan.
Saat jawaban anda banyak yang tidak masuk akal, apalagi saat anda menjawabnya anda masih terpengaruh bayangan saat mengingat kisah percintaan yang ada di film, dongeng, novel, atau mungkin komik, mungkin anda adalah orang yang masih berbohong pada diri anda sendiri. Anda masih memungkiri kenyataan yang memang terkadang begitu kejam, dan terkesan tak adil. Anda belum dapat berdamai dengan diri anda, anda selalu memungkiri apa kata hati anda. Cobalah diingat, bahwa kata-kata orang lain tak akan merubah apapun dalam hidup anda tanpa ada tindakan dari anda. Mengapa harus menjadi seperti yang orang inginkan, mengapa tak menjalani yang anda anggap benar. Saat anda tak dapat memiliki seseorang, memang begitulah kenyataannya. Tapi bukan berarti anda tak layak bahagia, mungkin kebahagiaan itu hanya tertunda hingga anda benar-benar siap untuk mendapatkannya. Dan iapun akan menemukan kebahagiaannya, walau mungkin bukan dengan anda, tapi tidakkah anda merasa bahagia saat mengetahui bahwa ia bahagia? Dan, jika memang ia dan anda telah digariskan untuk bersama, biarlah cinta itu menemukan jalannya sendiri. Cinta menjadi istimewa karena bukan hal umum yang terikat pada aturan.
Dan bagi anda yang telah memberikan jawaban yang logis dan telah berbesar hati untuk menerima kenyataan, selamat bagi anda, karena anda telah dapat berdamai dengan diri anda sendiri. Anda dapat mempercayai hati anda. Anda akan siap untuk hal-hal besar, dan anda akan lebih siap untuk menerima makna cinta dalam bentuk apapun itu.
Tahukah anda, mengapa berdamai dengan diri sendiri dan mendengarkan hati anda menjadi hal yang penting?
Tidakkah anda menyadari bahwa saat ini manusia sedang diubah menjadi robot? Robot yang memiliki pikiran sama, tak perduli itu adalah hal yang benar atau salah. Robot yang memiliki aturan, bahwa hal-hal yang umum berarti normal, dan hal-hal yang tak biasa adalah hal yang aneh. Mengapa terlihat sama menjadi penting, jika itu hanya kata-kata orang lain yang bahkan hanya sebuah kata yang tak bisa menyakiti tubuh anda.
Jika anda berdamai dengan diri anda, anda akan menjadi lebih baik. Karena anda hanya akan menjadi anda dengan identitas anda, dan bukan anda dengan topeng yang umum. Layaknya cinta yang tidak akan menyakiti, apa lagi membunuh. Karena cinta lebih dari sekedar rasa bahagia, cinta adalah memahami, menghargai, menerima, melindungi, dan yang terpenting cinta adalah hidup.
Sadarkah anda, jika anda tidak mencintai diri anda sendiri maka untuk apa anda makan, minum, tidur setiap hari?
Ini adalah saran, cobalah memulai dengan mencintai diri anda sendiri. Dan anda akan tahu bagaimana cara mencintai orang lain, seperti anda mencintai diri anda sendiri.

Senin, 18 Februari 2013

Saya orang pertama



Let’s see..
Orang-orang selalu bilang kalau hidup ini seperti roda yang terus berputar. Mereka selalu bilang kalau kadang kita akan berada diposisi atas, tapi suatu saat kita akan berada diposisi bawah. Tapi mungkin mereka lupa menyebutkan, bahwa itu berarti suatu saat kita akan kembali pada titik nol (0). Sebutlah saat ini Gw sedang berada pada titik nol ini, tapi pada tingkat yang lebih tinggi. Karena roda kehidupan Gw terus menggelinding di sebuah tanjatan menuju tempat-Nya yang lebih indah.
Lucu rasanya kalau mengingat masa kanak-kanak kita yang mungkin konyol, atau mungkin memalukan. Inilah yang Gw dan temen-temen satu kelas semasa Sekolah Dasar (SD) Gw lakuin akhir-akhir ini, mengingat hal-hal menyenangkan yang tentunya akan menjadi hal bodoh jika kita lakukan diusia ini. Dunia ini pasti setuju kalau Gw bilang anak-anak hanya anak-anak dengan kepolosan dan keluguannya. Mereka bisa aja buang air besar tanpa mengenal ruang dan waktu, itu karena mereka hanya anak-anak yang mungkin masih berkembang kemampuan penguasaan oralnya. Mereka juga sangat boleh menangis karena alasan apapun, karena begitulah cara mereka mengekspresikan emosinya. Atau anak laki-laki bisa saja mengintip rok anak perempuan, karena memang rasa ingin tahu mereka sangat besar akan hal-hal baru. Bagaimana dengan cinta monyet? Ya lumrah saja, toh anak-anak belum bisa memahami dan membedakan mana perasaan kagum, hormat, atau hanya obsesi sesaat.
Ya, itulah sepenggal kenangan yang Gw dan teman-teman satu kelas Gw semasa SD bahas diawal-awal pertemuan keramat kita. Menjadi suatu kesenangan tersendiri saat kita bisa kumpul lagi sama temen-temen lama, yang sudah lama tak berjumpa apa lagi tak terdengar kabarnya. Gw sendiri gak tahu kenapa akhirnya ada pertemuan keramat, tapi yang jelas dimana ada kemauan disitu ada jalan.
Oke, begini ceritanya.
Mungkin setelah lulus SD, temen-temen Gw itu menjalani kehidupan mereka masing-masing. Ya mungkin ada beberapa yang masih terus bersama atau semakin dekat setelah beberapa lama, atau mungkin semakin menjauh karena satu dan lain hal. Dan Gw adalah salah satu orang yang termasuk dalam golongan orang yang semakin menjauh. Tapi masalah ini terselesaikan setelah menunggu hampir 9 tahun lamanya, semua karena jejaring sosial. Thank a lot to Mark for create FACEBOOK. Kalian pasti setuju kalo FACEBOOK adalah solusi dari masalah perbedaan ruang dan waktu. Dan dari sanalah semua berawal.
Ini tentang 3 orang teman sebangku saat SD. Orang pertama adalah pelupa akut, orang kedua adalah orang yang gak banyak berubah kemaskulinannya, dan orang ketiga adalah orang yang banyak berbicara dan banyak berbuat. Semua karena agenda wajib nonton bareng film Perahu Kertas 1 dan 2, akhirnya tercetuslah si pura-pura ninja. Seiring berjalannya waktu personil pura-pura ninja bertambah, orang keempat adalah kekasih tercinta orang ketiga, orang kelima adalah salah satu teman sekelas 3 serbangku yang udah tambah tinggi, dan orang keenam adalah teman orang ketiga. Quality time is everything, Gw rasa itu benar. 3 sebangku jarang bertemu, tapi saat-saat kumpul bareng mereka menjadi salah satu momen favorit Gw. Diawali dengan mengutarakan perasaan, kemudian bertukar pikiran, akhirnya tercetuslah gagasan yang melahirkan akun FACEBOOK Alumni SDN 4 Pan-Sel Kelas A.
Misi pertama 3 sebangku sukses, terlaksana sudah acara buka bersama ditahun 2012 lalu. Semakin banyak orang yang berkumpul, semakin banyak ide yang digagas. Dan terbentuklah sebuah kepanitiaan Reuni Alumni SDN 4 Kelas A. Pertemuan dengan member grup FACEBOOK Alumni SDN 4 Pan-Sel Kelas A inilah yang Gw sebut ‘pertemuan keramat’, tidak lain karena satu dan lain hal kita selalu ngadain pertemuan dimalam hari hingga dini hari. Sebenarnya sangat cocok dengan spesies Gw sebagai makhluk nocturnal, dan asik aja bisa melewati detik-detik pergantian hari dengan banyak canda tawa. And finally it’s coming. Hari yang ditunggu-tunggu datang, Reuni Alumni SDN 4 Kelas A akhirnya terealisasikan.
Sabtu, 16 Februari 2013 bertempat dikediaman keluarga Gilang pertemuan keramat dalam skala besar terlaksana dengan sukses. Oke, Gw adalah orang pertama dari 3 sebangku, si pelupa akut. Jadi udah ketebak banget kalo Gw gak bisa inget dengan pasti nama-nama dan jumlah orang yang dateng dipertemuan itu. Yang pasti dari target awal saudara Agus yaitu 30 orang peserta, ternyata dihari itu hadir lebih dari 30 orang yang menjadi tolak ukur bahwa pertemuan itu CUKUP BERHASIL… prok.prok.prok… Salut buat panitia yang udah kerja keras. But, wait wait!! Pasti kalian bertanya-tanya kenapa  jumlah peserta lebih dari 30 masih Gw sebut CUKUP BERHASIL? Itu karena jumlah segitu baru setengah dari jumlah teman satu kelas Gw semasa SD. Menurut penuturan saksi hidup, saat kami kelas 3 SD tercatat ada 60 siswa dalam satu kelas, sayangnya saat kelulusan kami tercatat tinggal 57 orang yang tersisa. Hemmm, kevalidan angka tersebut 75% karena ini ditulis oleh orang pertama.
Cerita ini terlihat dari sudut pandang Gw. Yang pasti hari itu adalah hari yang Gw tunggu-tunggu, karena hari itu adalah hari pembayaran hutang Gw. Karena kesibukan Gw yang sedang berusaha menjadi fotografer profesional, Gw kurang berkontribusi pada persiapan pelaksanaan pertemuan keramat itu. Semoga bantuan Gw didetik-detik terakhir ini cukup untuk membayar semua itu.
Hari itu Gw hadir di TKP cukup dini, yaitu pukul 16.30 yang berarti meleset dari permintaan awal pukul 15.00. Ya seperti seharusnya, semua panitia yang ada mengerjakan hal-hal yang perlu dikerjakan. Yang pasti Gw ingat adalah bahwa Gw adalah salah satu oknum yang merusak acara masak nasi, tapi Gw berhasil menjadi tukang es teh. Tepat seperti sebutan yang Gw berikan, pertemuan kramat, waktu yang semakin malam semakin menambah kemeriahan. Semakin banyak orang yang datang, semakin banyak obrolan dan celaan, dan banyak yang Gw lupa L Dari rencana awal ada acara main UNO, penampilan sesosok komik, dan acara nyanyi bareng, semua terlaksana dengan ya cukup baik. Sebelumnya maaf karena cerita ini sangat sistematis, karena merangkap sebagai Laporan Pertanggungjawaban (LPJ).
Malam hari permainan UNO tidak cukup meriah, karena hanya segelintir orang yang tergugah hatinya untuk memainkan permainan anak-anak. Tapi semakin larut, UNO menjadi pilihan terakhir untuk dilakukan. Oke, perlu dicatat, Yudi, Agus, Vivin adalah saingan berbahaya. Dan yang masih membuat Gw bersyukur sampai malam ini adalah bahwa beruntung tidak ada yang menggagas ide memberikan hukuman pada yang kalah, karena kalau sampa itu terjadi pasti akan menimbulkan trauma pada diri Gw. Itu karena Gw banyak kalah dimalam itu.
Bagaimana dengan penampilan sesosok komik? Hemmm, bagaiamana Gw harus menyebutnya ya… Sepertinya sangat garing menuju renyah. Semua penonton sepakat memberi tema ‘garing’ untuk joke-joke yang disampaikan komik. Tetapi terimakasih untuk saudara Hafiz, anda sangat menghibur dengan kegerogian anda. Tapi maaf, penonton adalah raja, jadi lain kali jangan biarkan penonton menunggu ya. Dan semoga anda berhasil mengikuti open mic, jangan lupa undang kami.
Dan acara nyanyi-nyanyipun cukup krik.krik… Tapi buat Hafiz dan Teguh, permainan gitar kalian KEREEEENNNNN. Gw dan Syifa bersedia menjadi murid kalian J
But over all it’s perfect. Dan poin penting buat Gw adalah, Gw berhasil menunjukkan pada dia, Gw lupa apa sebutannya, bahwa Gw bisa move on. Gw bisa angkat dagu Gw saat berbicara dihadapannya, Gw sanggup persalaman dan menatap matanya, dan yang terpenting Gw bisa menunjukkan kalau Gw adalah orang yang menyenangkan. Semoga Hafiz dan Syifa bisa cepat menyusul Gw untuk move on. J
Dan Minggu, 17 Februari 2013 kemarin adalah hari yang sangat membahagiakan untuk teman kami Yulis. Dihari pernikahan Yulis, kami tentu gak mau rugi, kembali diadakan pertemuan keramat. Sayangnya 3 sebangku gak lengkap. Cuma ada Gw malam ini, dengan harapan besar dan tekad sekeras baja. Oke, sebutlah Gw akhirnya memutuskan datang malam keresepsi itu dan tega membiarkan nyokap dan adek Gw jalan kaki kehujanan karena modus. Ya sebenarnya ini doa yang terdengar gak masuk akal. Curhat singkat sama Leni kemarin malam mencetuskan ide untuk berdoa bisa bertemu dia diresepsi Yulis, dia bukan oknum yang sama dengan dia dihari Sabtu, Gw pernah mengungkapkan perasaan Gw ke dia, walaupun kemungkinannya 1:100 untuk bisa bertemu malam itu. Tapi sudah jelas, tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan.
Saat mulai memasuki tenda resepsi harapan itu mulai pupus, sudah mulai tak berharap banyak dan hanya mensyukuri kebahagian bisa berkumpul bersama teman-teman. Tanpa diduga tertanya sudah ada sekumpulan teman-teman SMP Yulis yang sebagian juga Gw kenal duduk dibangku tamu. Sekilas ada dia, oknum lain yang dulu pernah pakai baju dengan tulisan dipunggung ‘Maaf Gw Udah Punya Pacar, Cantik Lagi’, ya kurang lebih kata-katanya seperti itu, tolong diingat bahwa penulis adalah orang pertama. Seketika itu juga Gw mulai kacau, Gw gak berminat mengamati sisi bangku yang lain apalagi mencoba mencari-cari orang yang mungkin Gw kenal. Tapi yang terlintas dalam pikiran Gw saat itu adalah bahwa Gw merasa bangga dan luar biasa senang karena bisa bareng sama personil pertemuan keramat, yang membuat Gw terlihat hanya seperti Gw dan gak perlu berpura-pura.
Detailnya gini, Gw dan personil pertemuan keramat dateng beramai-ramai dengan pastinya suara gaduh yang menarik perhatian orang. Oke, sebutlah ada Fahmi, Galih, Yudi, Syifa, yang bisa dibilang good looking dan jadi nilai plus buat gerombolan rusuh ini. Tentunya membuat Gw, terutama dimata temen-temen SMP, menjadi terlihat normal mengingat mungkin menurut mereka dulu Gw hanya orang yang biasa-biasa saja.
Dan waktu sudah cukup malam kala itu, harapan besar dan tekad sekeras baja ini mulai memudar dan Personil pertemuan keramat memutuskan untuk berpamitan pulang pada kedua mempelai yang berbahagia itu. Tapiii….. OMG, apa Gw bermimpi? Saat berjalan menuju mempelai Gw dan personil pertemuan keramat berpapasan dengan sekelompok teman-teman SMP yang tadi Gw lihat sewaktu datang. Dan dia ada diantara mereka. Saat itu Gw meledak, rasanya seneng luar biasa. Mungkin ekspresi wajah Gw gak karuan. Gw sangat berharap dia juga melihat kearah Gw saat itu, mungkin beberapa lama Gw terus menatap dia dan tersenyum lebar berharap dia akan melihat Gw. Dan diapun melihat kerah Gw, mungkin sedetik lamanya kami saling menatap. Gw menyengajakan diri berpapasan dengannya saat ingin memasukkan amplop kedalam kotak, dan berhasil. Kami berhadapan, dia sebut nama Gw… W.O.W Thanks God. Mungkin itu pertemuan singkat, tak kurang dari 30 detik saja, tapi itu adalah salah satu naskah drama yang sudah di acc Tuhan untuk terjadi dengan begitu indah. Tapi tepat dibelakang dia berdiri dia yang lain, dia yang pernah tertolak oleh Gw. Membuat Gw mengurungkan niat untuk berlama-lama menatapnya. Gw jelas salah tingkah. Dan kalian tahu hal bodoh apa yang Gw lakuin? Gw benar-benar gak sanggup menoleh kebelakang lagi, karena Gw dan dia berjalan ke arah yang berlawanan. Tapi Gw berharap dia akan tetap melihat kearah Gw. Dan akhirnya Gw melakukan hal bodoh itu. Saat itu orang yang Gw kenal sedang berdiri didekat Gw adalah yudi, dengan bodohnya Gw tepuk punggung Yudi dan bilang, “Gw duluan ya, daa..” Pikiran paling konyol saat itu, berharap dia dan temannya itu melihat dan berpikir bahwa Gw udah move on walaupun sebenarnya Gw gak tahu apa mereka bener masih melihat Gw atau gak. Arghhh….
Oke, that’s enough. Lanjut lagi ke pertemuan keramat, yang pastinya gak mungkin udahan begitu saja. Akhirnya kita lanjut ke rumah saudari Leni, sayangnya saudari Syifa tidak bisa ikut karena kurang sehat. Semoga lekas sembuh Syifa. Dan sesuai tebakan, pastinya saudara Leni sangat baik menjamu tamunya sampai puas. Gak tanggung-tanggung ada teh hangat 2 sesi dan banyak bungkusan kriuk menemani kami main UNO, ya UNO lagi. Tak lupa Gw ucapkan terimakasih buat temen-temen yang sudah kerja keras buat Reuni Alumni SDN 4 Kelas A kemarin, jadi ini sekaligus acara pembubaran panitia, kalau untuk Gw. Tapi sebenarnya Gw galau malam itu, makannya disela-sela main UNO Gw curhat colongan deh sama saudari Hafiz L Tapi ya sudahlah. Toh semua berakhir menyenangkan di pertemuan keramat. Dan sudah ketebak, kita bubar pasti lewat tengah malam. Dan hari itupun berakhir. Terimakasih Tuhan untuk semua kebahagiaan ini.
Huhhh… Tulisan ini cukup panjang, ya okelah, sangat panjang. Bahkan melebihi jumlah karakter saat Gw menulis cerpen. Tapi Gw merasa masih kurang, karena masih banyak hal yang belum diceritakan. Karena memang tak akan pernah ada cukup tinta untuk menuliskan naskah drama kehidupan ini. Biarlah hati ini terus merasakan bahagianya, otak ini mengingat gambarannya, dan bibir ini akan membuat seutas senyuman saat suatu hari nanti kita mengingat semua kenangan ini.

Naskah drama



Ini hanya sedikit kata yang dapat terungkapkan dari sebuah perasaan yang tak terbatas, sebuah penyesalan, ketakukan yang menghantui, banyak tanya yang tak perlu dijawab, dan rasa syukur yang begitu besar.

Ini adalah penggalan dari naskah drama yang sedang dan telah ku jalani. Karena hidup ini adalah sebuah panggung drama, dengan kisah yang tak akan ada habisnya. Dan setiap orang akan memiliki kisahnya sendiri, yang akan abadi tercatat dalam arsip Tuhan yang sempurna.

Ini adalah tentang hidup yang tak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Ini adalah kisah yang tak selalu bahagia. Dan ini adalah sebuah perjalanan yang tak seorangpun tahu dimana akan berakhir. Namun akan menjadi begitu munafik, saat kita menyebutnya sebagai sebuah kesialan. Apalagi berpikir bahwa Tuhan begitu tak adil.

Sebut saja ini adalah faktor sebab akibat. Saat kita tak mensyukuri pemberian Tuhan, maka tak salah jika Tuhan mengingatkan kita, tentu dengan cara-Nya. Sebuah ujian yang cukup berat menghantam ku kala itu, aku merasa begitu bodoh dan tak berguna. Aku terjerat sebuah kisah yang sangat memalukan, begitu sepele tapi tak dapat ku selesaikan sendiri. Dan itu menjadi beban bagi ku hingga hari ini. Itulah cara Tuhan mengingatkan ku.
Yang satu ini tentang sebuah kehilangan yang digantikan hal yang lebih indah. Ada kisah tentang seorang teman, yang belum cukup lama kehilangan sosok ayah. Entah ini telah berlangsung sebelum kepergian beliau, atau mungkin malah sesaat setelah kepergiannya. Tapi kehilangan itu menjadikan dia menjadi lebih baik, lebih baik dari yang sebelumnya pernah ku kenal. Membuatnya dapat mengucapkan kata maaf. Kata “maaf” yang terlontar darinya, telah meluluhkan semua amarah yang terpendam selama ini. Dan juga kehilangan ku akan seorang yang sudah sangat dinanti ketiadaannya. Karena beliau sudah begitu lelah dengan rasa sakitnya, beliau sudah cukup merasakan kerasnya hidup ini. Kepergiannya membebaskannya dari rasa sakit di dunia, ketiadaannya menghentikan beban orang yang mengasihinya. Dan memang seperti inilah seharusnya, semua berjalan beriringan dengan atau tanpa kita minta.

Bagaimana dengan sebuah kepercayaan yang berakhir dalam kekecewaan? Sepertinya itu adalah pertanyaan bodoh. Orang yang cukup memahami hidup ini pasti tahu jawabnya. Karena memang tak selalu kita dapat menggantungkan diri pada orang lain, dan mengapa kita harus berharap orang lain menjadi seperti ingin kita jika kita sendiri tak selalu menjadi seperti yang orang lain inginkan. Ini adalah sebuah pilihan, pilihan untuk menerima kenyataan atau memungkirinya dan terus menyalahkan orang lain. Selalu kita mencari-cari kesalahan orang lain, terus menyalahkan orang lain tanpa mau mendengarkan pembelaan mereka. Tapi kita lupa untuk menuduh diri kita sendiri, mungkin saja semua kesalahan berawal dari diri kita. Lalu mengapa tak berdamai dengan diri mu sendiri, dan mencoba melihat dunia dari sisi yang berbeda.

Rencana Tuhan selalu lebih indah dari pada yang kita inginkan atau bahkan pernah kita bayangkan. Tak ada alasan untuk membenci kehidupan ini. Tak perlu menentukan akhir kehidupan ini. Karena semua naskah drama ini sudah ditentukan Tuhan, hanya cara kita mencapainya yang akan bergantung pada pilihan kita. Akankah menjadi begitu menyakitkan pada prosesnya, atau menjadikan kita lebih siap menjalani akhirnya.

Kamis, 10 Januari 2013

Terima kasih dan maaf.

tik.. tok.. tik.. tok.. "Suara dentingan jarum jam mengapa terdengar begitu nyaring, akankah ini pertanda buruk?" Hanya itu yang terlintas dalam benak ku saat ini. Ruang tunggu rumah sakit ini menjadi begitu dingin, membekukan air mata, membuat oksigen semakin menipis untuk dihirup. Pintu kaca ruang operasi itu terlihat begitu suram, separuh jiwa ku berjuang melawan maut dibaliknya, dan aku hanya terdiam disini tak dapat berbuat apapun. "Tuhan, tolong berikan dia kesempatan sekali lagi. Tak perduli bagaimanapun yang telah berlalu, izinkan dia memperbaiki segalanya." Hanya doa ini yang mampu terucap, mulut ini seakan terkunci oleh ketakutan yang luar biasa.

Detik demi detik berlalu, menit terlewati tanpa dapat terhitung, tak terasa 6 jam sudah lampu merah penanda operasi sedang berlangsung itu menyala. Aku bangkit dari duduk ku, menepis ketakutan yang memenjarakan ku, dan seketika itu juga air mata ini menetes tanpa dapat terbendung lagi. Bip.. Lampu merah itu padam. Membuatku terpaku memandangi pintu kaca itu, kaki ku gemetar, napas ku terhenti sejenak. Aku tak dapat melangkah, tetap terdiam dan menanti. Dan pintu kaca itu terbuka, 2 orang berpakaian putih keluar dari sana, tapi tak ada sepatah katapun.

Dia adalah segalanya. Mengingatnya membuat ku menyesal, untuk semua yang telah ku lewatkan dan tak dapat terulang, untuk semua keangkuhan yang memisahkan kami, dan mungkin sebuah kata maaf yang tak akan lagi dapat disampaikan. Dia yang memberikan kehidupan bagi ku, menggadaikan nyawanya demi manusia baru yang mungkin akan membencinya, dia yang selalu menanti ku, dan hanya dia yang akan mengorbankan dirinya demi ku tanpa diminta.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi, kicau burung masih terdengar sayup-sayup, mentaripun masih enggan meninggi. Aku menggunakan seragam merah-putih ku bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ku pastikan semua buku pelajaran dan tempat pinsil sudah masuk kedalam tas, dan suara itu membuatku terdiam. "Sarapannya ada dimeja, ambil sendiri dan cepat berangkat!", hanya itu. Aku pun bergegas, dan menuju dapur. Ku buka tudung saji warna hijau kusam itu, hanya ada sedikit nasi dan setengah telur mata sapi yang entah siapa yang memakan setengahnya. "Habiskan, dan cepat berangkat!", suaranya tinggi dan penuh amarah. Semua berlalu begitu cepat, aku melangkahkan kaki keluar rumah dengan hati yang berkecambuk.

Dihari yang lain aku seperti enggan mendengar teriakannya, hilang sudah keinginan ku menjadi anak normal, "Bermain hanya akan membuatnya marah." pikir ku. Dan sepulang sekolah aku hanya berdiam diri dirumah, bermain dengan boneka-boneka tak bernyawa itu. Hingga rasa bosan tiba-tiba menghampiri, dengan bantal dan selimut ku tutupi telinga ku, berharap tak mendengar teriakannya dan hening yang ku dapat. Entah berapa lama aku tertidur, hingga sebuah bunyi pintu dihentakkan dengan keras mengusik ku. Seketika aku terduduk, dan dia pun membentak, "Kamu itu....!" Hanya itu, tapi berhasil membuat ku menangis tanpa sebab.

"Bangun, bangun.. Sudah jam 4, cepat belajar." Suaranya menjadi semakin familiar sudah hampir satu minggu ini, dan hari ini adalah hari terakhir ujian nasional ku di bangku Sekolah Menengah Pertama. Aku sudah mulai terbiasa dengan semua ini, aku lalu membasuh muka dikamar mandi dan bergegas mengambil buku pelajaran. "Belajar yang benar, dan habiskan tehnya, nanti keburu dingin." Hanya itu pesannya disetiap hari-hari ini. Aku memilih diam dan menuruti katanya, berharap tak akan ada teriakan dan aku tak harus pergi ke sekolah dengan hati yang penuh amarah. Aku tak pernah tahu apa yang ada dibenaknya, tak terlintas sekalipun untuk bertanya padanya. Dan hanya pikiran buruk yang akhirnya merundung ku, "Mungkin aku bukan anak kandungnya."

Dan hanya itu yang dapat ku ingat. Banyak hal terlupakan, mungkin karena begitu buruk hingga tak ingin ku ingat, atau memang tak ada yang perlu diingat. Hanya itu, ya, hanya itu. Aku seperti orang bodoh yang bahkan tak dapat mengingat pernah hidup selama ini, aku hanya aku dihari ini yang dapat ku ingat. Hingga peristiwa seminggu lalu membuat ku sangat ingin mengingat semua hal yang terlupakan itu. Pagi itu sama seperti pagi-pagi lainnya, semenjak memasuki Sekolah Menengah Atas aku menjadi semakin pendiam, mungkin karena itu juga dia menjadi lebih diam dari sebelumnya. Aku bergegas berangkat ke sekolah, tas sudah siap dalam gendongan ku, dan ku sempatkan membersihkan sepatu ku. Dan dia pun berkata, "Nanti pulangnya jangan malam-malam ya." Suaranya terdengar begitu lembut, mungkin suara terlembut yang pernah ku dengar sepanjang hidup ku. Jawab ku hanya singkat, "Ya." Tapi kata-katanya itu menyisakan tanya dalam benak ku, siapa dia? Apa yang sebenarnya terjadi?

Seorang berpakaian putih membuka pintu kaca itu sambil membuka masker berwarna hijau, lalu menghampiri ayah ku sambil membuka penutup kepala yang sepertinya terbuat dari kain yang juga berwarna hijau. "Kami sudah berusaha semampunya, namun beliau masih dalam kondisi kritis. Kita hanya bisa berdoa dan menunggunya sadar." Laki-laki paruh baya itu berbicara dengan intonasi yang tenang, tetapi wajahnya menunjukkan penyesalan yang mendalam. Entah karena ini adalah drama yang sering dia lakukan pada keluarga pasiennya yang lain, atau memang karena ada hal yang tidak baik sedang terjadi. Ayah ku terdiam, adik ku, kakek, nenek, dan semua keluarga yang sedang berdiri disana hanya dapat terdiam memandangi laki-laki berpakaian putih itu berjalan menjauh. Aku bahkan tak mampu mendekati pintu kaca itu, hanya suara meraung yang dapat ku dengar, dan pandangan ini pun buyar karena air mata yang menetes seperti tak akan pernah terhenti.

Aku mendapatkan satu kesempatan terakhir. Pagi itu setelah 3 hari tak sadarkan diri, dia akhirnya dapat membuka matanya. Seluruh keluarga datang menjenguknya, tapi hingga mentari hampir tenggelam pun aku masih tak berani menunjukkan diriku di hadapannya. Aku hanya duduk didepan pintu kamarnya sepanjang hari, dan tersenyum palsu pada semua orang yang hendak masuk menjenguknya. Dan dimalam yang semakin larut, koridor rumah sakit itu menjadi semakin hening. "Terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan." Hanya itu kata yang terus terucap oleh bibir ku. Hingga pintu kamar itu perlahan terbuka, dan nenek berkata, "Mungkin sekarang giliran kamu." Aku menarik napas panjang, bangkit dari duduk ku dan membuka pintu itu dengan penuh rasa menyesal.

Ruangan sempit itu berdinding putih, tirai jendela, kasur tempat tidur, selimut, dan semua peralatan medis berwarna putih yang terhubung dengan tubuh ringkih yang terbaring ditempat tidur dengan selang dan kabel-kabel berwarna merah-kuning. Hanya sebuah kursi dengan sandaran berada tepat disisi sebelah kanan tepat tidur yang berwarna hitam, hitam pekat hingga aku mengira kursi itu hanya memiliki satu rangka tanpa sambungan. Dan hanya ada dia sendirian disana, terbaring tak berdaya dengan wajah pucat pasi.

"Mama.." Suara ku begitu lirih, namun seketika itu mata yang tadinya terpejam itu terbuka perlahan. Dia menggerakkan kepalanya, menoleh pasti kearah ku, membuat ku tak dapat membendung air mata ini. "Gak apa-apa." Ucapnya dengan terbata-bata. Hening sesaat, kami hanya saling memandangi selama entah berapa lama. Hingga tiba-tiba terlihat seutas senyum dibibirnya. Ku raih tangannya yang tergeletak lemah dihadapan ku, aku bersimpuh disampingnya dan mencium tangan yang dingin itu. "Maafkan aku... Terima kasih..." Hanya itu yang dapat ku ucapkan, tapi aku sadar betul, itu tulus keluar dari hati ku. "Mama tahu." Ucapnya singkat.

Dan disini ku hari ini, berdiri didepan batu nisannya. Memandangi makamnya dengan background ratusan makam lain yang tak ku kenal siapa pemiliknya. "Akankah dia merasa kesepian disana?" tanya ku dalam hati. Air mata ini masih menetes, dan masih akan terus menetes untuknya.

Mama, maaf karena sudah sangat terlambat untuk mengucapkan terima kasih dan maaf untuk segalanya. Memang aku yang buta, aku yang bodoh. Kau begitu baik, begitu sempurna mengasihi ku. Tapi hanya benci yang dapat ku berikan pada mu.
Kau yang menahan perut yang perih, hanya agar aku dapat makan dengan layak.
Kau yang mengkhawatirkan ku lebih dari siapapun, saat keberadaan ku tak pasti.
Kau yang bangun lebih awal dari ku, hanya untuk menyampaikan doa yang begitu tulus hanya untuk hal terbaik untuk ku.
Dan kau yang terus merindukan ku, walalupun kita selalu bertemu.
Mama, akankah sebuah ucapan terima kasih dan air mata yang menetes ini dapat membayar semua itu? Kata maaf ku pun sepertinya bukan apa-apa, jika dibandingkan dengan berjuta maaf yang telah kau berikan pada ku, bahkan sebelum aku meminta maaf.
Terima kasih atas kehidupan yang telah kau berikan untuk ku, dan maaf karena belum sempat memberikan yang terbaik untuk mu.
Suatu saat aku juga akan menjadi seorang ibu, tapi akankah aku dapat menjadi ibu sebaik dirimu, ma?
Suatu saat kita akan bersama kembali dalam keabadian, dan disanalah aku kan berbakti pada mu dengan sempurna. Aku berjanji.