Ini hanya
sedikit kata yang dapat terungkapkan dari sebuah perasaan yang tak terbatas,
sebuah penyesalan, ketakukan yang menghantui, banyak tanya yang tak perlu
dijawab, dan rasa syukur yang begitu besar.
Ini adalah
penggalan dari naskah drama yang sedang dan telah ku jalani. Karena hidup ini
adalah sebuah panggung drama, dengan kisah yang tak akan ada habisnya. Dan
setiap orang akan memiliki kisahnya sendiri, yang akan abadi tercatat dalam
arsip Tuhan yang sempurna.
Ini adalah
tentang hidup yang tak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Ini adalah
kisah yang tak selalu bahagia. Dan ini adalah sebuah perjalanan yang tak seorangpun
tahu dimana akan berakhir. Namun akan menjadi begitu munafik, saat kita menyebutnya
sebagai sebuah kesialan. Apalagi berpikir bahwa Tuhan begitu tak adil.
Sebut saja ini
adalah faktor sebab akibat. Saat kita tak mensyukuri pemberian Tuhan, maka tak
salah jika Tuhan mengingatkan kita, tentu dengan cara-Nya. Sebuah ujian yang
cukup berat menghantam ku kala itu, aku merasa begitu bodoh dan tak berguna.
Aku terjerat sebuah kisah yang sangat memalukan, begitu sepele tapi tak dapat
ku selesaikan sendiri. Dan itu menjadi beban bagi ku hingga hari ini. Itulah
cara Tuhan mengingatkan ku.
Yang satu ini
tentang sebuah kehilangan yang digantikan hal yang lebih indah. Ada kisah
tentang seorang teman, yang belum cukup lama kehilangan sosok ayah. Entah ini
telah berlangsung sebelum kepergian beliau, atau mungkin malah sesaat setelah
kepergiannya. Tapi kehilangan itu menjadikan dia menjadi lebih baik, lebih baik
dari yang sebelumnya pernah ku kenal. Membuatnya dapat mengucapkan kata maaf. Kata
“maaf” yang terlontar darinya, telah meluluhkan semua amarah yang terpendam
selama ini. Dan juga kehilangan ku akan seorang yang sudah sangat dinanti
ketiadaannya. Karena beliau sudah begitu lelah dengan rasa sakitnya, beliau
sudah cukup merasakan kerasnya hidup ini. Kepergiannya membebaskannya dari rasa
sakit di dunia, ketiadaannya menghentikan beban orang yang mengasihinya. Dan memang
seperti inilah seharusnya, semua berjalan beriringan dengan atau tanpa kita
minta.
Bagaimana
dengan sebuah kepercayaan yang berakhir dalam kekecewaan? Sepertinya itu adalah
pertanyaan bodoh. Orang yang cukup memahami hidup ini pasti tahu jawabnya.
Karena memang tak selalu kita dapat menggantungkan diri pada orang lain, dan
mengapa kita harus berharap orang lain menjadi seperti ingin kita jika kita
sendiri tak selalu menjadi seperti yang orang lain inginkan. Ini adalah sebuah
pilihan, pilihan untuk menerima kenyataan atau memungkirinya dan terus
menyalahkan orang lain. Selalu kita mencari-cari kesalahan orang lain, terus
menyalahkan orang lain tanpa mau mendengarkan pembelaan mereka. Tapi kita lupa
untuk menuduh diri kita sendiri, mungkin saja semua kesalahan berawal dari diri
kita. Lalu mengapa tak berdamai dengan diri mu sendiri, dan mencoba melihat
dunia dari sisi yang berbeda.
Rencana Tuhan
selalu lebih indah dari pada yang kita inginkan atau bahkan pernah kita
bayangkan. Tak ada alasan untuk membenci kehidupan ini. Tak perlu menentukan
akhir kehidupan ini. Karena semua naskah drama ini sudah ditentukan Tuhan,
hanya cara kita mencapainya yang akan bergantung pada pilihan kita. Akankah
menjadi begitu menyakitkan pada prosesnya, atau menjadikan kita lebih siap
menjalani akhirnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar