Total Tayangan Halaman
INILAH KISAH KU
Facebook Badge
Rabu, 30 September 2015
Sabtu, 26 September 2015
Selamat Jalan Beriring Doa
Usianya sedikit lebih tua dari negara ini.
Hidup sederhana dan bersahaja,
Tahu bagaimana caranya bersyukur dan mencintai keluarga.
Tinggal di desa jauh dari kebisingan kota,
Hidup dari alam dan di alam.
Dia tua, tapi tak renta.
Dia tangguh layaknya pegunungan bebatuan kapur yang dia pijak sehari-hari,
Dia kuat menggendong aku dan adik ku kala kami kecil dulu,
Bahkan setelah letih memikul gundukan rerumputan seharian.
Dia tangguh,
Tangguh menghadapi terik yang membakar aspal jalan yang dia lewati bertelanjang kaki,
Tangguh menahan dahaga saat air tak seberapa yang dimiliki,
Dia tangguh merawat ternak walau harus mencari umpan berkilo-kilo meter setiap hari,
Dan dia tangguh menahan rindu melepas anak cucu merantau hidup di kota.
Dia salah satu pria hebat dalam hidup kami,
Yang tak akan segan untuk ku peluk.
Tapi Tuhan memintanya dari kami,
Tak terlalu cepat,
Hanya saja kami masih ingin lebih lama bersamanya.
Dia sakit,
Dan kami terluka merasakan sakitnya.
Tak tega rasanya,
Tapi akhirnya kami meminta Tuhan menyudahi sakitnya.
Dan inilah akhirnya.
Kami melepasnya.
Dalam diam, penuh doa.
Ternyata itu peluk cium ku yang terakhir kali untuknya.
Rasanya baru kemarin.
Tapi pasti dia sudah jauh disana.
Tak ada lagi dia yang sabar menunggui kami berkeliling di sawah,
Tak ada lagi yang akan berbagi mie ayam,
Tak ada lagi yang akan berteriak memarahi kami yang bercanda,
Tak ada...
Selamat jalan,
Pergilah dalam damai.
Kami ikhlas melepasmu,
Agar kau menyudahi sakit mu.
Kau akan abadi dalam kenangan kami.
Tapi setelah dewasa berkunjung ke makan beliau, yang bersebelahan dengan makan nenek dari bokap yang belum pernah gw temui karena meninggal saat bokap masih kecil, rasanya hati hancur sejadi-jadinya.
Menyesal belum bisa kasih kebahagiaan buat mereka.
Dan sekarang, saat ditinggal sama kakek dari nyokap. Yang sepanjang usia gw sampai beberapa waktu lalu, selalu kontek sama gw, rasanya lebih-lebih dari yang dulu.
Awalnya menyesal, karena memang meminta Tuhan menyudahi sakitnya yang berlarut dan memberinya tempat yang lebih baik. Tapi lalu jadi entah apa rasanya, takut dan terluka, memikirkan beliau tak lagi ada disaat-saat yang akan datang.
Memimirkan semua akan berubah tanpa dia rasanya sedih tak berujung.
Sungguh belajar ikhlah sangatlah sulit. Tapi ikhlas kami akan memudahkan jalannya ketempat yang lebih baik.
Tuhan sungguh luar biasa. Dia Maha Adil, Maha Kuasa, merancang skenario ini sebaik mungkin. Tak salah memasrahkan diri pada-Nya.
Ikhlaskan semua kehendak-Nya.
Walau gw tau semua orang akan meninggal pada akhirnya, tapi barang itu bikin orang meninggal dalam sakit yang berkepanjangan sebelumnya.
Kenapa harus ada barang itu di dunia ini.
Selasa, 08 September 2015
Terlalu Baik
"Awalnya semua baik,
Hingga telpon itu berdering, dan mama yang menerimanya."
Setahun yang lalu.
Adirahma, namanya.
Hanya wanita biasa, usia 20 tahunan. Wajahnya tak terlalu cantik, bukan berarti tak manis. Perangainya lembut, dan periang.
Kehidupannya baik. Keluarga yang baik, teman-teman yang baik, dan seorang kekasih yang baik.
Selepas kuliah, Rara, sapaan orang-orang disekitarnya, menemukan jiwanya di dunia kerja. Pekerjaan sebagai staf HRD sebuah perusahaan nasional membuatnya bekerja 8 jam sehari, wajar dan masih menyenangkan. Waktu kerjanya yang tak mencekik masih memberinya kesempatan untuk membagi waktu dengan keluarga, teman, dan Hari, kekasihnya.
Hingga suatu hari. Saat itu langit tak cukup panas, pendingin ruangan di samping meja kerja Rara pun masih berhembus sejuk. Tapi keringat membasahi sekujur tubuh Rara, dan membuat kemejanya lembab.
"Ra, kamu sakit ya?", tanya Iman rekan kerja di sebelah meja Rara.
"Kayaknya gitu, aku izin dulu deh." Jawab Rara singkat, sambil meraba mencari HP di sudut meja kerjanya.
"Ya, biar aku yang bilang ke Pak Azam. Kamu ke dokter aja sana." Iman bangkit dari balik meja kerjanya, mencoba menghampiri Rara yang mulai membereskan isi tas kerjanya.
Entah mengapa hari itu langkahnya membawa ia ke rumah sakit. Sepintas hal buruk mengelitik pikirannya, "Mungkin ada yang salah?", hatinya mulai bertanya.
Aneh rasanya, hanya pusing dan berkeringat tapi ia dirujuk ke dokter spesialis. Bahkan awalnya ia tak tau dokter spesialis apa yang sedang dia temui.
Singkat cerita, semua kembali normal. Hanya saja Rara sesekali murung dan menghilang, tak jelas apa yang dipikirkannya.
Hari itu Gina menelpon, teman baiknya sejak SMA itu memang jarang ia jumpai. Tapi mereka masih sering mengobrol via telpon atau jejaring sosial.
"Ra, lo jadi mau resign?", tanya Gina pada Rara.
"Iya. Tapi gak sekarang kok. Gw mau liburan, jadi mesti nabung dulu. Heheheh", jawab Rara santai.
"Udah ada plan mau cari kerjaan baru kan? Ya masa mau nganggur." Gina terdengar marah dari pada khawatir.
"Iya, iya. Mau wiraswasta aja deh. Makannya nabung dulu buat modal." Suara Rara agak goyah, menahan entah apa itu.
"Yaudah, besok gw agak senggang. Ajak Hari juga, kita ketemuan yuk?" Ajak Gina.
"Kayaknya Hari ada kerjaan lembur deh besok. Gimana kalau berdua aja? Lo temenin gw?", pinta Rara.
"Kemana? Yaudah kalo gitu. After lunch ya kita pergi." Gina mengiyakan, masih menerka kemana tujuan Rara akan mengajaknya.
"Sip, nanti gw jemput lo ya. Naik taksi aja. Gw lewat depan kantor lo." Jelas Rara.
Lalu berbulan-bulan kemudian, Rara dan Gina masih sering pergi bersama.
Namun tidak halnya dengan Hari. Karena kesibukan Hari, ia dan Rara semakin jarang bertemu. Tapi Rara selalu menghubingi Hari, memastikan jadwal rutin olahraganya, mengingatkan makan siang, sesekali bertanya tentang pekerjaannya.
Dan sesekali Rara dan Hari bertemu. Makan bersama, nonton film, atau bersepeda bersama.
Dan ini adalah satu bulan sebelum hari itu. Sebelum ibu Rara menerima telpon itu.
"Ra, kamu udah jarang keluar sama Hari ya?", tanya ibu Rara.
Rara yang sedang menonton TV hanya diam, membuat ibu yang duduk disebelahnya semakin gencar bertanya menuntut penjelasan.
"Berantem?", desak ibunya.
"Gak putus kan?", ibunya semakin mendesak.
"Come on ma, ini minggu. Jangan mikir berat-berat. Nanti ngantuk loh.", gurau Rara sekenanya.
"Berarti ada masalah kan?", ibunya tetap bersikeras.
Lalu diam sesaat. Ibunya memberi Rara kesempatan berpikir. Dan memang Rara sedang berpikir keras, menyusun kalimat yang tepat.
"Ma, ada orang yang terlalu baik buat kita. Tapi dia tidak benar-benar diciptakan untuk kita.", suara Rara bergetar menahan emosi. Entah emosi macam apa itu.
Ibunya masih terdiam. Mencoba mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan anak sulungnya itu.
"Dia baik. Hubungan kami baik. Jadi semua teralalu baik." Lanjut Rara.
"Mungkin kamu bosen Ra." Ibunya coba menerka.
Diam yang lama. Membuat ibu dan anak itu hanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Kamu udah coba bilang ke Hari? Dia pantas mendapatkan penjelasan dari kamu kan?", hanya kalimat itu yang terpintas dari ibunya.
"Iya. Rencananya sore ini aku ketemu dia kok. Tenang aja ma." Rara mencoba memberi bengertian ke ibunya.
"Tapi janji jangan sakitin perasaan dia ya. Dia baik loh Ra." Pinta ibunya.
"Iya ma. Tenang aja. Makannya aku mau buat ini mudah buat dia." Dan tiba-tiba Rara memeluk ibunya.
Sore itu langit merona, anginpun berhembus lembut menyejukkan. Menyeka keringat Rara yang mulai lelah mengoes sepedanya.
"Nih. Gak ada jus disana, soft drink semua. Air putih aja gak apa ya?" Hari mengulurkan tangannya memberi sebotol air mineral yang tampak akan menyejukkan bagi Rara.
Mereka duduk memandang senja. Membiarkan bayang orang-orang berlalu. Mendengarkan canda anak-anak di taman.
Diam. Dan hanya diam untuk waktu yang lama.
"Ri !", Rara mencoba mengumpulkan keberaniannya.
"Mama bilang kamu baik."
"Ih apaan sih, kode banget." Hari tersipu.
Hening. Mereka hanyut dalam lamunan senja yang membuat hari demi hari berubah menjadi gulita.
Rara meyakinkan dirinya sendiri, akan apa yang akan dia lakukan.
"Orang baik, pasti berjodoh dengan orang baik juga tau Ri." Rara menutupi ketakutannya dengan ledekan.
"Kamukan orang baik." Sela Hari.
"Tapi mungkin aku gak sebaik itu makannya Tuhan mau jauhin kita, atau mungkin karena aku terlalu baik makannya Tuhan sayang banget sama aku." Kalimat panjang tanpa jeda itu mengalir begitu saja dari mulut Rara.
Hari masih mencoba mencerna apa yang dimaksud Rara. Diapun meraih tangan Rara, dan berkata nyaris tak bersuara, berbisik ditelinga Rara, "Apapun maksud kamu, aku akan ada di sisi kamu sampai akhir."
Hanya itu, dan senja kala itu menyisakan tanya yang mengganggu tidur mereka di malam-malam selanjutnya.
Dan hari itu tiba.
Setelah akhirnya Rara mendapatkan pekerjaan baru. Namun sering kali menghilang tanpa kabar.
Dan setelah perbincangannya dengan Hari yang tak tertuntaskan. Juga susah payah membujuk ibu tercinta untuk mengizinkannya berlibur entah berantah sendirian.
Hari ini genap satu bulan kepergian Rara, sejak dihari dia berpamitan untuk pergi berlibur.
Kabar tak kunjung datang. Keberadaannya tak juga ada yang tahu. Akhirnya telpon rumah Rara berbunyi.
"Halo, selamat pagi." Sapa orang di seberang sana.
Ibu Rara nyaris terdiam mendengar suara asing di telinganya itu.
"Maaf, betul ini kediaman Adirahma?" Pertanyaan yang menyadarkan ibu Rara dari lamunannya.
"Ya, betul. Ada yang bisa dibantu?" Ada khawatir dalam tanya ibunya. Namun hanya sabar yang ada untuk menanti penjelasan orang diseberang entah berantah sana.
"Mohon maaf sebelumnya ibu. Kami dari rumah sakit." Tangan ibu Rara bergetar menerka apa yang akan dikatakan orang di seberang sana selanjutnya.
"Saya dokter yang menangani Rara. Saya minta maaf kepada ibu karena tidak cukup keras meyakinkan Rara untuk memberitahukan semua sejak awal." Terdengar suara laki-laki dengan nada menyesal di seberang sana.
"Dokter? Maksudnya?" Ibu Rara meyakinkan dirinya sendiri dengan bertanya kembali.
"Mungkin sebaiknya ibu datang ke rumah sakit. Saya akan menjelaskannya di sini." Pinta laki-laki yang mengaku dokter itu.
"Mungkin lebih baik saya tau kondisi anak saya dulu, agar saya lebih yakin apa yang sebenarnya terjadi." Ibu Rara menuntut penjelasan.
"Mohon maaf ibu, yang pasti Rara sedang dalam penanganan intensif kami. Saya akan jelaskan semuanya saat ibu tiba di sini." Diam sesaat, menanti jawaban ibu Rara.
"Baik. Dimana? Saya kesana." Suara parau ibu Rara mengakhiri percakapan singkat di telpon. Gemetar, rasanya tak dapat dibayangkan betapa menakutkannya harus menerka apa yang menimpa anaknya.
Tok. Tok. Tok
Ada yang mengetuk pintu rumah. Tak lama berselang Hari masuk, dan mendapati ibu Rara duduk termenung di ruang tamu. Dengan wajah yang pucat, dan tangan gemetar mencoba mengembalikan gagang telpon di tempatnya.
Setengah berlari Hari mencoba menghampiri wanita paruh baya yang sudah dia anggap ibunya sendiri itu, "Tante kenapa?"
Diam sesaat yang di dapat Hari. Hingga akhirnya ibu Rara membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegap.
"Gak apa. Kamu kenapa kesini?" Sekilas senyum simpul sempat terlihat di wajah ibu Rara.
"Tante yakin gak apa-apa?" Hari masih mencoba meminta penjelasan.
"Iya gak apa. Kamu ada apa?" Sekali lagi ibu Rara meyakinkan. Kali ini meraih tangan Hari, layaknya seorang ibu meyakinkan anaknya.
"Tan, pokoknya kalo ada apa-apa tante bilang ke aku." Hari menggenggam tangan ibu Rara lebih erat.
Hanya senyum kecil diwajah pucat ibu Rara sebagai jawabannya.
"Tante. Rara jadi ganti mobil atau gimana? Aku lewat deler, dan kata orang sana mobil Rara sudah dijual di sana sebulan lalu." Hari menjelaskan dengan nada khawatir dan berharap penjelasan.
Lagi-lagi diam yang di dapat Hari.
Dan akhirnya ibu Rara bangkit dari duduknya.
"Kamu bisa anter tante kan? Sebentar tante siap-siap." Lalu ibu Rara beranjak memasuki kamarnya.
Hari hanya bisa terdiam. Mencoba menerka apa yang terjadi.
Sepanjang perjalanan Hari benar-benar hanyut dalam pikiran buruknya. Tak habis pikir apa yang menantinya di rumah sakit. Dia bingung harus menuntut penjelasan pada siapa. Sedangkan ibu Rara yang duduk disampingnya hanya memandang kosong ke jalan, dan sesekali nemeteskan air mana. Tak tega betul diq sekedar bertanya akan apa mereka ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit.
Entah mengapa lorong rumah sakit hari itu nampak sepi. Udara dinginpun berhembus entah datang dari mana. Ibu Rara jelas tergesa-gesa, hingga Hari harus setengah berlari mengimbangi langkahnya.
Dan di ujung lorong itu Gina berdiri menanti. Tampak gelisah dan bingung.
Ada laki-laki tua berbaju putih disebelahnya, nampak seperti dokter.
Bahkan tanpa menyapa Gina, ibu Rara melewati Gina berjalan mengikuti laki-laki itu masuk ke pintu dengan tulisa Dokter Spesialis.
Dan Hari berhenti tepat dihadapan Gina. Menuntut penjelasan.
"Maaf bu, saya merasa sangat bersalah. Sudah sangat terlambat saya memberi tahu ibu." Dokter coba memulai percakapan dengan ibu Rara.
"Hampir setahun yang lalu saat Rara datang pada saya pertama kali. Dia nampak sehat, bahkan sangat sehat untuk orang diusianya." Dokter memberi kesenpatan ibu Rara untuk berpikir mengingat setahun lalu.
Mungkin saat Rara mengeluh sakit, dan pulang kerja lebih awal setelah kedokter, pikir ibu Rara.
"Tapi setelah medical checkup ternyata ada yang salah. Saya kira dia memiliki kelainan sel darah merah. Kami pun mulai melakukan tes lab mendalam. Ternyata ada sel kanker di darahnya. Dan sejak saat itu kami mulai lebih sering bertemu untuk terapi." Jelas dokter.
Hanya diam ibu Rara yang di dapat dokter, tak ada tanggapan apapun.
"Kami mulai kemo delapan bulan yang lalu. Saya terus meyakinkan dia untuk memberitahukan hal ini ke keluarga. Bahkan saya berjanji akan membantunya menjelaskan kepada ibu. Tapi hanya Gina yang dibawanya hingga saat ini." Dokter menghela napas panjang. Sekan merasa bersalah, merenggut nyawa Rara dari ibu yang memberinya kehidupan.
"Segala macam cara saya lakukan untuk meyakinkan dia. Tapi dia tetap kukuh akan sembuh tanpa perlu ada yang tau penyakitnya. Bahkan saya katakan bahwa biaya yang dibutuhkan tidak sedikit, paling tidak keluarga bisa meringankan. Tapi dia bilang biaya tidak masalah. Saya perlu menjaga kondisi spikis dia untuk proses penyembuhan, akhirnya saya berhenti meyakinkannya."
Ibu Rara masih termenung, mencoba mencerna apa yang dijelaskan dokter.
"Dan akhirnya sekitar sebulan yang lalu kami sepakat untuk melakukan cangkok sumsum tulang belakang. Dan kebetulan ada donor yang cocok diluar keluarga. Dan kami mulai perawatan." Dokter yang sudah renta itu mengnyeka air di sudut matanya.
Ibu Rarapun mulai meneteskan air mata.
"Tapi keyakinannya untuk sembuh tidak sejalan dengan kondisinya. Dari hari ke hari dia memburuk. Operasi tak kunjung dapat dimulai. Hingga kami berkonsultasi dengan rekan dokter kami di Singapur untuk membantu operasi. Masalahnya Rara tidak dapat dia bawa keluar dalam kondisi ini. Dan mereka tidak dapat menanganinya sekalipun disini, karena kondisi Rara yang memang tidak mendukung."
Kali ini air mata ibu Rara tak dapat lagi terbendung. Habis sudah harapannya melihat putrinya pulang dengan tersenyum setelah liburan.
Liburan macam apa di rumah sakit. Tak habis pikir Rara membunuh dirinya perlahan tanpa seorangpun disisinya.
Ingin rasanya Ibu Rara menggantikan tempat Rara.
"Sayang, kamu sangat baik untuk aku. Itu sebabnya Tuhan sangat sayang sama kamu. Maaf aku gak bisa penuhi janji ku untuk sampai akhir di sisimu. Tapi bolehkan aku anggap mama seperti ibu ku sendiri. Karna walau kamu gak menjadi istri ku, aku mau kamu jadi keluarga ku. Aku mau kamu tetap jadi bagian hidup ku. Selamanya."
-SEND-
Hari mengirim pesan ke HP Rara. Meskipun dia tau Rara tak lagi dapat membukanya. Tapi dia berharap Rara menerimanya di surga.
Dan hari itu langit di pemakaman sangat teduh. Rintik gerimis membawa jiwa-jiwa penuh duka hanyut dalam doa. Melepas orang terkasih di tempat peristirahatannya.
TAMAT
Minggu, 26 Juli 2015
Need fresh air
Bukan tak mau menyelesaikan si teman lama (baca: skripsi), tapi kami sedang dibatas.
Jadi tak salah rasanya sejenak memutuskan rehat.
Kami masih berusaha, berusaha keras.
Dan akan berusaha bersama menyelesaikannya.
Keep spirit for us, we will found the finish line together.
Sabtu, 06 Juni 2015
Contoh yang buruk
Well,
Hari ini sedikit menyesal.
But first, if you know me, you'll never judge me as a selfish person when read this.
Karena lo tau, gw bukan orang yang akan biarin ibu hamil, anak-anak, atau lansia berdiri di Traja sesangkan gw enak-enakan duduk.
Gw juga bukan orang yang akan marahin adek gw yang jatuh waktu latihan naik sepeda, gw akan bilang ke dia, "Lain kali hati-hati. Besok latihan lagi ya."
Katakanlah hari ini gw agak kurang mujur.
Singkat cerita, gw yang belum lama pulang kerja akhirnya cekcok sama ibu-ibu yang membonceng dua anaknya. Gw jelas bukan orang yang akan naik pitam tanpa dipancing. Sialnya hari ini mungkin gw lelah, banyak pikiran, dan akhirnya terpancing.
Sebenernya ibu itu tau dia salah, dan coba minta pengertian gw. Sayangnya gak dibarengi dengan etikat yang baik, nada suaranya tinggi dan menggeber motor berknalpot racingnya tepat didepan pintu rumah gw. Lo tau kan, knalpot racing itu melanggar peraturan, dan lo pasti tau kenapa itu.
Gw jelas emosi. Dan mulai ikut menaikkan nada bicara gw. Beruntungnya, gw adalah orang yang ketika marah akan menggunakan kata-kata yang formal (baku). Jadi gw gak teriak-teriak seperti orang tak punya sopan santun.
Jelas-jelas gw bilang, "Hati-hati bu naik motornya, semoga selamat sampai tujuan."
lah dia malah teriak-teriak sambil nunjuk-nunjuk kearah gw dan bilang, "Jadi mba doain saya mati!"
WHAT!!! Ini siapa yang bodoh sih. Kapan gw bilang biar dia mati.
Alhasil gw dipisahin adek, nyokap, dan om gw.
Kalo lo mau tau. Gw sama sekali gak merasa bersalah. Karena memang dia yang salah. Dan dia gak berusaha menunjukkan niat baik kalau menyesal atau minta maaf.
Tapi satu-satunya hal yang bikin gw gelisah adalah, gw menyesal karena bertindak seperti tadi didepan dua anak ibu itu, adik gw, dan sepupu gw yang masih kecil.
Gw menyesal karena membuat anak ibu itu belajar dari ibunya, kalo saat berbuat salah tak mengapa menjadi lebih marah dan berkata kasar.
Gw nyesel banget. Gw gak bisa ulang waktu untuk mencegah hal itu terjadi.
Apalagi waktu inget wajah salah satu anak ibu itu yang sampai berkaca-kaca matanya. Entah karena lihat kelakuan gw dan ibunya, atau memang sudah begitu sebelumnya.
Maafkan saya anak-anak. Saya tidak bisa menjadi contoh yang baik.
Tuhan, tolong hapus ingatan buruk ini dari otak mereka. Jangan biarkan mereka belajar menjadi kasar dan bodoh.
Kamis, 04 Juni 2015
Sang Pemimpi.
Aku adalah seorang pemimpi yang ulung.
Impian ku begitu tinggi. Begitu indah.
Namun tak jarang akun harus mengurungkan impian itu. Bukan karena menyerah. Tapi sedikit mengalah pada realitas.
Terkadang impian itu begitu dekat. Bahkan aku dapat melihat dengan jelas jalan untuk meraihnya. Aku yakin dapat mencapainya dengan usaha yang gigih.
Tapi dengan mudah juga aku menemukan alasan untuk menundanya. Atau mungkin tetap membiarkannya sebagai impian.
Meski begitu aku tak pernah berhenti bermimpi. Bahkan impian itu menjadi semakin tinggi dan banyak.
Bukankah bermimpi membuat mu optimis pada masa depan yang abu-abu?
Impian ku saat ini,,
Menyegerasa menyelesaikan studi. Bekerja di gedung itu, salah satu gedung pemerintah di bilangan Senayan. Dan memakai seragam.
Sederhana. Dan aku tau caranya.
Semoga Tuhanpun memudahkan mencapai impian itu.
Selasa, 02 Juni 2015
May I ? . . .
Aku iri pada angin yang bebas membelai mu.
Aku iri pada air yang menghapus dahaga mu.
Bisakah aku menjadi selimut yang menangkal dingin untuk mu?
Atau mungkin menjadi sehelai saputangan lusuh yang akan menghapus keringat mu dihari yang terik..
Ini adalah rasa yang tak dapat lagi diungkapkan. Karena sudah mengakar jauh entah dimana pangkalnya.
Tapi mestinya rasa ini tak melebihi kecintaan ku pada-Nya. Maka tak salah aku minta Dia yang menjaga mu.
Wahai Tuhan yang maha membolak balikkan hati. Bisakah aku menjadi lebih kuat? Pinjamkan aku sedikit kuat mu. Untuk menjaga orang-orang yang ku kasihi.
Karena aku benci menjadi lemah. Benci tak dapat berbuat apa-apa.
Tuhan, bisakah malam tak menjadi terlalu dingin agar mereka dapat tidur dengan nyenyak. Dan siang tak terlalu terik agar kerongkongan mereka tak tercekik karena kering..
Mereka, dia, adalah alasan. Alasan untuk melakukan yang terbaik. Mengusahakan hingga detik terakhir. Alasan untuk terbangun diesok hari.
God,, May I wish a better life for they...
And for him...
Senin, 18 Mei 2015
Bagian 8 - Our...
Dia seperti jawaban akan doa yang dulu selalu terucap.
Tapi apa terlalu cepat menyimpulkan. Bagaimana kalau dia didatangkan Tuhan hanya untuk sementara, lagi-lagi sebagai pelajaran.
Entah lah..
Datangnya dia seperti air yang menghapus dahaga. Benar-benar mengisi kekosongan hati dan memberi banyak tawa, dan pelajaran.
Dulu entah ingin berbagi pada siapa, kini dia mestinya tempat berbagi segala hal.
Entah kapan itu saat alasan tak ada untuk menguatkan, kini dia memberi alasan untuk membuktikan.
Dulu air mata adalah teman yang setia, kini karnanya air mata hanya jadi pilihan terakhir.
Tapi dia begitu mahal, dia begitu jauh. Sulit mendapatkan waktunya yang berharga itu, aku harus menebusnya dengan harga yang mahal. Jiwanyapun jauh entah berantah, meski raganya ada tepat disisi ku.
Dia sibuk mengejar impian yang telat dia sadari. Dan aku harus bersabar menanti agar bisa menjadi impiannya.
Tuhan, bagaimana kalau dia dijauhkan lagi saja? Aku pernah menunggunya sangat lama, dan menyakitkan. Jadi harusnya tak mengapa kalau aku harus bersabar lagi menunggunya.
Tapi Tuhan, apakah itu bijak. Bukankah waktu bisa merubah orang, bagaimana kalau setelahnya semua tak lagi sama? Sanggupkah kami?
Tuhan, ataukah ini cara mu mendidik ku agar bersabar? Sungguh sulit mengikhlaskan sebuah impian.
Baiklah diri ku, mari kita bicara.
Kau sudah sangat luar biasa dapat melewati segala hal. Kau sudah teruji tangguh. Jadi jangan biarkan hal-hal bodoh mengalahkan mu.
Cepat cari pijakan, dan bangkitlah.
Kau harus mulai lagi pendidikan yang kau abaikan. Bekerjalah sungguh-sungguh agar kau dapat menimbun pundi-pundi untuk berlibur dengan adik mu.
Biarkan semua berjalan adanya. Karena kau bukan Tuhan yang dapat memenjara hati orang lain.
Tuhan akan jaga dia yang memang pantas untuk mu.
Pantaskan saja dulu diri mu. Karena kau tak akan dapatkan apa-apa hanya dengan meratap.
Rabu, 15 April 2015
Pict
Selasa, 14 April 2015
SAYA
W.O.W.. finally setelah 2 tahun ngaret masih aja gw belom bisa lepasin status mahasiswa gw. Lama aja. Kalo kredit motor mungkin udah kelar, bisa kredit mobil malah. Hahahaha
lucu aja. Buat seorang gw. Penundaan selama itu kayak lagi nguji kesabaran dan muter otak sekeras-kerasnya.
Apa susahnya. Ya gak susah. Mungkin jalan gw lain dari yang lain. Mungkin Tuhan berkehendak lain. Siapa yang tau.
Tapi gw rasa saat gw kurang mulus di satu bidang, berarti gw harus lebih baik dibidang lain. Pekerjaan contohnya. Walau secara finansial gak terlalu menjanjikan. Apa sih yang bisa gw dapet cuma dengan bermodal ijaza SMA. Walau SMA terbaik sekalipun.
Ya sekarang motivasi kelulusan gw cuma "realistis". Realistis kalo dengan tittle S1 bisa bikin gw dapet pekerjaan lebih baik. Dangkal banget yak. Biarin aja. Gw ini yang jalanin. Kenapa yang lain repot.
So gimana dengan ilmu yang gw dapet. Pasti bermanfaat kok. Minimal jadi bekel gw buat jadi ibu yang baik (kode).
Doa. Usaha. Ikhlas. Cuma itu yang gw punya sekarang.
Gak mungkin sih gw bisa nikmatin proses sepahit ini. Tapi ya sudah lah. Biar perlahan dan selesai.
Sabar ya gw, gw emang payah kalo masalah yang satu itu. Tapi gw keren kok dibidang lain. Hahahahaha mulai gila ngomong sama diri sendiri.
Bagian 7 - Tiket
Hahahaha ternyata aku memang gak bisa untuk gak upload foto tiketnya :)
What ever they say about us,
That is just words.
And words can't kill us.
So, just ignore that.
Karena aku selalu suka saat kita melangkah bersama menuju ke satu titik. Rasanya akan selalu ada alasan untuk terus melangkah. Karena akan ada titik-titik yang lain yang akan kita datangi.
Masih tetap berharap di tahun ini bisa liburan besar (budget besar, wisata besar), semoga bisa sama kamu juga.
Seneng juga akhirnya ada yang mau nemenin sepedahan. Walau awalnya kamu suka tepar sehabisnya. Tapi sekarang kita berani ambil trak jauh. Jauh kalo buat aku. Asal jangan pernah kamu ajak aku sampe Bogor aja.
Kita punya tujuan. Tujuan yang baik. Tuhan pasti akan memudahkan kita mencapai tujuan yang baik itu.
By the way, kapan yang kita bakal akhiri annive pacaran. Hahahahaha kode :p
Kamis, 12 Maret 2015
Remember
Membahagiakan mereka sebelum pergi,
Atau membiarkan mereka bahagia tanpa dirimu sebelum pergi..
Rabu, 11 Maret 2015
Masih Sama...
Rasanya masih sama,
Takut. Bingung. Kesal. Menyesal. Tak ada pilihan.
Sama seperti bertahun silam. Saat aku merasa ada monster jahat yang diam-diam ingin menghentikan detak jantung ku.
Rasanya masih begitu. Sakit. Sangat menyakitkan.
Tapi ada bedanya. Dulu mungkin aku nyaris menyerah, lelah pada rasanya. Dan memilih membiarkan. Tapi kini rasanya aku ingin berjuang melawannya. Karena aku melihat orang lain yang juga melawan, karena mereka memiliki alasan. Dan aku rasa kini alasan itu juga ada pada ku.
Tuhan, boleh aku minta waktu. Bukan hanya sedikit. Aku mau lebih banyak, dan lebih banyak lagi. Aku ingin melihat mereka, dan aku ingin mereka melihat ku.
Sekali lagi, ini jadi kalimat yang akan selalu aku ingat, "JIKA ESOK ADALAH HARI TERAKHIR KU, AKU HANYA TIDAK INGIN MEMPERBURUK KEADAAN."
Selasa, 17 Februari 2015
Ahh sudahlah..
Ahh, bohong kalo gw bilang "Gak apa-apa."
Nyatanya gw luar biasa tertekan.
Pekerjaan. Tugas akhir. Tuntutan keluarga. Hubungan yang merenggang...
Mungkin Tuhan memang begitu sayang sama gw, mempercayakan begitu banyak masalah ke gw. Nikmati prosesnya.
Saat itu mungkin kami (gw dan dia) sedang sama-sama lelah, dan jenuh kalau kata si blo'on Barry. Gw mulai gak yakin dengan hubungan kami. Tapi dia seperti berusaha menguatkan dengan pendekatan ke keluarga satu sama lain. Itu cukup buat gw mengelus dada.
Dan sampai tiba kemarin, untuk pertama kalinya dia punya keinginan kuat akan suatu hal. Jelas dia berharap kami serius, lebih serius lagi. Dia bilang kami harus lulus (kuliah) tahun ini. Kemauan kerasnya cukup menguatkan gw untuk ikut semangat menyegerakan lulus.
Tapi kata-katanya barusan buat entah bagaimana gw drop, se drop dropnya. Dia bilang, "Aku akan lebih sibuk bulan depan, aku mau fokus." Kurang lebih begitu. Intonasi bicaranya santai, tak ada penekanan. Tapi terdengar di telinga gw seperti bentakan. Entah kenapa yang gw tangkep malah, 'Aku gak mau diganggu, jadi jangan bawel.' Semoga gw salah.
Ahhh susahnya jadi gw, perasa dan punya cara berpikiran yang aneh. Dan akhirnya gw cape sendiri.
Terus apa yang harus gw lakuin?
Tetep fokus sama apa yang mau gw kerjain. Apa? Ya gak tau, pokoknya gw harus kerjain sesuatu biar gw gak punya pikiran jelek begitu.
Cari temen hunting ah, udah lama gak panas panasan di Jakarta..
Selasa, 10 Februari 2015
Art - PicCandle
Rabu, 28 Januari 2015
Thats why I love write
Hemm..
"Kenapa lo nulis blog??", mungkin itu pertanyaan sebagian orang saat lihat blog gw.
Buat pamer? Mendramatisir kisah biar dikasihanin? Apa biar eksis aja kaya orang-orang?
Jadi gw termasuk orang yang mana...
Simple aja, ya buat dokumentasi tulisan gw lah. Karena jauh sebelum gw kenal blog, fb, twitter, instagram atau apalah itu, gw udah nulis. Dalam bentuk buku harian, a.k.a diary.
Pada dasarnya gw sama kaya orang pada umumnya. Punya masalah, mau didenger, perlu pelampiasan emosi. Dan gw rasa menulis ya "part of my soul" sejak entah kapan itu dimulai. Nulis jadi terapi emosi buat gw. Karena lo gak akan pernah nemuin orang yang 100% bisa ada buat lo kapanpun, jadi pendengar yang baik buat hal baik atau buruk yang menimpa lo, atau orang yang akan bener-bener kasih solusi buat masalah lo.
Tapi dengan nulis, lo bisa luapin emosi lo. Lo bisa caci maki siapapun, tanpa jadi annoying di telinga siapapun, kecuali orang yang lo maksud baca tulisan lo, tapi paling-paling dia sakit hati. Lo bisa nulis kapanpun dan dimanapun, tanpa ganggu aktivitas siapapun. Lo bisa ketawa atau nangis sambil nulis tanpa ada yang tau. Dan yang pasti nulis gak akan membuat lo jadi beban buat siapapun.
Bahkan dulu banget saat gw dalam kondisi hampir depresi, seorang kasih gw buku bacaan, seinget gw judulnya "7 kebiasaan yang sangat efektif". Dari buku itu gw coba satu terapi buat menghilangkan stres atau mengurangi depresi. 'Surat yang tak tersampaikan', sederhana tapi efektif buat gw.
Kaya namanya, surat yang tak tersampaikan. Gw cuma perlu nulis semua emosi gw, bahkan caci maki, ke orang yang gw anggap bertanggung jawab atas kondisi gw atau orang yang gw harap ada disisi gw saat itu. Spesifik untuk orang yang gw tuju, detail, dan yang pastinya penuh emosi. Dan seperti namanya, gw gak perlu sampaiin surat itu kesiapapun. Bisa gw simpan untuk dibaca lagi dikemudian hari, atau gw bakar dengan keyakinan emosi itu pergi bersama angin yang membawa abu kertas-kertas surat bisu itu. Dan itu beneran efektif buat gw. Apa lagi ditambah argumen salah satu dosen psikologi gw di kampus yang bilang, "tidak baik memendam emosi terlalu lama dan sendiri." Dia bahkan menyarankan saat kita punya masalah yang sangat berat maka carilah pelampiasan, salah satunya tulislah dikertas sebesar-besarnya masalah itu. Lalu remas kertas itu sampai tak berbentuk, dan lemparkan yang jauh. Sejauh mungkin agar masalah mu pergi bersamanya, atau injak masalah itu dan katakan "aku tak akan kalah pada mu!" Itu membantu gw untuk gak sampe pergi ke psikolog/psikiater sampe saat ini.
So itu menjelaskan bahwa menulis adalah bagian dari hidup gw. Tapi tetap dengan kenyataan yang sama bahwa menulis gak menyelesaikan masalah gw. Tapi minimal mengurangi emosi gw yang meluap.
Terus kenapa akhirnya gw publish tulisan gw di blog, semata buat dokumentasi atau mengarsipkan apa yang gw tulis. Karena akhirnya nulis jadi bagian penting buat gw kapanpun dan dimanapun, dan gak mungkin gw selalu bawa buku harian kemanapun gw pergi. Jadi gw butuh tempat yang lebih efisien dan aman. Aman yang gw maksud adalah gak hilang dan rusak, berhubung data base blog itu online jadi kemungkinan rusak dan hilang kan kecil. Juga karena gw harap suatu saat nanti, entah kapan itu, gw bisa baca tulisan gw lagi dan bersyukur buat apa yang udah gw dapet dan menguatkan gw saat datang begitu banyak masalah. Dan gw harap suatu saat, kalaupun gak ada tak apa, ada orang yang akan membaca apa yang gw tulis dan paham akan kondisi gw.
Entahlah, gw cukup yakin dengan pepatah "gajah mati meninggalkan gading". Ya kurang lebih ini bukti eksistensi gw sebagai manusia, yang bahkan saat gw tiadapun masih bisa dibaca orang lain. Terutama orang-orang yang gw sayang, gw harap dengan membaca mereka akan paham betapa besar rasa sayang gw pada mereka. Terutama keluarga gw.
Karena terkadang gw menyakiti mereka, tanpa mereka pernah tau sebabnya. Membaca akan berbeda dengan mendengar. Saat gw bicara dan mereka mendengar, bisa jadi mendengar akan menimbulkan emosi pada mereka sehingga tak dapat memahami maksud gw dengan baik. Terlalu emosi hingga melontarkan kata-kata yang gak sanggup gw terima, dan akhirnya kami saling menyakiti. Tapi saat mereka baca, mungkin kali pertama mereka akan emosi, lalu dibaca lagi dan lagi. Hingga suatu saat mereka akan paham maksudnya. Dan yang penting gw gak perlu mendengar ucapan menyakitkan mereka atau melihat emosi mereka.
Thats why i love write..
udah gitu aja. Byee :)
Senin, 26 Januari 2015
ini tulisan random banget deh..
Pernah kamu terpikir ada orang yang terus menyebut nama kamu di doanya?
Kamu bayangkan ada orang yang meneteskan air mata untuk kamu lebih dari siapapun?
Atau orang yang setiap malam berharap kamu memeluknya saat tidur, dan sekedar ingin mendengar kamu bilang selamat malam, mimpi indah ya..
Aku cape jadi orang itu. Terserah kamu mau bagaimana. Aku menyerah.
Mungkin bukan kamu yang aku cari.
------------------------------
Aku memang salah..
Kurang memberi kamu perhatian.
Tapi terkadang aku bungung dengan apa yang kamu mau.
Kamu cukup bilang apa yang kamu mau pasti aku penuhi.
Aku bukan dewa atau Tuhan yang tau segalanya.
Aku hanya mau kamu bilang apa yang kamu mau.
Aku akan mengupayakannya meski aku sering lupa.
------------------------------
Terimakasih.
------------------------------
Aku sayang kamu.
Maafin kesalahan aku.
Aku cuma takut kehilangan kamu.
--------------------------------
Aku ingin berhenti berharap.
Karena aku lelah menanti..
Aku hanya realistis,
Karena tak ingin menyiakan hidup yang singkat..
Dia mestinya tau bagaimana sulitnya aku bertahan hidup,
Itu jika dia sungguh-sungguh mendengar setiap ceritaku..
Aku bisa, harus bisa, menopang diri ku sendiri.
Berdiri sendiri dan sendiri.
Tanpa dia..
Ternyata dia adalah alasan ku berhenti menangis.
Saat aku memikirkannya, aku melupakan segala hal yang membuat ku menangis.
Tapi jika dengan memikirkannya dikemudian hari juga membuat ku menangis, mungkin sudah saatnya aku menyerah..
Positif thinking,
Lagi diuji Tuhan biar naik kelas..
Gw yang terlalu banyak nuntut,
Apa dia yang maunya seenaknya aja???
Argghrrr..
Ya kali punya otak gak bisa mikir,
Cape tau kodein mulu gak ada respon..
Lost of my mind




