Dia lelaki hebat,
Usianya sedikit lebih tua dari negara ini.
Hidup sederhana dan bersahaja,
Tahu bagaimana caranya bersyukur dan mencintai keluarga.
Tinggal di desa jauh dari kebisingan kota,
Hidup dari alam dan di alam.
Dia tua, tapi tak renta.
Dia tangguh layaknya pegunungan bebatuan kapur yang dia pijak sehari-hari,
Dia kuat menggendong aku dan adik ku kala kami kecil dulu,
Bahkan setelah letih memikul gundukan rerumputan seharian.
Dia tangguh,
Tangguh menghadapi terik yang membakar aspal jalan yang dia lewati bertelanjang kaki,
Tangguh menahan dahaga saat air tak seberapa yang dimiliki,
Dia tangguh merawat ternak walau harus mencari umpan berkilo-kilo meter setiap hari,
Dan dia tangguh menahan rindu melepas anak cucu merantau hidup di kota.
Dia salah satu pria hebat dalam hidup kami,
Yang tak akan segan untuk ku peluk.
Tapi Tuhan memintanya dari kami,
Tak terlalu cepat,
Hanya saja kami masih ingin lebih lama bersamanya.
Dia sakit,
Dan kami terluka merasakan sakitnya.
Tak tega rasanya,
Tapi akhirnya kami meminta Tuhan menyudahi sakitnya.
Dan inilah akhirnya.
Kami melepasnya.
Dalam diam, penuh doa.
Ternyata itu peluk cium ku yang terakhir kali untuknya.
Rasanya baru kemarin.
Tapi pasti dia sudah jauh disana.
Tak ada lagi dia yang sabar menunggui kami berkeliling di sawah,
Tak ada lagi yang akan berbagi mie ayam,
Tak ada lagi yang akan berteriak memarahi kami yang bercanda,
Tak ada...
Selamat jalan,
Pergilah dalam damai.
Kami ikhlas melepasmu,
Agar kau menyudahi sakit mu.
Kau akan abadi dalam kenangan kami.
Usianya sedikit lebih tua dari negara ini.
Hidup sederhana dan bersahaja,
Tahu bagaimana caranya bersyukur dan mencintai keluarga.
Tinggal di desa jauh dari kebisingan kota,
Hidup dari alam dan di alam.
Dia tua, tapi tak renta.
Dia tangguh layaknya pegunungan bebatuan kapur yang dia pijak sehari-hari,
Dia kuat menggendong aku dan adik ku kala kami kecil dulu,
Bahkan setelah letih memikul gundukan rerumputan seharian.
Dia tangguh,
Tangguh menghadapi terik yang membakar aspal jalan yang dia lewati bertelanjang kaki,
Tangguh menahan dahaga saat air tak seberapa yang dimiliki,
Dia tangguh merawat ternak walau harus mencari umpan berkilo-kilo meter setiap hari,
Dan dia tangguh menahan rindu melepas anak cucu merantau hidup di kota.
Dia salah satu pria hebat dalam hidup kami,
Yang tak akan segan untuk ku peluk.
Tapi Tuhan memintanya dari kami,
Tak terlalu cepat,
Hanya saja kami masih ingin lebih lama bersamanya.
Dia sakit,
Dan kami terluka merasakan sakitnya.
Tak tega rasanya,
Tapi akhirnya kami meminta Tuhan menyudahi sakitnya.
Dan inilah akhirnya.
Kami melepasnya.
Dalam diam, penuh doa.
Ternyata itu peluk cium ku yang terakhir kali untuknya.
Rasanya baru kemarin.
Tapi pasti dia sudah jauh disana.
Tak ada lagi dia yang sabar menunggui kami berkeliling di sawah,
Tak ada lagi yang akan berbagi mie ayam,
Tak ada lagi yang akan berteriak memarahi kami yang bercanda,
Tak ada...
Selamat jalan,
Pergilah dalam damai.
Kami ikhlas melepasmu,
Agar kau menyudahi sakit mu.
Kau akan abadi dalam kenangan kami.
Waktu kakek dari bokap meninggal, gw masih kecil. Tapi cukup bisa mengingat saat terakhir bertemu beliau. Saat itu sama sekali gak ada perasaan sedih waktu beliau meninggal.
Tapi setelah dewasa berkunjung ke makan beliau, yang bersebelahan dengan makan nenek dari bokap yang belum pernah gw temui karena meninggal saat bokap masih kecil, rasanya hati hancur sejadi-jadinya.
Menyesal belum bisa kasih kebahagiaan buat mereka.
Dan sekarang, saat ditinggal sama kakek dari nyokap. Yang sepanjang usia gw sampai beberapa waktu lalu, selalu kontek sama gw, rasanya lebih-lebih dari yang dulu.
Awalnya menyesal, karena memang meminta Tuhan menyudahi sakitnya yang berlarut dan memberinya tempat yang lebih baik. Tapi lalu jadi entah apa rasanya, takut dan terluka, memikirkan beliau tak lagi ada disaat-saat yang akan datang.
Memimirkan semua akan berubah tanpa dia rasanya sedih tak berujung.
Sungguh belajar ikhlah sangatlah sulit. Tapi ikhlas kami akan memudahkan jalannya ketempat yang lebih baik.
Tuhan sungguh luar biasa. Dia Maha Adil, Maha Kuasa, merancang skenario ini sebaik mungkin. Tak salah memasrahkan diri pada-Nya.
Ikhlaskan semua kehendak-Nya.
Tapi setelah dewasa berkunjung ke makan beliau, yang bersebelahan dengan makan nenek dari bokap yang belum pernah gw temui karena meninggal saat bokap masih kecil, rasanya hati hancur sejadi-jadinya.
Menyesal belum bisa kasih kebahagiaan buat mereka.
Dan sekarang, saat ditinggal sama kakek dari nyokap. Yang sepanjang usia gw sampai beberapa waktu lalu, selalu kontek sama gw, rasanya lebih-lebih dari yang dulu.
Awalnya menyesal, karena memang meminta Tuhan menyudahi sakitnya yang berlarut dan memberinya tempat yang lebih baik. Tapi lalu jadi entah apa rasanya, takut dan terluka, memikirkan beliau tak lagi ada disaat-saat yang akan datang.
Memimirkan semua akan berubah tanpa dia rasanya sedih tak berujung.
Sungguh belajar ikhlah sangatlah sulit. Tapi ikhlas kami akan memudahkan jalannya ketempat yang lebih baik.
Tuhan sungguh luar biasa. Dia Maha Adil, Maha Kuasa, merancang skenario ini sebaik mungkin. Tak salah memasrahkan diri pada-Nya.
Ikhlaskan semua kehendak-Nya.
Well, i hate cigarette more than before.
Walau gw tau semua orang akan meninggal pada akhirnya, tapi barang itu bikin orang meninggal dalam sakit yang berkepanjangan sebelumnya.
Kenapa harus ada barang itu di dunia ini.
Walau gw tau semua orang akan meninggal pada akhirnya, tapi barang itu bikin orang meninggal dalam sakit yang berkepanjangan sebelumnya.
Kenapa harus ada barang itu di dunia ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar