"Awalnya semua baik,
Hingga telpon itu berdering, dan mama yang menerimanya."
Setahun yang lalu.
Adirahma, namanya.
Hanya wanita biasa, usia 20 tahunan. Wajahnya tak terlalu cantik, bukan berarti tak manis. Perangainya lembut, dan periang.
Kehidupannya baik. Keluarga yang baik, teman-teman yang baik, dan seorang kekasih yang baik.
Selepas kuliah, Rara, sapaan orang-orang disekitarnya, menemukan jiwanya di dunia kerja. Pekerjaan sebagai staf HRD sebuah perusahaan nasional membuatnya bekerja 8 jam sehari, wajar dan masih menyenangkan. Waktu kerjanya yang tak mencekik masih memberinya kesempatan untuk membagi waktu dengan keluarga, teman, dan Hari, kekasihnya.
Hingga suatu hari. Saat itu langit tak cukup panas, pendingin ruangan di samping meja kerja Rara pun masih berhembus sejuk. Tapi keringat membasahi sekujur tubuh Rara, dan membuat kemejanya lembab.
"Ra, kamu sakit ya?", tanya Iman rekan kerja di sebelah meja Rara.
"Kayaknya gitu, aku izin dulu deh." Jawab Rara singkat, sambil meraba mencari HP di sudut meja kerjanya.
"Ya, biar aku yang bilang ke Pak Azam. Kamu ke dokter aja sana." Iman bangkit dari balik meja kerjanya, mencoba menghampiri Rara yang mulai membereskan isi tas kerjanya.
Entah mengapa hari itu langkahnya membawa ia ke rumah sakit. Sepintas hal buruk mengelitik pikirannya, "Mungkin ada yang salah?", hatinya mulai bertanya.
Aneh rasanya, hanya pusing dan berkeringat tapi ia dirujuk ke dokter spesialis. Bahkan awalnya ia tak tau dokter spesialis apa yang sedang dia temui.
Singkat cerita, semua kembali normal. Hanya saja Rara sesekali murung dan menghilang, tak jelas apa yang dipikirkannya.
Hari itu Gina menelpon, teman baiknya sejak SMA itu memang jarang ia jumpai. Tapi mereka masih sering mengobrol via telpon atau jejaring sosial.
"Ra, lo jadi mau resign?", tanya Gina pada Rara.
"Iya. Tapi gak sekarang kok. Gw mau liburan, jadi mesti nabung dulu. Heheheh", jawab Rara santai.
"Udah ada plan mau cari kerjaan baru kan? Ya masa mau nganggur." Gina terdengar marah dari pada khawatir.
"Iya, iya. Mau wiraswasta aja deh. Makannya nabung dulu buat modal." Suara Rara agak goyah, menahan entah apa itu.
"Yaudah, besok gw agak senggang. Ajak Hari juga, kita ketemuan yuk?" Ajak Gina.
"Kayaknya Hari ada kerjaan lembur deh besok. Gimana kalau berdua aja? Lo temenin gw?", pinta Rara.
"Kemana? Yaudah kalo gitu. After lunch ya kita pergi." Gina mengiyakan, masih menerka kemana tujuan Rara akan mengajaknya.
"Sip, nanti gw jemput lo ya. Naik taksi aja. Gw lewat depan kantor lo." Jelas Rara.
Lalu berbulan-bulan kemudian, Rara dan Gina masih sering pergi bersama.
Namun tidak halnya dengan Hari. Karena kesibukan Hari, ia dan Rara semakin jarang bertemu. Tapi Rara selalu menghubingi Hari, memastikan jadwal rutin olahraganya, mengingatkan makan siang, sesekali bertanya tentang pekerjaannya.
Dan sesekali Rara dan Hari bertemu. Makan bersama, nonton film, atau bersepeda bersama.
Dan ini adalah satu bulan sebelum hari itu. Sebelum ibu Rara menerima telpon itu.
"Ra, kamu udah jarang keluar sama Hari ya?", tanya ibu Rara.
Rara yang sedang menonton TV hanya diam, membuat ibu yang duduk disebelahnya semakin gencar bertanya menuntut penjelasan.
"Berantem?", desak ibunya.
"Gak putus kan?", ibunya semakin mendesak.
"Come on ma, ini minggu. Jangan mikir berat-berat. Nanti ngantuk loh.", gurau Rara sekenanya.
"Berarti ada masalah kan?", ibunya tetap bersikeras.
Lalu diam sesaat. Ibunya memberi Rara kesempatan berpikir. Dan memang Rara sedang berpikir keras, menyusun kalimat yang tepat.
"Ma, ada orang yang terlalu baik buat kita. Tapi dia tidak benar-benar diciptakan untuk kita.", suara Rara bergetar menahan emosi. Entah emosi macam apa itu.
Ibunya masih terdiam. Mencoba mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan anak sulungnya itu.
"Dia baik. Hubungan kami baik. Jadi semua teralalu baik." Lanjut Rara.
"Mungkin kamu bosen Ra." Ibunya coba menerka.
Diam yang lama. Membuat ibu dan anak itu hanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Kamu udah coba bilang ke Hari? Dia pantas mendapatkan penjelasan dari kamu kan?", hanya kalimat itu yang terpintas dari ibunya.
"Iya. Rencananya sore ini aku ketemu dia kok. Tenang aja ma." Rara mencoba memberi bengertian ke ibunya.
"Tapi janji jangan sakitin perasaan dia ya. Dia baik loh Ra." Pinta ibunya.
"Iya ma. Tenang aja. Makannya aku mau buat ini mudah buat dia." Dan tiba-tiba Rara memeluk ibunya.
Sore itu langit merona, anginpun berhembus lembut menyejukkan. Menyeka keringat Rara yang mulai lelah mengoes sepedanya.
"Nih. Gak ada jus disana, soft drink semua. Air putih aja gak apa ya?" Hari mengulurkan tangannya memberi sebotol air mineral yang tampak akan menyejukkan bagi Rara.
Mereka duduk memandang senja. Membiarkan bayang orang-orang berlalu. Mendengarkan canda anak-anak di taman.
Diam. Dan hanya diam untuk waktu yang lama.
"Ri !", Rara mencoba mengumpulkan keberaniannya.
"Mama bilang kamu baik."
"Ih apaan sih, kode banget." Hari tersipu.
Hening. Mereka hanyut dalam lamunan senja yang membuat hari demi hari berubah menjadi gulita.
Rara meyakinkan dirinya sendiri, akan apa yang akan dia lakukan.
"Orang baik, pasti berjodoh dengan orang baik juga tau Ri." Rara menutupi ketakutannya dengan ledekan.
"Kamukan orang baik." Sela Hari.
"Tapi mungkin aku gak sebaik itu makannya Tuhan mau jauhin kita, atau mungkin karena aku terlalu baik makannya Tuhan sayang banget sama aku." Kalimat panjang tanpa jeda itu mengalir begitu saja dari mulut Rara.
Hari masih mencoba mencerna apa yang dimaksud Rara. Diapun meraih tangan Rara, dan berkata nyaris tak bersuara, berbisik ditelinga Rara, "Apapun maksud kamu, aku akan ada di sisi kamu sampai akhir."
Hanya itu, dan senja kala itu menyisakan tanya yang mengganggu tidur mereka di malam-malam selanjutnya.
Dan hari itu tiba.
Setelah akhirnya Rara mendapatkan pekerjaan baru. Namun sering kali menghilang tanpa kabar.
Dan setelah perbincangannya dengan Hari yang tak tertuntaskan. Juga susah payah membujuk ibu tercinta untuk mengizinkannya berlibur entah berantah sendirian.
Hari ini genap satu bulan kepergian Rara, sejak dihari dia berpamitan untuk pergi berlibur.
Kabar tak kunjung datang. Keberadaannya tak juga ada yang tahu. Akhirnya telpon rumah Rara berbunyi.
"Halo, selamat pagi." Sapa orang di seberang sana.
Ibu Rara nyaris terdiam mendengar suara asing di telinganya itu.
"Maaf, betul ini kediaman Adirahma?" Pertanyaan yang menyadarkan ibu Rara dari lamunannya.
"Ya, betul. Ada yang bisa dibantu?" Ada khawatir dalam tanya ibunya. Namun hanya sabar yang ada untuk menanti penjelasan orang diseberang entah berantah sana.
"Mohon maaf sebelumnya ibu. Kami dari rumah sakit." Tangan ibu Rara bergetar menerka apa yang akan dikatakan orang di seberang sana selanjutnya.
"Saya dokter yang menangani Rara. Saya minta maaf kepada ibu karena tidak cukup keras meyakinkan Rara untuk memberitahukan semua sejak awal." Terdengar suara laki-laki dengan nada menyesal di seberang sana.
"Dokter? Maksudnya?" Ibu Rara meyakinkan dirinya sendiri dengan bertanya kembali.
"Mungkin sebaiknya ibu datang ke rumah sakit. Saya akan menjelaskannya di sini." Pinta laki-laki yang mengaku dokter itu.
"Mungkin lebih baik saya tau kondisi anak saya dulu, agar saya lebih yakin apa yang sebenarnya terjadi." Ibu Rara menuntut penjelasan.
"Mohon maaf ibu, yang pasti Rara sedang dalam penanganan intensif kami. Saya akan jelaskan semuanya saat ibu tiba di sini." Diam sesaat, menanti jawaban ibu Rara.
"Baik. Dimana? Saya kesana." Suara parau ibu Rara mengakhiri percakapan singkat di telpon. Gemetar, rasanya tak dapat dibayangkan betapa menakutkannya harus menerka apa yang menimpa anaknya.
Tok. Tok. Tok
Ada yang mengetuk pintu rumah. Tak lama berselang Hari masuk, dan mendapati ibu Rara duduk termenung di ruang tamu. Dengan wajah yang pucat, dan tangan gemetar mencoba mengembalikan gagang telpon di tempatnya.
Setengah berlari Hari mencoba menghampiri wanita paruh baya yang sudah dia anggap ibunya sendiri itu, "Tante kenapa?"
Diam sesaat yang di dapat Hari. Hingga akhirnya ibu Rara membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegap.
"Gak apa. Kamu kenapa kesini?" Sekilas senyum simpul sempat terlihat di wajah ibu Rara.
"Tante yakin gak apa-apa?" Hari masih mencoba meminta penjelasan.
"Iya gak apa. Kamu ada apa?" Sekali lagi ibu Rara meyakinkan. Kali ini meraih tangan Hari, layaknya seorang ibu meyakinkan anaknya.
"Tan, pokoknya kalo ada apa-apa tante bilang ke aku." Hari menggenggam tangan ibu Rara lebih erat.
Hanya senyum kecil diwajah pucat ibu Rara sebagai jawabannya.
"Tante. Rara jadi ganti mobil atau gimana? Aku lewat deler, dan kata orang sana mobil Rara sudah dijual di sana sebulan lalu." Hari menjelaskan dengan nada khawatir dan berharap penjelasan.
Lagi-lagi diam yang di dapat Hari.
Dan akhirnya ibu Rara bangkit dari duduknya.
"Kamu bisa anter tante kan? Sebentar tante siap-siap." Lalu ibu Rara beranjak memasuki kamarnya.
Hari hanya bisa terdiam. Mencoba menerka apa yang terjadi.
Sepanjang perjalanan Hari benar-benar hanyut dalam pikiran buruknya. Tak habis pikir apa yang menantinya di rumah sakit. Dia bingung harus menuntut penjelasan pada siapa. Sedangkan ibu Rara yang duduk disampingnya hanya memandang kosong ke jalan, dan sesekali nemeteskan air mana. Tak tega betul diq sekedar bertanya akan apa mereka ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit.
Entah mengapa lorong rumah sakit hari itu nampak sepi. Udara dinginpun berhembus entah datang dari mana. Ibu Rara jelas tergesa-gesa, hingga Hari harus setengah berlari mengimbangi langkahnya.
Dan di ujung lorong itu Gina berdiri menanti. Tampak gelisah dan bingung.
Ada laki-laki tua berbaju putih disebelahnya, nampak seperti dokter.
Bahkan tanpa menyapa Gina, ibu Rara melewati Gina berjalan mengikuti laki-laki itu masuk ke pintu dengan tulisa Dokter Spesialis.
Dan Hari berhenti tepat dihadapan Gina. Menuntut penjelasan.
"Maaf bu, saya merasa sangat bersalah. Sudah sangat terlambat saya memberi tahu ibu." Dokter coba memulai percakapan dengan ibu Rara.
"Hampir setahun yang lalu saat Rara datang pada saya pertama kali. Dia nampak sehat, bahkan sangat sehat untuk orang diusianya." Dokter memberi kesenpatan ibu Rara untuk berpikir mengingat setahun lalu.
Mungkin saat Rara mengeluh sakit, dan pulang kerja lebih awal setelah kedokter, pikir ibu Rara.
"Tapi setelah medical checkup ternyata ada yang salah. Saya kira dia memiliki kelainan sel darah merah. Kami pun mulai melakukan tes lab mendalam. Ternyata ada sel kanker di darahnya. Dan sejak saat itu kami mulai lebih sering bertemu untuk terapi." Jelas dokter.
Hanya diam ibu Rara yang di dapat dokter, tak ada tanggapan apapun.
"Kami mulai kemo delapan bulan yang lalu. Saya terus meyakinkan dia untuk memberitahukan hal ini ke keluarga. Bahkan saya berjanji akan membantunya menjelaskan kepada ibu. Tapi hanya Gina yang dibawanya hingga saat ini." Dokter menghela napas panjang. Sekan merasa bersalah, merenggut nyawa Rara dari ibu yang memberinya kehidupan.
"Segala macam cara saya lakukan untuk meyakinkan dia. Tapi dia tetap kukuh akan sembuh tanpa perlu ada yang tau penyakitnya. Bahkan saya katakan bahwa biaya yang dibutuhkan tidak sedikit, paling tidak keluarga bisa meringankan. Tapi dia bilang biaya tidak masalah. Saya perlu menjaga kondisi spikis dia untuk proses penyembuhan, akhirnya saya berhenti meyakinkannya."
Ibu Rara masih termenung, mencoba mencerna apa yang dijelaskan dokter.
"Dan akhirnya sekitar sebulan yang lalu kami sepakat untuk melakukan cangkok sumsum tulang belakang. Dan kebetulan ada donor yang cocok diluar keluarga. Dan kami mulai perawatan." Dokter yang sudah renta itu mengnyeka air di sudut matanya.
Ibu Rarapun mulai meneteskan air mata.
"Tapi keyakinannya untuk sembuh tidak sejalan dengan kondisinya. Dari hari ke hari dia memburuk. Operasi tak kunjung dapat dimulai. Hingga kami berkonsultasi dengan rekan dokter kami di Singapur untuk membantu operasi. Masalahnya Rara tidak dapat dia bawa keluar dalam kondisi ini. Dan mereka tidak dapat menanganinya sekalipun disini, karena kondisi Rara yang memang tidak mendukung."
Kali ini air mata ibu Rara tak dapat lagi terbendung. Habis sudah harapannya melihat putrinya pulang dengan tersenyum setelah liburan.
Liburan macam apa di rumah sakit. Tak habis pikir Rara membunuh dirinya perlahan tanpa seorangpun disisinya.
Ingin rasanya Ibu Rara menggantikan tempat Rara.
"Sayang, kamu sangat baik untuk aku. Itu sebabnya Tuhan sangat sayang sama kamu. Maaf aku gak bisa penuhi janji ku untuk sampai akhir di sisimu. Tapi bolehkan aku anggap mama seperti ibu ku sendiri. Karna walau kamu gak menjadi istri ku, aku mau kamu jadi keluarga ku. Aku mau kamu tetap jadi bagian hidup ku. Selamanya."
-SEND-
Hari mengirim pesan ke HP Rara. Meskipun dia tau Rara tak lagi dapat membukanya. Tapi dia berharap Rara menerimanya di surga.
Dan hari itu langit di pemakaman sangat teduh. Rintik gerimis membawa jiwa-jiwa penuh duka hanyut dalam doa. Melepas orang terkasih di tempat peristirahatannya.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar