Total Tayangan Halaman

INILAH KISAH KU

Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.

Rabu, 28 Januari 2015

Thats why I love write


Hemm..
"Kenapa lo nulis blog??", mungkin itu pertanyaan sebagian orang saat lihat blog gw.
Buat pamer? Mendramatisir kisah biar dikasihanin? Apa biar eksis aja kaya orang-orang?
Jadi gw termasuk orang yang mana...
Simple aja, ya buat dokumentasi tulisan gw lah. Karena jauh sebelum gw kenal blog, fb, twitter, instagram atau apalah itu, gw udah nulis. Dalam bentuk buku harian, a.k.a diary.
Pada dasarnya gw sama kaya orang pada umumnya. Punya masalah, mau didenger, perlu pelampiasan emosi. Dan gw rasa menulis ya "part of my soul" sejak entah kapan itu dimulai. Nulis jadi terapi emosi buat gw. Karena lo gak akan pernah nemuin orang yang 100% bisa ada buat lo kapanpun, jadi pendengar yang baik buat hal baik atau buruk yang menimpa lo, atau orang yang akan bener-bener kasih solusi buat masalah lo.
Tapi dengan nulis, lo bisa luapin emosi lo. Lo bisa caci maki siapapun, tanpa jadi annoying di telinga siapapun, kecuali orang yang lo maksud baca tulisan lo, tapi paling-paling dia sakit hati. Lo bisa nulis kapanpun dan dimanapun, tanpa ganggu aktivitas siapapun. Lo bisa ketawa atau nangis sambil nulis tanpa ada yang tau. Dan yang pasti nulis gak akan membuat lo jadi beban buat siapapun.
Bahkan dulu banget saat gw dalam kondisi hampir depresi, seorang kasih gw buku bacaan, seinget gw judulnya "7 kebiasaan yang sangat efektif". Dari buku itu gw coba satu terapi buat menghilangkan stres atau mengurangi depresi. 'Surat yang tak tersampaikan', sederhana tapi efektif buat gw.
Kaya namanya, surat yang tak tersampaikan. Gw cuma perlu nulis semua emosi gw, bahkan caci maki, ke orang yang gw anggap bertanggung jawab atas kondisi gw atau orang yang gw harap ada disisi gw saat itu. Spesifik untuk orang yang gw tuju, detail, dan yang pastinya penuh emosi. Dan seperti namanya, gw gak perlu sampaiin surat itu kesiapapun. Bisa gw simpan untuk dibaca lagi dikemudian hari, atau gw bakar dengan keyakinan emosi itu pergi bersama angin yang membawa abu kertas-kertas surat bisu itu. Dan itu beneran efektif buat gw. Apa lagi ditambah argumen salah satu dosen psikologi gw di kampus yang bilang, "tidak baik memendam emosi terlalu lama dan sendiri." Dia bahkan menyarankan saat kita punya masalah yang sangat berat maka carilah pelampiasan, salah satunya tulislah dikertas sebesar-besarnya masalah itu. Lalu remas kertas itu sampai tak berbentuk, dan lemparkan yang jauh. Sejauh mungkin agar masalah mu pergi bersamanya, atau injak masalah itu dan katakan "aku tak akan kalah pada mu!" Itu membantu gw untuk gak sampe pergi ke psikolog/psikiater sampe saat ini.
So itu menjelaskan bahwa menulis adalah bagian dari hidup gw. Tapi tetap dengan kenyataan yang sama bahwa menulis gak menyelesaikan masalah gw. Tapi minimal mengurangi emosi gw yang meluap.
Terus kenapa akhirnya gw publish tulisan gw di blog, semata buat dokumentasi atau mengarsipkan apa yang gw tulis. Karena akhirnya nulis jadi bagian penting buat gw kapanpun dan dimanapun, dan gak mungkin gw selalu bawa buku harian kemanapun gw pergi. Jadi gw butuh tempat yang lebih efisien dan aman. Aman yang gw maksud adalah gak hilang dan rusak, berhubung data base blog itu online jadi kemungkinan rusak dan hilang kan kecil. Juga karena gw harap suatu saat nanti, entah kapan itu, gw bisa baca tulisan gw lagi dan bersyukur buat apa yang udah gw dapet dan menguatkan gw saat datang begitu banyak masalah. Dan gw harap suatu saat, kalaupun gak ada tak apa, ada orang yang akan membaca apa yang gw tulis dan paham akan kondisi gw.
Entahlah, gw cukup yakin dengan pepatah "gajah mati meninggalkan gading". Ya kurang lebih ini bukti eksistensi gw sebagai manusia, yang bahkan saat gw tiadapun masih bisa dibaca orang lain. Terutama orang-orang yang gw sayang, gw harap dengan membaca mereka akan paham betapa besar rasa sayang gw pada mereka. Terutama keluarga gw.
Karena terkadang gw menyakiti mereka, tanpa mereka pernah tau sebabnya. Membaca akan berbeda dengan mendengar. Saat gw bicara dan mereka mendengar, bisa jadi mendengar akan menimbulkan emosi pada mereka sehingga tak dapat memahami maksud gw dengan baik. Terlalu emosi hingga melontarkan kata-kata yang gak sanggup gw terima, dan akhirnya kami saling menyakiti. Tapi saat mereka baca, mungkin kali pertama mereka akan emosi, lalu dibaca lagi dan lagi. Hingga suatu saat mereka akan paham maksudnya. Dan yang penting gw gak perlu mendengar ucapan menyakitkan mereka atau melihat emosi mereka.
Thats why i love write..
udah gitu aja. Byee :)

Tidak ada komentar: