Total Tayangan Halaman

INILAH KISAH KU

Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.

Jumat, 19 November 2010

New guys

Gw seakan menemukan sisi lain kehidupan yang selama ini Gw impikan. Teman baru, pengetahuan baru, suasana baru, dan pastinya tantangan baru.... "Hidup nggak seru kalo nggak ada tantangannya."
Guys you're the best deh. Lo semua jadi sumber semangat baru buat Gw, sekarang Gw punya alasan yang lebih kuat untuk mempertahankan nafas dan langkah ini. Ya walau Gw akui nggak akan semudah membalikkan telapak tangan, kita semua emang beda banget dan butuh waktu yang cukup lama untuk mempererat kekompakan kita.... But, nothings imposible for us. Kita udah melewati banyak tantangan sejauh ini, rasanya layak jika kerja keras kita selama ini dibayar dengan sebuah kebahagian dalam kebersamaan.... hahaha... LEBAY GILING...
Tetep kompak ya CAB 30 KMPF... Gw suka banget tema pameran perdana kita, 1/30...

This is my wayThis is my way

Mungkin sulit ketika harus menyadari semua kekalahan ini, kekalahan telak akan diri sendiri... Namun Gw tahu semua nggak akan mungkin terjadi dengan sendirinya, memang Gw jauh dari kata sempurna, sehingga kesempurnaanpun enggan mendekap Gw. Dia yang Gw harap bisa menjadi penyelamat Gw malah sebaliknya, saat ini Gw yang menjadi penyelamatnya. Ini bukan suatu kesalahan, ini hanya sebuah ujian, ujian kehidupan yang tidak adil....
Ini adalah jalan hidup yang Gw pilih, menjadi kuat demi untuk membahagiakan orang-orang terkasih. Biar kata orang Gw munafik, biar orang lain mencaci maki Gw. Tapi yang pasti, Gw akan terus memperjuangkan apa yang Gw anggap benar dan pantas untuk diperjuangkan. Kadang Gw seakan memiliki dunia sendiri, bulshit dengan apa kata orang. Mereka hanya bisa mencela tanpa bisa memberi solusi, jadi nggak ada untungnya Gw perdulikan, merasa terusikpun enggan....

Minggu, 14 November 2010

Sunday, 31 October, 2010

Nggak seharusnya rasa cinta menguasai diri ini, otak mesti terus berputar walau hati diselimuti kabut yang entah berantah berasal dari mana... Gw sadar sesadar-sadarnya, Gw sama sekali gak berdaya untuk menolak rasa cinta ini. bagaimanapun cinta adalah anugerah, seharusnya disyukuri dan dinikmati... Untuk itulah hingga saat ini Gw nggak pernah puas dan lelah untuk mencintai, walau terkadang salah menjatuhkan pilihan...
Bagi setiap orang yang sedang patah hati, apakah kalian mencoba membenci "dia" setelah apa yang terjadi?... Cobalah instropeksi diri kembali, apakah memang demikian yang patut kalian lakukan... Bukankah semua ini juga kesalahan diri kita sendiri, yang terlalu menyerahkan segenap jiwa dan raga pada "dia", padahal belum tentu bahwa ada cinta diantara kalian.
Hidup ini adalah pilihan, sekali lagi "PILIHAN"... Mencintai ataupun dicintai, seharusnya dapat menjadi hal yang memberikan warna pada hidup kita. Merugilah orang-orang yang mendustakan dan mempermainkan cinta, janganlah kalian memungkiri ni'mat ini.
Perjalan hidup kita begitu singkat, janganlah disia-siakan untuk menyesali semua yang telah terjadi. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, saat ini sebagai pijakan untuk masa depan, dan masa depan untuk terus menjadi semakin baik.

Wednesday, October 06, 2010

Gw merasa begitu lelah. Rasanya ini adalah klimaks dari semua kebodohan Gw... Gw sakit. Sakit fisik, sakit batin. Betapa menyedihkannya diri Gw saat ini, bahkan seakan tak ada lagi sisa-sisa tenaga untuk bertahan. Gw cuma ingin hidup, dengan normal dan menjadi diri Gw. Tapi semua ini terasa begitu sulit, seperti mengangkat beban yang melebihi batas kemampuan Gw.
Ingin rasanya Gw berteriak, hingga pita suara Gw terputus jika perlu. Gw mau mereka tahu, Gw juga punya perasaan. Kenapa selalu Gw yang harus mengerti, kenapa gak sekali-sekali mereka yang mengerti Gw. Gw bosen harus terus berpura-pura baik, rasa sabar ini hanya akan mencekik Gw perlahan...
UNTUK DIA. Tanpa seizin Lo, Gw telah mencintai Lo. Tapi bukan berarti Lo berhak mencabut rasa cinta ini dengan seenaknya, karena Gw juga cuma manusia biasa yang punya perasaan. Tolong belajarlah menghargai orang lain, karena nggak semua orang bisa sesabar Gw. Gw nggak pernah menyalahkan Lo, tapi Gw merasa kasihan sama kebodohan Lo. Silahkan pergi lanjutkan hidup Lo, sedangkan Gw akan tetap disini.

Friday, 01 October, 2010

Seketika Gw tersadar. Nggak seharusnya terlalu berharap pada seseorang yang tak sempurna.
Tapi Gw nggak akan menyesali itu, karena penyesalan hanya akan membebani hidup Gw yang pastinya sudah sedemikian rumit. Mereka bilang Gw begitu rumit, apakah itu yang membuat Gw harus tersingkirkan?
Satu-satunya hal yang Gw inginkan saat ini adalah menjadi Gw. Bukan fotocopy'an siapapun, apa lagi menjadi apa yang mereka mau. Karena seharusnya mereka bisa menerima Gw apa adanya, sebagaimana Gw bisa menerima mereka. Gw belajar untuk tidak hanya mengagumi kelebihan orang lain, tetapi juga menghargai kekurangan orang lain.
Walau terkadang segala sesuatunya tidak sejalan dengan yang kita harapkan, tapi Gw gak menjadikan itu sebagai alasan untuk menjadi pecundang dan menyerah pada keadaan. Gw mencoba merubah mindset Gw, bahwa setiap peristiwa adalah bagian dari proses pendewasaan yang harus dialami dan menjadikan kita lebih baik.
I can't be perfect, but I can be better for they're..

Selasa, 28 September 2010

Keluar dari zona aman

keluar dari zona aman, padahal kita tahu masih ada banyak ladang hijau membentang yang belum kita susuri. Kenapa menjadi pecundang jika bisa memenangkan diri sendiri? dan kenapa memilih mati ketika bisa menjadi juara harapan?...

Terus menjadi kuat dan bertahan adalah kewajiban kita, rasa nyaman adalah hak kita. Jangan takut kehilangan semua itu, karena setiap individu berhak menerima itu semua. Terus mencoba dan terjatuh itu adalah hal yang wajar, dan mestinya dapat membuat kita semakin terpacu untuk keluar lebih jauh dari zona aman kita. Karena keyakinan diri akan membuat kita dari ketidaktahuan menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, dan tidak mungkin menjadi mungkin. Semua hal tersebut dapat bergabung menjadi suatu kesatuan kokoh yang digunakan sebagai pondasi sekaligus tiang penyangga zona baru kita.

Zona aman adalah ruang yang akan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, tanpa memberi kesempatan kita untuk mengaktualisasikan diri. Bukankah lebih baik salah beramai-ramai, dari pada terdiam sendiri dalam ketidak tahuan? Keluar dari zona aman terus menjadi konflik tersendiri pada sebagian orang. Karena tidak hanya berani keluar, tetapi berani untuk tidak kembali dan menanggung resiko yang ada nantinya. Hal itulah yang banyak membuat orang kalut dalam ketakutan atas sebuah kekalahan, padahal dengan demikian berarti mereka sudah kalah sebelum berperang.

Perjuangkanlah setiap peluang untuk menjadi sesuatu yang lain, bukan sebagai barang hasil cetakan pabrik yang sama antara satu dan lainnya. hidup akan lebih baik, ketika kita berani memutuskan menjadi diri kita yang lain. Karena keberagaman adalah sebuah seni modern yang tak mungkin tercantum dalam ukiran bebatuan purbakala yang statis. Hidup adalah rangkaian yang dinamis, segalanya telah tercipta untuk saling melengkapi.

Jumat, 17 September 2010

Hidup adalah pilihan

Tuhan mungkin telah menetapkan takdir-Nya untuk kita semua, tetapi tidak berarti kita hanya dapat pasrah dan menyerah pada keadaan. Sesungguhnya hidup ini adalah pilihan, kita sendirilah yang akan menentukan bagaimana hidup yang kita inginkan. Namun terkadang mata hati kita tertutup untuk menyadari semua itu, sehingga kita terlalu bodoh melangkah dan salah berpijak.

Di dunia ini hanya ada dua pilihan; baik atau buruk, benar atau salah, hidup atau mati, menjadi pemenang atau pecundang, dan banyak pilihan lain yang terkadang tanpa kita sadari telah kita pilih. Tuhan menganugerahi manusia 'akal' untuk berpikir, dan seharusnya memang kita harus terus berpikir untuk memutuskan arah hidup kita sendiri.

Sahabat atau cinta. Terkadang kita dibutakan oleh cinta, padahal cinta bukanlah hal ilmiah yang dapat dijelaskan secara logis. Ada kalanya kita dihadapkan pada pilihan yang sulit, sahabat atau cinta. Memperjuangkan keduanya adalah sebuah keharusan, jangan sampai kita menyesal setelah kehilangan salah satunya. Tetapi hal yang harus terus kita ingat adalah 'tak ada yang abadi', kita harus dapat berpikir secara objektif dan membuat prioritas yang dapat menjadikan hidup kita lebih berarti bagi setiap orang. Jangan sampai kesenangan sesaat atau bahkan nafsu sesaat yang menguasai kita, harusnya kita dapat terus menjadi tempat mengadu bagi setiap orang yang kita sayangi.

Menjadi diri sendiri atau menjadi yang mereka inginkan. Setiap pribadi adalah unik, pasti ada perbedaan antara satu dan lainnya. Ada banyak tuntutan yang dilimpahkan pada diri kita sebagai makhluk sosial, dan terkadang tuntutan itu memaksa kita menjadi orang lain. Tapi percayalah, menjadi diri sendiri akan lebih membanggakan dari pada menjadi apa yang orang lain inginkan. Apa lagi menjadi apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sama sekali tidak memberikan kontribusi dalam hidup kita, itu hanyalah sebuah kesia-siaan. Namun kita juga harus terus instropeksi diri, bahwa akan selalu ada perubahan yang harus dilewati. Jangan sampai kita dikucilkan keadaan, untuk itu kita juga perlu melakukan perubahan. Perubahan yang merupakan panggilan dan pilihan hati nurani, bukan memaksakan pilihan yang hanya menjadikan kita sama dengan yang lainnya.
Hidup atau mati. Takdir Tuhan telah tercatat dan pasti terjadi, jadi untuk apa kita mencoba memungkirinya apa lagi mendahuluinya. Setiap yang bernyawa pasti akan mati, tak perlulah kita mencoba membunuh diri sendiri karena tanpa dimintapun pasti suatu saat kita akan mati. Kebanyakan orang mencoba mengakhiri hidupnya karena takut menghadapai kenyataan, padahal Tuhan tidak mungkin menguji umat-Nya diluar batas kemampuannya. Bertahan hidup adalah hal yang mulia, dan tak akan merugikan karena dibalik setiap ujian pasti akan ada hal terbaik yang telah dipersiapkan Tuhan untuk kita.

Yakinlah pada setiap apa yang diteriakkan hati nuranimu, siapa lagi yang dapat kau percaya selain dirimu dan Tuhan...
Pilihlah Jalan Mu Sendiri...

Senin, 23 Agustus 2010

begitu egois

10:02 PM 8/13/2010
Semua begitu rumit untuk saat ini. Gw seakan menjadi seorang yang paling egois, ditengah begitu banyak pilihan yang ada saat ini. Gw memang gak bisa memilih, dan berniat hanya ingin menikmati semua ini selagi bisa. Apa itu salah ?
Rasanya bosan jika harus membiarkan diri ini larut dalam penyesalan yang tak ada habisnya, dan harus merindu sesuatu yang tak mungkin bisa dimiliki. Tapi Gw juga gak mungkin membohongi diri sendiri, Gw butuh seorang penyelamat dari jurang kehancuran dan derita ini. Gw terlanjur bertindak terlalu keras pada diri sendiri, berarti Gw harus terus berkeras hati sampai akhir.
Saat ini Gw cukup puas, karena semua orang yang Gw sayang ada didekat Gw. Dan Gw akan mengorbankan apapun demi kebersamaan yang telah Gw nantikan sejak lama ini. Apapun, walau itu berarti harus rela melihat mereka bahagia dengan orang lain...

Gw menyesal karena pernah menyia-nyiakan hidup ini, sehingga terlalu banyak hal yang terlewatkan. Gw harap Gw masih memiliki cukup banyak waktu untuk mengganti apa yang sudah terlewatkan, dan menikmati setiap detik yang lupa Gw syukuri. Karena Gw tau, Gw berhak melihat hari esok, sehingga sampai saat ini Gw bertahan untuk terbangun di esok pagi.

Rabu, 14 Juli 2010

why

Kenapa semua harus begini, Gw selalu salah dimata orang-orang yang Gw sayang. Semua pengorbanan ini rasanya hanya sebuah kesia-siaan dimata mereka. Kenapa ?...
Adakah seseorang yang bisa menjelaskan kepada Gw, kenapa semua ini harus terjadi ?
Dimana salah Gw, apa semua ini sebuah kesalahan ? mencintai orang yang salah ? berada disituasi yang salah ? ataukah jalan hidup yang Gw pilih juga suatu kesalahan ?
Ingin rasanya Gw bagi luka ini pada seseorang, tapi tak sampai hati rasanya menyeret orang lain kedalam duka ini. Setiap detik hidup ini rasanya begitu rumit.
Mustahil rasanya mengharapkan hidup ini selalu berjalan mulus, tetapi Gw bukan orang yang munafik dengan membenci suatu masalah. Semua ini adalah titik awal dari rencana Tuhan untuk Gw, cuma itu yang sekarang bisa Gw pikirkan sebagai kesimpulan sesaat yang akan mengganjal luka hati.

Senin, 21 Juni 2010

just me

Gw harus memilih, atas hidup gw yang amat rumit ini. Menyakiti diri sendiri, atau dia. Memang nggak seharusnya begitu, seharusnya nggak ada yang terluka ataupun merasa dirugikan. Tapi beginilah adanya, hanya seberkas mimpi2 yang menemani gw selama ini. Semakin hari gw semakin tersiksa dengan penyesalan itu, terlalu banyak luka yang gw toreh sama orang lain yang sudi menjanjikan sebuah kebahagiaan, walau mungkin sesaat. Gw patut dibenci, tapi jangan jauhi gw. Kasih gw pengampunan dengan mengizinkan gw melihat wajah lo, yang gw harap senantiasa melukiskan secercah kebahagiaan. Biarkan gw terus begini, gw akan meneruskan semua kisah tak berujung ini dengan cara gw, jangan pernah ada orang yang merasa harus bertanggung jawab atas hidup gw yang semakin tak terkendali ini. Mungkin ini pilihan yang gw buat tanpa gw sadari, sudah seharusnya gw bertanggung jawab atas hidup gw sendiri. Proses pendewasaan ini memang teramat berat, semoga dapat benar2 memberikan sebuah makna yang walaupun tak begitu menyenangkan tapi bisa menjadi kisah yang dapat diceritakan kembali.

Teruntuk lo, gw harap suatu ketika lo akan tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kita. Gw harap semua kesalah pahaman ini segera berakhir, dan kita bisa mulai dari awal lagi. Tolong beri gw satu kesempatan untuk menjelaskan semua, gw juga teramat ingin mengucapkan terima kasih atas semua yang selama ini pernah lo korbankan. Jangan salahkan diri lo, semua sudah terjadi, biarkan berlalu. Sampai saat itu tiba, mungkin penantian ini akan terus melukai. Tapi lo tetap sebuah sumber energi yang akan membuat gw nggak akan berhenti untuk bangkit walau sudag jatuh tersempas sekeras apapun. Ini bukan lagi sekedar cinta, tapi lebih dari sebuat pengorbanan jiwa yang tak akan pernah berakhir.

It's Over

Semua ini membuat Gw mulai meragu untuk kesekian kalinya.
Kenapa semua kepercayaan Gw dibalas dengan cara yang begitu hina, sebegitu nggak berartinya diri Gw untuk mereka.
Susah payah Gw yakinin diri Gw, berusaha menerima mereka dengan segala kekurangannya. Tapi yang Gw dapet hanya dusta.
"Setidaknya sebuah pemberitahuan adalah bukti penghargaan."
Sekarang Gw hanya bisa membohongi diri Gw demi sebuah kedamaian sesaat, menganggap tak ada yang pernah terjadi.
Mungkin benar, Gw sudah kehabisan waktu. Dan Gw akan memanfaatkan sedikit sisa waktu ini dengan baik.
Bagaimanapun, Gw akan tetap membuka tangan ini untuk mereka. Tapi Gw juga akan belajar untuk lebih egois, Gw harap mereka mulai dapat menghargai Gw sejak mereka sadar akan ketidak beradaan Gw di antara mereka nanti.
It's Over. Nothing everlasting friends.

Minggu, 25 April 2010

look

Ketika kau mencintai seseorang, cintailah jiwanya, jangan hanya raganya.
Suatu pengharapan besar bukanlah suatu kesalahan, tetapi jangan pernah lupa untuk mengingat bahwa tidak semua hal akan seperti yang kita inginkan. Tetaplah tersadar agar kau bisa mengetahui, dan menikmati apa yang kau cintai.

Gw memang orang yang aneh, Gw akuin itu. Gw sangat percaya sama intuisi (kata hati) Gw sebagai seorang manusia normal, walau kadang dampaknya membuat Gw jadi orang yang nggak normal. Gw akan cerita tentang salah satu hal tergila yang Gw lakuin atas dasar kepercayaan terhadap intuisi yang berlebihan.
Sekitar 6 bulan yang lalu Gw memulai kisah konyol ini. Gw selalu berangkat pagi dari rumah, walaupun kadang kuliah Gw mulai tengah hari bolong. Tiap pagi Gw nebeng bokap sampe Blok M, dan ada kalanya sampe di Blok M masih terlalu pagi, padahal kalo di kampus pagi-pagi masih sepi. Alhasil Gw mesti muter otak biar bisa buang-buang waktu supaya sampe kampus agak siangan dikit, walau kadang mepet jam masuk.
Gw pun mutusin untuk naik busway tiap pagi, soalnya bisa bikin Gw lumayan sibuk dengan transit, dan ngebuang waktu dengan efektif. Di suatu pagi Gw sampe di Blok M masih sekitar jam 6 lewat, padahal kuliah Gw jam 10. Otak Gw pun berpikir keras lagi, apa kira-kira yang bisa Gw lakuin buat ngulur waktu ? Ya akhirnya Gw duduk-duduk aja di lobby terminal, sambil nunggu agak siangan, biar sampe kampus agak siang.
Di lobby itu ada 4 kursi panjang berjejer, Gw duduk di kursi ke tiga dari tempat pembelian tiket. Waktu itu dari pada bengong Gw mutusin untuk perhatiin orang-orang yang lewat didepan Gw. Dan akhirnya Gw menemukan sosok itu sedang duduk sendiri di kursi pertama.
Dia cowo dengan tubuh lumayan kurus, rambutnya gaya imo ditutupin sama topi jaket yang dia pake. Seinget Gw dia selalu pake headset, dengerin musik dari handphone-nya. Dia selalu duduk agak merosot, yang Gw pikir dia lagi ogah-ogahan atau mulai bosen nunggu. Raut mukanya datar, dan cuma merhatiin orang-orang yang lewat didepan dia .
Sekali, dua kali, tiga kali.... Kok dia selalu duduk disana setiap Gw duduk-duduk lagi di lobby, rasa penasaran Gw mulai muncul.
Gw perhatiin gaya dan sikapnya selalu sama tiap hari. Sebelumnya Gw selalu berangkat duluan naik busway, tapi karena rasa penasaran akhirnya Gw beraniin diri berangkat setelah dia berangkat. Ternyata dia nunggu temen-temennya, satu cewe, dan dua cowo, yang satu lebih pendek dari dia, yang satu lagi lebih tinggi dari dia. Keesokan harinya Gw berusaha bisa satu bus sama dia, tapi selalu gagal. Gw yakin banget dia anak kuliahan, tapi kuliah dimana ?
Tiga bulan hampir berlalu, Gw mulai ngajak temen Gw naik busway dan cerita tentang cowo itu. Gw terus berusaha biar bisa satu bus, tapi lagi-lagi gagal. Suatu hari Gw harus sampe kampus pagi, jadi Gw nggak bareng sama temen Gw. Dan ternyata waktu Gw baru aja sampe kampus temen Gw SMS, “Feb, Gw punya kabar bahagia buat Lo. Ternyata cowo itu satu kampus sama kita. Tadi Gw satu bus sama dia.” Wow… kejutan yang nggak pernah terduga.
Keesokan harinya Gw duduk ditempat yang sama, dan akhirnya bisa satu bus sama dia. Gw perlambat langkah Gw, dengan harapan dia nggak sadar Gw perhatiin. Ternyata bener dia satu kampus sama Gw. Tapi Gw belum bisa tau dia jurusan apa. Nggak masalah, Gw mulai semangat. Dengan Gw tau dia kuliah satu kampus sama Gw, berarti waktu Gw untuk mengenal dia masih banyak.
Sayangnya Gw mulai jarang naik busway karena udah kesiangan pasti butuh waktu yang lebih lama, makannya Gw juga jadi lebih jarang perhatiin dia lagi. Suatu ketika intuisi Gw mulai bekerja, Gw ngerasa ada sesuatu sama dia. Gw semakin sering satu bus sama dia.
Ternyata dia mulai menyadari keberadaan Gw. Apalagi waktu itu Gw selalu pake pakaian yang menarik perhatian, kadang pake jeans sama jaket kegedean gaya tomboy andalan Gw, kadang juga pake rok motif bunga-bunga warna ceria yang pasti menarik perhatian orang. Tapi dari yang Gw tangkep, sepertinya yang pertama menyadari keberadaan Gw adalah salah satu temen cowo dia yang tingginya lebih pendek dari dia.
Butuh waktu hampir sebulan sebelum Gw sadar kalo ternyata dia mulai ganti gayanya. Dia mulai keliatan lebih santai, dan tersenyum. Gw hampir luluh sama senyumannya. Mungkin terpengaruh kepercayaan Gw sama intuisi Gw yang yakin kalo dia punya sesuatu dalam dirinya, Gw semakin termotivasi untuk mengenal dia.
Dan beberapa bulan kemudian, entah perasaan Gw aja atau memang bener, ternyata dia dam teman-temannya mulai sengaja biar jalan dibelakang Gw. Sepertinya juga mulai penasaran dengan siapa Gw, ya tapi mungkin ini cuma perasaan Gw.
Suatu hari kita mau naik bus di terminal Blok M, dan cowo itu kedorong antrian penumpang dibelakangnya, alhasil dia masuk bus dan ninggalin temen-temennya. Sekilas Gw denger salah satu temennya manggil dia dengan nama ‘Amy’, nggak tau juga sih kalo Gw salah denger. Waktu transit di Dukuh Atas dia nunggu temennya, dan Gw sengaja jalan dibelakang mereka. Begitu sampe kampus Gw tetep berusaha jalan dibelakang mereka, dan ternyata dia belok memasuki area gedung jurusan ilmu kesejahteraan keluarga. Seenggaknya Gw jadi bisa menerka jurusan dia dengan kejadian itu.
Hampir setiap hari sikap dia mulai berubah jadi periang. Gw jadi lebih penasaran lagi. Sayangnya Gw mulai jarang sampe pagi di Lobby itu, mungkin dia udah berangkat waktu Gw dateng. Sampai akhirnya suatu hari Gw berharap bisa ketemu dia, tapi nyaris putus asa. Waktu transit Gw berusaha mencari sosok dia diantara antrian penumpang, nggak berapa lama Gw lihat salah satu temennya, dan secara nggak langsung Gw berharap ada dia juga disana. Ternyata teman cowo itu memperlambat jalannya, dan akhirnya berdiri di antrian yang nggak jauh dari Gw. Kita ada diantrian tengah. Dan WOW…. Ternyata cowo itu berdiri didepan Gw persis, padahal dari tadi Gw terus nyari sosok dia dibarisan depan. Pantes Gw nggak bisa ngenalin dia, sekarang dia lebih santai dan rambutnya dipotong cepak….
Beberapa hari setelah kejadian itu Gw sesekali satu bus lagi sama dia, bahkan duduk dalam jarak yang lumayan dekat. Gw terus melihat banyak perubahan sama dia, dan dia juga mulai terbiasa dengan keberadaan Gw.
Sampe sekarang Gw memang masih percaya sama intuisi Gw yang bilang bahwa dia memiliki sesuatu yang menarik, tapi nggak pernag ada keberanian Gw untuk melangkah lebih jauh dari sekedar memperhatiakan tiap gerak-geriknya dari jauh. Temen-temen Gw selalu ngedesak Gw untuk nekat aja kenalan sama dia, tapi Gw terlalu pengecut untuk hal ini.
Gw yakin usaha Gw nggak akan sia-sia. Suatu saat nanti Gw akan tau apa yang istimewa dari dia, entah bagaimana caranya. Ini memang hal konyol yang nggak akan pernah masuk akal, tapi selama Gw menikmatinya Gw akan terus melangkah sedekat mungkin dari dia dan memperhatikannya.
Hari ini Gw satu bus lagi sama dia. Gw mulai terbiasa lagi, dan bisa mendengar suaranya.

Minggu, 11 April 2010

love

Saat nulis ini Gw bener-bener dalam keadaan depresi, amarah Gw meluap-luap. Sampai tangan Gw rasanya ingin mencengkeram seseorang, sampai dia mati lemas kalo perlu. Tapi seperti yang udah Gw bilang sebelumnya, Gw adalah orang yang kelewat sabar. Bahkan Gw rela ngorbanin apapun demi orang yang Gw sayang, sekalipun itu artinya harus kehilangan kebahagiaan Gw seumur hidup, tapi sayang nggak ada yang mau menyadari itu semua.
Ini tentang seseorang yang sampai sekarangpun masih memiliki ruang tersendiri dihati Gw, walaupun semua sebenarnya sudah berakhir sejak hampir 7 tahun silam. Gw punya banyak nama samaran untuk dia, kaya’ : angin; karena dia suka datang dan pergi dalam hidup Gw dengan sesuka hatinya, elmo ; karena dia aneh dan mukanya suka berubah merah kalo emosinya meluap, badut : karena dia seakan selalu memakai topeng badut yang lucu dibalik keburukannya, dan banyak lagi sebutannya, pembohong, pendusta, penghianat…. Sekarang sebut aja Awan.
Gw adalah orang yang sedikit aneh, selain karena Gw berkembang dengan terlalu cepat untuk anak seumuran Gw dan juga karena memang Gw udah rasain asam garam dunia sejak Gw masih cukup belia.
Gw nggak tahu pasti kapan rasa cinta Gw ke Awan mulai tumbuh, yang pasti waktu pengumuman lulus-lulusan SD Gw udah pernah bikin komitmen sama dia. Awalnya Gw percaya Awan, percaya banget, melebihi kepercayaan Gw sama diri Gw sendiri. Gw bahkan berdo’a agar semua ini nggak akan pernah berakhir, nggak perduli apa kata orang.
Tapi semua tiba-tiba berubah ketika memasuki SMP. Awan termaksud orang yang “populer”, dalam artian kelewat ganteng dan baik dimata orang. Alhasil banyak yang sepertinya nggak suka lihat kebahagiaan Gw tepatnya. Sebenernya Gw belum yakin juga sama hal ini, karena hal ini juga kemungkinan adalah pertanda dini dari Tuhan untuk Gw agar mulai mengurangi rasa terlalu percaya dan harapan Gw ke Awan.
3 tahun kala itu sangat menyakitkan. Satu sekolah, terlalu banyak kabar nggak ngenakin tentang Awan, melihat wajahnya yang seharusnya mulai Gw lupain, dan beratus malam yang Gw lewatin dengan isak tangis yang memilukan.
Sebenernya Gw adalah orang yang nggak suka hal-hal yang terlalu beresiko, tapi inilah saat kali pertama Gw harus memulai semua dari awal. Masa SMA yang katanya menyenangkan jadi sedikit menyiksa Gw, tekanan, tuntutan disana sini, adaptasi dengan dunia baru yang lebih gila. Ya, Gw masuk salah satu SMA yang cukup terpandang, dengan teman dan lingkungan baru. Dan Gw harap semua ini bisa membantu Gw melupakan Awan.
Tahun pertama terlewati dengan cukup merepotkan, pemberontakan mulai dimulai. Emosi yang tertahan mulai timbul kepermukaan, tapi sekali lagi Gw adalah orang yang kelewat sabar, hingga akhirnya Gw menjadi seorang perenung kelas berat dan memilih menarik diri dari lingkungan. Ini Gw lakuin karena Gw nggak mau terjerumus, tapi juga karena Gw sadar diri, Gw nggak sesempurna orang-orang disekeliling Gw saat itu, makannya Gw takut mereka juga akan campakin Gw nantinya.
Gw mulai kehilangan kepercayaan sama siapapun, nggak ada yang namanya SAHABAT dikamus GW. Dan semua berjalan begitu saja, hanya sesekali air mata menetes jika merasa kesepian.
Sesekali Gw coba mencintai seseorang dengan selektif ala Gw. Tapi akhirnya Gw sadar kalo semua itu nggak akan mungkin terjadi untuk kedua kalinya, sebelum Gw denger sendiri dari mulut Awan kalo dia nggak menginginkan Gw lagi.
Tahun keduapun hampir demikian. Tetapi dipenghujung tahun semua berubah.... Awan lagi-lagi muncul dihadapan Gw tanpa undangan sama sekali. Ini adalah pukulan terbesar buat Gw. Setelah Gw hampir bisa menerima kenyataan, melupakan semua kebohongan yang membutakan, kenapa dia mesti datang. Gw tahu suatu saat momen ini akan datang, tapi Gw nggak nyangka harus secepat ini. Rasanya semua usaha Gw sia-sia, cinta Gw, jiwa muda Gw, obsesi Gw mulai menggebu meminta pertanggung jawabannya.
Hal yang nggak terduga itupun terjadi. Ternyata Awan menyambut harapan Gw, dan semua berjalan dengan baik pada awalnya. Saat itu lagi-lagi mata hati ini dibutakan. Gw sama sekali nggak pernah berpikir kalau suatu saat Awan pasti akan pergi lagi, tapi yang Gw tahu saat itu adalah Gw harus berbuat hal semaksimal mungkin menebus atas apa yang telah Gw lewatkan selama ini.
Kala itu Gw sudah memilih untuk tidak menjadi orang yang bebas, ini demi orang OTORITER yang sangat Gw hormati.
Tiba-tiba Awan mulai berubah, mulai mengisyaratkan akan kepergiannya kembali. Namun kali ini lebih parah, karena hal ini terjadi disaat mimpi terburuk dalam hidup Gw terjadi. Gw sama sekali nggak nyangka, dia setega itu... bahkan tanpa kata perpisahan, dan maaf.
Setidaknya ditahun ketiga semua lebih baik dari pada sebelumnya. Ada seseorang yang mulai dapat Gw percaya, dia setia menemani Gw untuk waktu yang cukup lama. Walaupun akhirnya sekarang dia juga pergi, tapi setidaknya Gw nggak terlalu down karena udah pernah ngalamin hal ini sebelumnya. Gw pun mulai memutuskan menoreh kata SAHABAT didalam kamus kehidupan Gw, dan memang itu membuahkan hasil samapai sekarang.
Dan sekarang, setelah sekian lama semua mulai terulang. Awan datang lagi dihadapan Gw, bahkan mencoba menjadi teman Gw. Disaat dalam dunia maya mungkin Gw masih bisa menahan emosi Gw dan bersikap baik sama Awan, tetapi kalo udah tatap muka jangan harap Gw akan tersenyum, melihat wajahnya aja enggan.
Mungkin Awan nggak pernah ditakdirkan untuk Gw, tapi selama ini Gw egois karena terus menginginkan Awan hanya untuk Gw. Dan akhirnya setelah semua ini, terbentuklah suatu konsep dalam pikiran Gw bahwa, “Cinta tak harus memiliki.” Mungkin rasa cinta ini nggak akan peernah mati, karena bagai manapun dia adalah cinta pertama, guru realita pertama, dan harapan pertama yang pernah Gw alami satu kali dalam kehidupan singkat Gw yang cukup rumit ini.
Betapa cinta itu sederhana, namun sayang kita terlalu terbutakan olehnya, sehingga membuatnya menjadi rumit. Terlalu banyak realita cinta yang telah kita lihat, dan itu menyugesti kita bahwa konsep cinta seperti yang demikian. Tetapi kita haruslah logis dalam memangdang itu, ini hidup kita, bukan cerita di sinetron yang naskahnya sudah ditulis lebih dahulu.
Suatu saat cinta Gw akan disadari oleh Awan, entah bagai mana caranya. Karena Gw nggak akan pernah lagi mencoba memusnahkan rasa cinta itu, biarkan itu menjadi kekuatan terpendam dalam diri Gw.
Cintai lah orang yang Loe cinta dengan dewasa. Biarkan dia berbahagia, walaupun itu artinya Loe yang harus kehilangan kebahagiaan bersama dia. Tuhan Maha Tahu segala upaya Loe, dan semua akan terbalas, minimal suatu pendewasaan diri yang lebih baik.

just my feeling

Selama ini nggak ada satu orangpun yang pernah bener-bener ingin tahu apa yang Gw mau…
Apa memang Gw yang terlihat terlalu kuat, sampai-sampai mereka kira Gw nggak butuh bantuan apapun. Ataukah memang karena mereka sama sekali nggak menganggap keberadaan Gw.
Satu-persatu orang yang Gw sayang pergi, jasad mereka memang disini, tapi jiwa mereka hilang karena terkikis zaman.
Gw udah cukup sabar menunggu, tapi kelihatannya malah memperburuk keadaan. Diam Gw nggak terjawab sama sekali, suara Gw pun seakan nggak didengar. Ingin rasanya mengakhiri, tapi bagai mana ??..
Gw memang bukan siapa-siapa, tapi Gw juga manusia biasa yang butuh dimengerti dan dianggap. Gw memang terlalu sabar. Kelewat sabar untuk ukuran Gw yang udah bertahun-tahun berkutat dalam LINGKARAN SETAN….

Rabu, 31 Maret 2010

whai it is ?

‘CINTA’, rasanya bosan mendengar kata itu.
Berkali-kali sudah ku terjatuh di lubang yang sama, terhasut oleh janji kesetiaan yang abadi. Mata ini sudah buta akan rupa sang cinta yang di agungkan para pemujanya, hati ini pun telah membeku tak lagi dapat merasakan kehangatan cinta. Sesalku tak akan merubah apapun. Kini aku hanya dapat terdiam di sudut ini, bergelut dengan kegelapan. Berharap ada satu cinta yang dapat mempercayai ku, dan rela bersusah payah merangkul ku.

Rabu, 03 Februari 2010

Bertahan demi sebuah harapan

Suatu ketika ku berharap, "semoga ini segera berakhir !!!" Tetapi semakin lama kucoba melupakan semua itu, semakin sering bayang itu bertubi menghampiri ku. Sulit ketika harus menghadapi kenyataan itu.

Hingga akhirnya aku tersadar, bahwa semua ini bukan untuk dilupakan, tetapi dihadapi dengan lapang. Karena ketika dia memutuskan untuk pergi, sebenarnya aku telah diberikan kebebasan untuk memperoleh yang lebih baik.

Kini aku bertahan untuk sebuah pengharapan yang lebih menjanjikan... Namun melelahkan...

Semoga dia yang pernah terluka, dan melukai ku tersadar akan kenyataan pahit akan rasa yang tak terbalaskan ini. Dan biarkan semua ini berlalu, namun membekukan hati.

Untuk mu : jangan lagi kau permainkan diri mu sendiri. Semua yang pernah kau miliki adalah anugerah, dan yang akan kau dapatkan masihlah semu.

Sabtu, 16 Januari 2010


Aku tahu betul bagaimana hidupku.
Tapi yang aku sama sekali tak dapat mengerti adalah perasaanku ini.
Mengapa CINTA ini sulit disesuaikan dengan kondisiku ?
Sudah sekian tahun ku lalui, beribu jam coba ku lupakan, berjuta menit kuhabiskan untuk meratapi, tetapi beratus – ratus juta detik pula rasa cinta ini mencoba memaksaku merindunya.
Sesal ini sudah bosan ku alami, namun tetap ku abaikan demi menahan perih yang semakin nyata jika ku tolak.
Ingin ku tinggalkan, ku lupakan semua ini, namun terlalu mengakar hingga sulit tergoyahkan.
Hanya air mata yang dapat mengerti rasa ku. Dan akan tetap begitu hingga akhirnya.

Minggu, 10 Januari 2010

The great first day in new year 2010


Trip to KOTA until BOGOR
Putri Anisa Yuliani, Fitri Aprilia Sari, and Febriyani Istiqomah.
Akhirnya planning kita ber-3 terwujud juga. Setengah tahun bukan waktu yang singkat, tapi benar kata Iman Wahidin Al Anshar (temen SMP Gw) nggak ada penantian yang sia – sia.
Today. First day in new year, 2010. Beautiful morning. Beautiful sunrise. But I’m not beautiful. Hehe. Perburuan waktu dimulai.
Planning awal : kumpul di depan loket Busway jam 09.00
Tapi memang dasar orang Indonesia, ngaretnya udah mendarah daging.
But, it’s ok.
Sekitar 09.30 pelukan kita menandai dimulainya petualangan gila ini. Wow, Pay udah beda, tambah alim aja, hehe...
Berhubung ini adalah hari libur nasional pasti banyak tempat yang tutup, dan kemungkinan besar museum, monas, dan tempat lain yang mau kita datengin tutup. Ya akhirnya Sari punya ide brilian, “Gimana kalo kita telpon museum sama monas dulu, buat pastiin mereka buka tau nggak !!”
Yah, ternyata nggak satupun telpon yang nyambung. Akhirnya kita buat kesimpulan sementara, semua tempat masih tutup.
Bermodal nekat mau lihat suasana Kota Tua itu gimana, kita langsung beli tiket Busway nggak pikir panjang lagi.
Seinget Gw, waktu itu kita semua sebenernya masih pada ngantuk, secara abis malem tahun baruan. Tapi nggak tau setan apa yang ngerasukin kita ber-3, mulut kita nggak bisa berhenti ngoceh, kaya’nya topik pembicaraan kita tuh nggak ada habisnya, sampe hal – hal sepele juga jadi seru.
Sampe di Kota, ternyata jauh dari dugaan kita. Tempatnya penuh, dan bener aja museum pada tutup.
Ya akhirnya cuma foto – foto ala kadarnya, hehe. Karena diantara kita nggak ada yang bawa kamera, maklum misscomunication. Walau kita cuma bisa bergantung sama kamera handphone’nya Sari yang batere’nya cuma tinggal satu, tapi acar foto – foto tetep seru. (Say chesee....)
Udah cape’ panas – panasan, kita beli Es Potong, yang kata Sari, “Nggak lengkap kalo ke Kota nggak beli Es Potong.”
Dan tiba – tiba ide gila itu muncul secara ajaib, “kita ke Bogor aja yuk !!” Siapa gerangan yang punya ide itu ya, kok nekat banget. Padahal duit dikantong sama – sama minim.
Planning ke-2 : Rp.50.000 segala – galanya.
Nggak ada yang bawa uang lebih, bahkan Sari bawa uang kurang dari 50rb. Ya dasar anak muda, nekat aja... Lets go...
Sebenernya kita mau ke Kebun Raya Bogor, but you know we’re money, it is so imposible... Ya akhirnya kita cuma mau numpang makan bekel kita, terus makan asinan, just it...
Semua jauh dari dugaan Gw, acara seneng – seneng kita jadi religius banget. Kita nggak terlambat sholat dzuhur, semua karena Pay (maklum anak UIN, hehe....).
12.40 kereta mulai bedecit, Bogor we’re coming !!!
Perjalanan panjang yang tak pernah terbayangkan. Terutama buat Gw. Seorang Febri bisa pergi sejauh ini tanpa pengawasan orangtua, kebebasan yang luar biasa.
Hampir dua jam kita berdiri diantara orang – orang yang nggak sama sekali kita kenal, yang mungkin punya niat jahat, atau apapunlah. Tapi kebersamaan kita ber-3, seakan membuat kita sekuat wonderwomen. No one can stop we’re.
14.30 kita menapakkan kaki ini diatas daratan Bogor. Haha.... benar – benar strong girl’s....
Kita langsung cari tempat yang enak, maksudnya taman. Tapi kok nggak ada yang sepi, ya sudahlah kita duduk ditempat sejadinya.
Makan bekel, terus beli Asinan Bogor, 1 piring ber-3. benar – benar romantis. (hehe... apa deh Gw...)
Sebenernya ini salah satu kebodohan kita, lupa nggak liat jadwal keberangkatan kereta.
15.30 kita sholat ashar dulu, lagi – lagi berkat Pay yang selalu mengingatkan. Setelah bingung cari tempat, akhirnya kita ke Bogor Squere.
16.00 kita lari – lari kecil dari Bogor Squere ke Stasiun Kereta Bogor. Hujan kaya’nya nggak perduli kalo kita lagi buru – buru, tapi ini nambah gereget kita ber-3 untuk tetep semangat sampai akhir.
Ternyata ada kereta jam 16.20. padahal kita udah beli tiket jauh sebelum jam keberangkatan, dengan tujuan supaya dapet tempat duduk, tapi sepertinya semua tinggal isapan jempol belaka. Karena waktu kita mau naik, kereka udah penuh sesak. Kita sampe harus lari ke gerbong paling depan supaya dapet tempat yang lumayan longgar, dan supaya nggak ketinggalan kereta. Ini semua karena kita terlalu asik bereksperimen pake kamera handphone’nya sari yang ajaib sampe sore gini belum mati. Tapi kita nggak nyesel, karena semua hasilnya BAGUSSS...
Udah hampir memasuki wilayah Jakarta, kita baru dapet tempat duduk. Dan Pay berkata, “Akhirnya kita bisa ngerasain duduk dikereta.” Buat kita, naik kereta kali ini berasa lagi mudik masal. Penuh keluarga lengkap dengan anak – anaknya, dan sampah makanan disana – sini.
17.40 kita sampai di Stasiun Kota, nggak ada istirahat. Kita langsung beli tiket Busway, menuju Blok M.
18.30 Kita udah di Blok M lagi. Huhh, hari yang melelahkan.
Walau kita harus pisah lagi, tapi kita nggak sedih. Karena kita udah buat planning baru untuk waktu dekat ini. Ke Kota / Bogor. Tapi dengan budget yang memadai kali ini.


Kita merasakan begitu besarnya kasih sayang Tuhan hari ini.
Semua seperti sebuah skenario panjang dengan akhir yang membahagiakan. Thank’s God for all.


Mungkin semua yang Gw ceritain ini nggak secara menditail, karena semua itu terlalu menyenagkan, sampai – sampai sulit diungkapkan dengan kata – kata.
Tapi satu yang pasti, semua ini akan tersimpan dalam memori kita ber-3, untuk selamanya.


When night in new year, Pay said, “Happy new year, I hope we will be friend forever.” Kaya’nya gitu, lupa sih. Hehe...