Total Tayangan Halaman

INILAH KISAH KU

Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.

Minggu, 11 April 2010

love

Saat nulis ini Gw bener-bener dalam keadaan depresi, amarah Gw meluap-luap. Sampai tangan Gw rasanya ingin mencengkeram seseorang, sampai dia mati lemas kalo perlu. Tapi seperti yang udah Gw bilang sebelumnya, Gw adalah orang yang kelewat sabar. Bahkan Gw rela ngorbanin apapun demi orang yang Gw sayang, sekalipun itu artinya harus kehilangan kebahagiaan Gw seumur hidup, tapi sayang nggak ada yang mau menyadari itu semua.
Ini tentang seseorang yang sampai sekarangpun masih memiliki ruang tersendiri dihati Gw, walaupun semua sebenarnya sudah berakhir sejak hampir 7 tahun silam. Gw punya banyak nama samaran untuk dia, kaya’ : angin; karena dia suka datang dan pergi dalam hidup Gw dengan sesuka hatinya, elmo ; karena dia aneh dan mukanya suka berubah merah kalo emosinya meluap, badut : karena dia seakan selalu memakai topeng badut yang lucu dibalik keburukannya, dan banyak lagi sebutannya, pembohong, pendusta, penghianat…. Sekarang sebut aja Awan.
Gw adalah orang yang sedikit aneh, selain karena Gw berkembang dengan terlalu cepat untuk anak seumuran Gw dan juga karena memang Gw udah rasain asam garam dunia sejak Gw masih cukup belia.
Gw nggak tahu pasti kapan rasa cinta Gw ke Awan mulai tumbuh, yang pasti waktu pengumuman lulus-lulusan SD Gw udah pernah bikin komitmen sama dia. Awalnya Gw percaya Awan, percaya banget, melebihi kepercayaan Gw sama diri Gw sendiri. Gw bahkan berdo’a agar semua ini nggak akan pernah berakhir, nggak perduli apa kata orang.
Tapi semua tiba-tiba berubah ketika memasuki SMP. Awan termaksud orang yang “populer”, dalam artian kelewat ganteng dan baik dimata orang. Alhasil banyak yang sepertinya nggak suka lihat kebahagiaan Gw tepatnya. Sebenernya Gw belum yakin juga sama hal ini, karena hal ini juga kemungkinan adalah pertanda dini dari Tuhan untuk Gw agar mulai mengurangi rasa terlalu percaya dan harapan Gw ke Awan.
3 tahun kala itu sangat menyakitkan. Satu sekolah, terlalu banyak kabar nggak ngenakin tentang Awan, melihat wajahnya yang seharusnya mulai Gw lupain, dan beratus malam yang Gw lewatin dengan isak tangis yang memilukan.
Sebenernya Gw adalah orang yang nggak suka hal-hal yang terlalu beresiko, tapi inilah saat kali pertama Gw harus memulai semua dari awal. Masa SMA yang katanya menyenangkan jadi sedikit menyiksa Gw, tekanan, tuntutan disana sini, adaptasi dengan dunia baru yang lebih gila. Ya, Gw masuk salah satu SMA yang cukup terpandang, dengan teman dan lingkungan baru. Dan Gw harap semua ini bisa membantu Gw melupakan Awan.
Tahun pertama terlewati dengan cukup merepotkan, pemberontakan mulai dimulai. Emosi yang tertahan mulai timbul kepermukaan, tapi sekali lagi Gw adalah orang yang kelewat sabar, hingga akhirnya Gw menjadi seorang perenung kelas berat dan memilih menarik diri dari lingkungan. Ini Gw lakuin karena Gw nggak mau terjerumus, tapi juga karena Gw sadar diri, Gw nggak sesempurna orang-orang disekeliling Gw saat itu, makannya Gw takut mereka juga akan campakin Gw nantinya.
Gw mulai kehilangan kepercayaan sama siapapun, nggak ada yang namanya SAHABAT dikamus GW. Dan semua berjalan begitu saja, hanya sesekali air mata menetes jika merasa kesepian.
Sesekali Gw coba mencintai seseorang dengan selektif ala Gw. Tapi akhirnya Gw sadar kalo semua itu nggak akan mungkin terjadi untuk kedua kalinya, sebelum Gw denger sendiri dari mulut Awan kalo dia nggak menginginkan Gw lagi.
Tahun keduapun hampir demikian. Tetapi dipenghujung tahun semua berubah.... Awan lagi-lagi muncul dihadapan Gw tanpa undangan sama sekali. Ini adalah pukulan terbesar buat Gw. Setelah Gw hampir bisa menerima kenyataan, melupakan semua kebohongan yang membutakan, kenapa dia mesti datang. Gw tahu suatu saat momen ini akan datang, tapi Gw nggak nyangka harus secepat ini. Rasanya semua usaha Gw sia-sia, cinta Gw, jiwa muda Gw, obsesi Gw mulai menggebu meminta pertanggung jawabannya.
Hal yang nggak terduga itupun terjadi. Ternyata Awan menyambut harapan Gw, dan semua berjalan dengan baik pada awalnya. Saat itu lagi-lagi mata hati ini dibutakan. Gw sama sekali nggak pernah berpikir kalau suatu saat Awan pasti akan pergi lagi, tapi yang Gw tahu saat itu adalah Gw harus berbuat hal semaksimal mungkin menebus atas apa yang telah Gw lewatkan selama ini.
Kala itu Gw sudah memilih untuk tidak menjadi orang yang bebas, ini demi orang OTORITER yang sangat Gw hormati.
Tiba-tiba Awan mulai berubah, mulai mengisyaratkan akan kepergiannya kembali. Namun kali ini lebih parah, karena hal ini terjadi disaat mimpi terburuk dalam hidup Gw terjadi. Gw sama sekali nggak nyangka, dia setega itu... bahkan tanpa kata perpisahan, dan maaf.
Setidaknya ditahun ketiga semua lebih baik dari pada sebelumnya. Ada seseorang yang mulai dapat Gw percaya, dia setia menemani Gw untuk waktu yang cukup lama. Walaupun akhirnya sekarang dia juga pergi, tapi setidaknya Gw nggak terlalu down karena udah pernah ngalamin hal ini sebelumnya. Gw pun mulai memutuskan menoreh kata SAHABAT didalam kamus kehidupan Gw, dan memang itu membuahkan hasil samapai sekarang.
Dan sekarang, setelah sekian lama semua mulai terulang. Awan datang lagi dihadapan Gw, bahkan mencoba menjadi teman Gw. Disaat dalam dunia maya mungkin Gw masih bisa menahan emosi Gw dan bersikap baik sama Awan, tetapi kalo udah tatap muka jangan harap Gw akan tersenyum, melihat wajahnya aja enggan.
Mungkin Awan nggak pernah ditakdirkan untuk Gw, tapi selama ini Gw egois karena terus menginginkan Awan hanya untuk Gw. Dan akhirnya setelah semua ini, terbentuklah suatu konsep dalam pikiran Gw bahwa, “Cinta tak harus memiliki.” Mungkin rasa cinta ini nggak akan peernah mati, karena bagai manapun dia adalah cinta pertama, guru realita pertama, dan harapan pertama yang pernah Gw alami satu kali dalam kehidupan singkat Gw yang cukup rumit ini.
Betapa cinta itu sederhana, namun sayang kita terlalu terbutakan olehnya, sehingga membuatnya menjadi rumit. Terlalu banyak realita cinta yang telah kita lihat, dan itu menyugesti kita bahwa konsep cinta seperti yang demikian. Tetapi kita haruslah logis dalam memangdang itu, ini hidup kita, bukan cerita di sinetron yang naskahnya sudah ditulis lebih dahulu.
Suatu saat cinta Gw akan disadari oleh Awan, entah bagai mana caranya. Karena Gw nggak akan pernah lagi mencoba memusnahkan rasa cinta itu, biarkan itu menjadi kekuatan terpendam dalam diri Gw.
Cintai lah orang yang Loe cinta dengan dewasa. Biarkan dia berbahagia, walaupun itu artinya Loe yang harus kehilangan kebahagiaan bersama dia. Tuhan Maha Tahu segala upaya Loe, dan semua akan terbalas, minimal suatu pendewasaan diri yang lebih baik.

Tidak ada komentar: