Total Tayangan Halaman

INILAH KISAH KU

Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.

Minggu, 26 Agustus 2012

I'm not a BOY

Aku selalu bertanya mengapa aku dilahirkan sebagai anak perempuan? Apa Tuhan tidak salah, memangnya apa yang Dia rencanakan sebenarnya.
Jelas terlihat, sebuah foto usang tergantung dikamar ku. Itu foto ku saat mungkin berusia 1 tahun. Sepertinya baru bisa berjalan, dan aku terlihat sangat bahagia saat itu. Tapi aneh, baju yang ku kenakan bertuliskan kata BOY. Apa orangtua ku salah membeli baju, atau tidak tau apa arti kata BOY?
Saat aku kelas 3 SD, ibu ku membelikan ku dasi sekolah, satu untuk dipasangkan dengan seragam putih-merah, dan satu untuk seragam pramuka. Dan keduanya salah, itu dasi untuk anak laki-laki. Ayah ku pun salah membelikan topi pramuka, dia memberi ku topi pramuka untuk anak laki-laki.
Sepatu termanis yang pernah ku miliki adalah sepatu saat aku TK. Sebuah sepatu transparan, yang ku sebut sepatu kaca Cinderlela. Dan sepatu ku saat kelas 1 SMP, karena itu terlihat seperti sepatu perempuan, alasnya tinggi terlihat seperti sepatu highheels. Tapi selebinya hanya sepatu kets, yang tak jelas untuk anak perempuan atau laki-laki. Bahkan belakangan aku baru sadar kalau aku juga sering memakai sepatu olahraga ayahku, sepatu untuk bermain bulutangkis dan sepatu bola.
Ayah ku selalu membelikan ku kaos, walupun ibu ku selalu membelikan ku baju berwarna pink. Tetap saja keduanya tidak ada yang ku sukai.
Saat aku masih kecil ayah juga sangat sering mengajak ku pergi memancing. Dulu dia pernah berkata, "Saat menunggu ikan memakan umpan itu sangat menenangkan, dan saat kita mendapatkan ikan itu sangat menyenangkan." Ya, mungkin itu cara dia menenangkan diri saat banyak pikiran membebaninya. Tapi itu menjadi bumerang bagi ku saat ini. Entah mengapa aku jadi tidak suka makan ikan, sungguh menyiksa. Tidak bisa memakan ikan hasil pancingan ayah sendiri, tak bisa makan dengan suka cita lagi bersama mereka.
Mereka selalu berpesan agar aku dapat menjadi kuat, dapat menjadi tumpuan keluarga kelak dan menjadi contoh bagi adik-adik ku.
Ayah ku melarang ku menangis, cengeng katanya, tak ada gunanya. Sendiri ku selalu, tak ingin ku bebani orang lain, hanya diam yang menyiksa ku pada akhirnya.
Ya, semua itu yang ada dibenak ku dulu. Begitu banyak tanya dalam ketidaktahuan.
Hingga akhirnya di sini ku kini. Bagaikan besi yang ditempa dalam bara api, menjadi semakin pipih namun begitu tajam. Ku sadari banyak hal, aku belajar menjadi bijak dalam menjawab tanya ku sendiri.
Tuhan memang begitu Maha Esa. Inilah kuasa-Nya, inilah jawab dari-Nya setelah sekian lama.
Aku memang terlahir dengan ego yang besar, dengan ketetapan hati yang lurus. Seperti nama belakang ku, Istiqomah. Dan ini menjadi doa yang terkabul bagi kedua orangtua ku yang telah memberikan nama itu.
Ayah ku pun demikian, beliau adalah sosok tangguh yang juga sekeras baja.
Tak terbayangkan bukan, jika dua logam itu saling berbenturan. Mungkin salah satunya akan mati.
Tapi itu hanya akan terjadi jika aku adalah anak laki-laki. Nyatanya aku adalah seorang anak perempuan yang terikat dengan kodrat ku. Sungguh melegakan.
Ini membuat ku ingin menjadi air. Air yang menetesi batu, hari demi hari. Hingga akhirnya membuat batu itu berlubang. Membuat besi berkarat, menjadikannya semakin rapuh hingga mudah dipatahkan.
Sifat air ku hanya akan terjadi jika aku perempuan. Karena jika aku laki-laki, sifat air akan menjadikanku banci. (hahahaha....)
Betapa bersyukurnya aku saat ini. Menang hasil tempaan pada diri ku menyisakan sedikit maskulin dalam pribadi ku, tapi itu sangat bagus. Akan ku gunakan untuk menjaga orang-orang yang ku kasihi, terutama mereka yang telah menempa ku. Seburuk apapun cara mereka menempa, kini tak berarti lagi. Karena mereka telah membentuk hati berlian dalam tubuh lemah ku. Berlian yang kuat dan begitu indah.
Semua karena Tuhan tak akan menciptakan kesia-siaan.

Tidak ada komentar: