Aku selalu bertanya
mengapa aku dilahirkan sebagai anak perempuan? Apa Tuhan tidak salah, memangnya
apa yang Dia rencanakan sebenarnya.
Jelas terlihat,
sebuah foto usang tergantung dikamar ku. Itu foto ku saat mungkin berusia 1
tahun. Sepertinya baru bisa berjalan, dan aku terlihat sangat bahagia saat itu.
Tapi aneh, baju yang ku kenakan bertuliskan kata BOY. Apa orangtua ku salah
membeli baju, atau tidak tau apa arti kata BOY?
Saat aku kelas 3 SD,
ibu ku membelikan ku dasi sekolah, satu untuk dipasangkan dengan seragam
putih-merah, dan satu untuk seragam pramuka. Dan keduanya salah, itu dasi untuk
anak laki-laki. Ayah ku pun salah membelikan topi pramuka, dia memberi ku topi
pramuka untuk anak laki-laki.
Sepatu termanis yang
pernah ku miliki adalah sepatu saat aku TK. Sebuah sepatu transparan, yang ku
sebut sepatu kaca Cinderlela. Dan sepatu ku saat kelas 1 SMP, karena itu
terlihat seperti sepatu perempuan, alasnya tinggi terlihat seperti sepatu
highheels. Tapi selebinya hanya sepatu kets, yang tak jelas untuk anak
perempuan atau laki-laki. Bahkan belakangan aku baru sadar kalau aku juga
sering memakai sepatu olahraga ayahku, sepatu untuk bermain bulutangkis dan
sepatu bola.
Ayah ku selalu
membelikan ku kaos, walupun ibu ku selalu membelikan ku baju berwarna pink.
Tetap saja keduanya tidak ada yang ku sukai.
Saat aku masih kecil
ayah juga sangat sering mengajak ku pergi memancing. Dulu dia pernah berkata,
"Saat menunggu ikan memakan umpan itu sangat menenangkan, dan saat kita
mendapatkan ikan itu sangat menyenangkan." Ya, mungkin itu cara dia
menenangkan diri saat banyak pikiran membebaninya. Tapi itu menjadi bumerang
bagi ku saat ini. Entah mengapa aku jadi tidak suka makan ikan, sungguh
menyiksa. Tidak bisa memakan ikan hasil pancingan ayah sendiri, tak bisa makan
dengan suka cita lagi bersama mereka.
Mereka selalu
berpesan agar aku dapat menjadi kuat, dapat menjadi tumpuan keluarga kelak dan
menjadi contoh bagi adik-adik ku.
Ayah ku melarang ku
menangis, cengeng katanya, tak ada gunanya. Sendiri ku selalu, tak ingin ku
bebani orang lain, hanya diam yang menyiksa ku pada akhirnya.
Ya, semua itu yang
ada dibenak ku dulu. Begitu banyak tanya dalam ketidaktahuan.
Hingga akhirnya di
sini ku kini. Bagaikan besi yang ditempa dalam bara api, menjadi semakin pipih
namun begitu tajam. Ku sadari banyak hal, aku belajar menjadi bijak dalam
menjawab tanya ku sendiri.
Tuhan memang begitu
Maha Esa. Inilah kuasa-Nya, inilah jawab dari-Nya setelah sekian lama.
Aku memang terlahir
dengan ego yang besar, dengan ketetapan hati yang lurus. Seperti nama belakang
ku, Istiqomah. Dan ini menjadi doa yang terkabul bagi kedua orangtua ku yang
telah memberikan nama itu.
Ayah ku pun demikian,
beliau adalah sosok tangguh yang juga sekeras baja.
Tak terbayangkan
bukan, jika dua logam itu saling berbenturan. Mungkin salah satunya akan mati.
Tapi itu hanya akan
terjadi jika aku adalah anak laki-laki. Nyatanya aku adalah seorang anak
perempuan yang terikat dengan kodrat ku. Sungguh melegakan.
Ini membuat ku ingin
menjadi air. Air yang menetesi batu, hari demi hari. Hingga akhirnya membuat
batu itu berlubang. Membuat besi berkarat, menjadikannya semakin rapuh hingga
mudah dipatahkan.
Sifat air ku hanya
akan terjadi jika aku perempuan. Karena jika aku laki-laki, sifat air akan
menjadikanku banci. (hahahaha....)
Betapa bersyukurnya
aku saat ini. Menang hasil tempaan pada diri ku menyisakan sedikit maskulin
dalam pribadi ku, tapi itu sangat bagus. Akan ku gunakan untuk menjaga
orang-orang yang ku kasihi, terutama mereka yang telah menempa ku. Seburuk
apapun cara mereka menempa, kini tak berarti lagi. Karena mereka telah
membentuk hati berlian dalam tubuh lemah ku. Berlian yang kuat dan begitu
indah.
Semua karena Tuhan
tak akan menciptakan kesia-siaan.