Satu Bintang Di Langit Malam
Di hari itu malam begitu pekat, dinginnya angin yang berhembus seakan menusuk tulang-belulang. Dan tiba-tiba kegelisahan itu menyusup relung hati yang memang sedang merindu, merindu pada kemustahilan.
Aku mengeluarkan buku itu, buku yang bagi orang lain hanya lembaran-lembaran sampah tak berjiwa. Hanya orang kuno yang masih menulis diary, menganggapnya hidup dan menceritakan segala hal padanya. Tapi itulah aku, orang kuno yang tak berteman. Hanya buku itu yang setia mendengarkan ku.
Ku balik halaman demi halaman lembaran penuh goresan tinta, seakan tak akan pernah habis ruang kosong untuk diisi. Dan sama seperti malam sebelumnya, ku goreskan tinta disana untuk kembali bercerita...
Ku harap dapat melihat cahaya kembali diesok hari...
Hanya itu yang ku tulis, hanya itu. Dan akupun terlelap dengan mendekap buku itu. Semuapun gelap. Damai.
Ku buka kelopak mata ini dengan enggan, karena ada cahaya menyilaukan yang mengusik dengan paksa. Hanya perlu sesaat untuk melihat tempat ku kini terduduk, ruang kosong penuh cahaya putih menyilaukan. Dan disana ada sesuatu yang mendatangi ku dengan perlahan. Ternyata seorang malaikat dengan wajah penuh kedamaian, sayapnya begitu indah berwarna putih pucat. Sayapnya berkepak begitu perlahan, membawa sang malaikat semakin mendekat pada ku. Dan kini ia ada dihadapan ku, tersenyum menyisipkan kedamaian dihati ku.
Me : 'Apa lagi? Ku pikir sudah saatnya menyerah.' Ku coba menyentuh pipi ku, dan ternyata memang ada air mata yang mengalir disana.
Angel : 'Apa kau menangis karenanya?' Malaikat itu masih melayang disana dengan sayap yang seakan tak akan pernah lelah dikepakkan.
Me : 'Tidak. Bukan karena dia...' Ku diam sesaat. 'Dia tak pernah membuat ku menangis. Aku menangis karena kebodohan ku sendiri.'
Angel : 'Ku pikir Tuhan begitu baik memberikanmu otak untuk berpikir.' Kata-kata ketus itu tetap terdengar begitu merdu.
Me : 'Memang. Dan cintalah yang membuat ku lupa pernah memiliki otak.'
Angel : 'Jadi kau ingin mengakui dosa. atau memohon pada ku?'
Me : Dengan penuh keyakinan ku jawab, 'Mengaku dosa.'
Angel : 'Apa cinta itu dosa?'
Me : 'Cinta itu anugerah. Tapi keegoisan ku adalah dosa.'
Angel : 'Dimana letak dosanya?' Sang malaikat semakin tak sabar, kini ia melipat kedua tangannya didada.
Me : 'Aku selalu berharap dia menjadi milik ku, dan itu menyakitkan.'
Angel : 'Aku tidak melihat itu sebagai sebuah dosa.'
Me : 'Itu dosa, karena aku melukai diri ku sendiri dengan sesuatu yang kubiarkan tinggal dihati ku.'
Angel : 'Maksud mu cinta !!' Sang malaikat berpikir sejenak, 'Jadi apa yang kini kau harapkan dari ku?'
Me : 'Tak ada. Aku hanya berharap dapat menebus dosa ku.'
Angel : 'Dengan apa?'
Me : 'Menjalani hidup ku dengan lebih baik. Dan melupakannya.'
Angel : 'Harusnya kau berpikir dulu sebelum berkata. Coba lihat siapa yang duduk disana.' Malaikat itu menunjuk ke arah sisi kanan ku, tapi belum sempat aku menoleh sosok itu sudah berdiri disamping ku. Dan ternyata itu dia...
Him : 'Jadi kini kau belajar membenci ku?'
Me : Dengan perasaan masih tak percaya aku menatapnya. 'Aku tak bilang begitu, hanya mencoba menjadikan mu teman. Tak lebih.'
Him : 'Benarkah itu ??' Wajahnya begitu tenang tanpa ekspresi.
Me : 'Sungguh. Kau bisa tenang sekarang.' Entah apa yang membuatku mengatakan kalimat terakhir tadi.
Him : 'Maafkan aku. Aku terlambat mencintai mu, kini aku sudah tak mampu. Dan percayalah, aku akan tenang sekarang.' Tiba-tiba wajahnya terlihat murung.
Angel : 'Tugas ku selesai. Saatnya kita semua kembali.' Lalu sang malaikat menghentakkan sayapnya sekali, dan menghilang dari hadapan ku begitu saja.
Him : 'Tidurlah, semua akan baik-baik saja.' Hanya kata-kata itu yang dapat ku ingat. Lalu semuapun kembali gelap gulita.
Ku raih Handphone itu tanpa berpikir panjang, dan menjawabnya.
Me : 'Berapa lama dia akan pergi ?' Aku belum menyadari hal apa yang sebenarnya sedang kami bicarakan, bahkan dengan siapa aku berbicara.
Someone: 'Selamanya. Maafkan aku.'
Dia akan menjadi salah satu bintang dilangit malam, menemani ku dengan sinarnya. Dan buku diary kuno itu tak lagi menjadi tempat ku bercerita, karena disetiap malam ku dia akan setia mendengarkan kisah ku. Selamanya...

1 komentar:
"kalau saja malam kala itu lebih hangat dari biasa, kurasa airmatamu akan lebih deras menangis mengingat kalimat terakhirnya."
>>wah feb...gw mulai mengagumi tulisan2 lo nih. jd minder buat nulis. hhaha
Posting Komentar