Aku adalah aku. Tak berharap banyak dari dunia ini, hanya sebuah pengertian sudah cukup. Tapi segalanya berubah, hari demi hari menjadi begitu rumit. Terlalu banyak permainan hati yang tak ku mengerti.
Hari ini adalah hari ke 67 sejak pertama kali aku kelihatnya duduk terdiam disana, di sebuah perpustakaan umum yang sunyi dan penuh kedamaian. Hari itu dia duduk terdiam, terpaku pada buku yang sedang dibacanya. Entah mengapa hati ini tersentak saat melihat pancaran matanya untuk pertama kali, seakan banyak duka yang tersembunyi dibalik kilauan matanya yang indah.
Sejak saat itu hari ku menjadi rumit. Hampir setiap hari setelah selesai kuliah aku mendatangi perpustakaan kecil itu, berharap dapat melihatnya lagi duduk di sana. Akhirnya setelah beberapa minggu berlalu, aku mulai dapat membaca rutinitasnya. Dia akan selalu datang keperpustakaan pada pukul 14.00 di hari yang tak menentu. Hanya untuk memilih buku, membacanya tanpa pernah selesai dan pulang sesuka hatinya. Selalu seperti itu, dengan buku yang berbeda ditiap kedatangannya. Dan aku akan mencari buku yang dibacanya untuk sekedar memahami apa yang ada dipikirannya.
Entah mengapa hari ini aku merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi. Seperti biasanya aku segera bergegas pergi ke perpustakaan umum itu seusai berkuliah, berharap dapat melihatnya lagi duduk di sana. Hari ini aku terlalu lelah untuk berpikir, terlalu banyak tugas dan masalah dengan teman. Aku harap setelah melihanya, duka hati ini akan sedikit terobati.
Sesampainya di perpustakaan itu aku bergegas masuk dan mencoba memandang ke segala penjuru untuk menemukan sosoknya. Hari ini perpustakaan penuh sesak, tak seperti biasanya. Dan akhirnya aku dapat menemukan sosoknya duduk disana, di tempat biasanya mematung tak tersentuh. Aku mencoba mencari kursi kosong, dan akhirnya duduk di kursi terakhir yang tersisa di sudut ruang. Aku duduk sejenak seraya memandangnya, mencoba menghilangkan rasa penat dan lelah.
Detik demi detik berlalu. Tiba-tiba saja sebuah senyum terlukis diwajahku saat melihatnya tersenyum saat membaca sebuah buku. Karena mulai sadar ada orang yang memperhatikan gerak-gerikku yang aneh, tersenyum tanpa alasan, aku bergegas bangkit mencari buku untuk ku jadikan alibi ketika nanti tiba-tiba aku tersenyum lagi saat melihanya. Tak sulit mencari sebuah buku dengan cerita-cerita lucu didalamnya, aku sudah terlalu sering datang ke perpustakaan ini, sampai-sampai mulai hafal buku apa saja yang ada disana.
Tapi saat aku kembali ke kursi ku, ternyata sudah ada orang yang menempatinya. Lagi-lagi aku memandang ke segala penjuru, berharap mendapatkan kursi kosong lagi. Cukup lama aku berdiri terpaku, hingga akhirnya tiba-tiba seorang penjaga perpustakaan ya sudah mengenal ku memanggil. "Ra, ini ada kursi kosong !" Seraya aku melihat kearah tempat yang ditunjuknya, dan sedikit kaget saat melihat bahwa kursi kosong yang dimaksud adalah kursi tempat biasa 'dia' duduk. Ada dua kursi disana, mungkin dia sudah pergi. Saat penjaga perpustakaan itu pergi akupun berjalan ke arah ke dua kursi kosong itu, tiba-tiba saja otak ini berhenti bekerja. Aku melangkah pasti menuju kursi itu, dan saat sampai aku langsung duduk di kursi tempatnya biasa duduk.
Sedikit ada penyesalan memang, kenapa dia harus pergi secepat ini. Tapi tiba-tiba....
"Wah ternyata sudah ada yang nempatin.."
Spontan aku langsung berpaling menghadap sumber suara itu, ternyata itu dia.. Raut wajahnya begitu ramah. Suaranya begitu tenang. Matanya benar-benar indah. Tapi.... Kali ini dia tersenyum.... Aku hanya diam terpanah, dan menatapnya penuh rasa kagum.
"Gak apa-apa kok. Memang tumben banget hari ini ramai, jadi susah cari kursi kosong." Ucapnya lagi sambil duduk di kursi kosong di samping ku.
Aku sempat berhenti bernapas sesaat. Tak tahu apakah ini kenyataan atau mimpi. Aku hanya terdiam melihanya duduk disebelahku, begitu dekat hingga aku dapat menghirup aroma parfume-nya, aroma green tea. Aku hanya dapat terdiam seribu bahasa, kembali memalingkan pandangan ku kearah buku yang sedang ku pegang. Rasanya begitu lama kami saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba Handphone disaku celana ku bergetar. Karena suasana perpustakaan itu cukup ramai, aku pikir tak apa mengangkat telpon disini.
"Ya, hallo... Kenapa?" Aku diam sejenak, menyimak perkataan orang disebrang sana.
"Aku gak tahu kak harus cari CD Nirvana dimana..." Rupanya kakak ku yang menyebalkan itu menelpon hanya untuk menyuruhku membelikan CD kesukaannya.
"Ah, lihat aja ntar.." Karena kesal aku langsung memutus sambungan telpon, dan entah mengapa memandang kearahnya. Dia tersenyum pada ku.....
Dia lalu bangkit dari kursinya, dan berjalan menuju rak buku. Meletakkan kembali buku yang tadi diambilnya, dan berjalan menuju penitipan tas untuk mengambil tas yang dititipkannya sebelum masuk tadi. Tanpa pikir panjang akupun bangkit dari kursi ku, dan mengikutinya menuju pintu keluar.
"Aku tahu dimana harus cari CD yang kamu cari..." Tiba-tiba saja dia mengagetkan ku di pintu keluar.
"Hahh..." Hanya itu yang keluar dari mulut ku.
"Aku Rio.." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
Aku tak dapat berpikir. "Di.. Di.. Dira..." Akupun mengulurkan tanganku.
"Maaf tadi aku gak sengaja denger pembicaraan kamu. Aku tahu dimana tempat yang jual CD Nirvana, mau aku antar..."
Pikiran ini menjadi begitu rumit. Aku akhirnya meng'iya'kan ajakannya. Kamipun pergi bersama menuju toko kaset yang dimaksudnya. Selama perjalanan, didalam mobilnya kami hanya terdiam membisu. Aku bahkan tak tahu harus mulai berkata apa... Seusai membeli CD, dia mengantar ku pulang ke rumah. hanya kata terimakasih yang terlontar dari mulut ku. Lalu dia pergi, da sejuta penyesalan mulai mencambuk hati ku... Kenapa????.........
Aku benar-benar tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata. Semua ini tak pernah terbayangkan oleh ku, tapi mengapa aku menyia-nyiakan kesempatan ini? Apakah ini cinta? Malam ini aku tidur dengan tersenyum. Masih jelas teringat gambaran wajahnya, aroma parfume-nya, suaranya, bahkan rasa nyaman yang ku rasa saat berada didekatnya.
Keesokan paginya..
Tok.. tok.. tok.. "Non, ada surat.."
Aku terbangun mendengar suara itu. Kulihat jam di dinding kamar, masih jam 7 pagi. Sudah ada surat?...
AKu bangkit dengan rasa malas, dan membukakan pintu kamar. Tanpa berkata apapun ku raih surat itu dan menutup pintu kembali.
Dengan penuh tanda tanya dan rasa penasaran ku letakkan surat itu di atas tempat tidur, dan aku bergegas pergi ke kamar mandi lalu membasuh wajahku dengan air yang terasa masih begitu dingin. Aku kembali menuju tempat tidur, duduk di atasnya dan meraih surat itu.
Amplopnya berwarna hitam. Pada bagian depannya, pojok kanan bawah tercantum alamat lengkap rumah ku, dan pojok kiri atasnya ada sebuah stiker gambar tumpukan dua buku dengan bunga mawar diatasnya serta tulisan 'Dira' disampingnya yang ditulis dengan tulisan tangan rapih. Ku balik surat itu, hanya ada alamat pengirim dipojok kanan bawah tanpa dicantumkan nama pengirinya.
Perlahan ku buka amplop yang tak tersegel itu, ku ambil selembar kertas dari dalamnya. Kertas berwarna soft purple yang harum aroma green tea. Tanpa ragu ku buka lembaran surat itu, tulisan tangan yang indah menggores kertas yang terlihat rapuh itu, dan aku mulai membacanya.

Rio... Tiba-tiba air mata ini tak tertahan lagi. Banyak tanya dalam hati yang tak dapat terjawab. Apa ini?
Apakah aku bermimpi? Apakah ini permainan?
Tok..tok.. tok.. suara itu membuyarkan pikiranku. Segera ku hapus air mata ku dengan punggung tangan yang masih gemetar karena begitu takut mengartikan semua ini. Aku meletakkan lembaran surat itu di atas tempat tidur dan bergegas membukakan pintu.
"Non, ini ada paket."
"Terimakasih." Hanya itu ucap ku seraya meraih bungkusan paket yang teramat besar itu. Lalu kembali ku tutup pintu, dan berjalan menuju tempat tidur.
Aku duduk, lalu membuka bungkus paket yang baru saja ku terima. Ternyata sebuah foto... Foto diri ku, foto terbaik yang pernah ku lihat. Dengan ukuran 15R, ber-frame kayu klasik berwarna hitam. Dipojok kanan bawah foto ada coretan tangan, yang samar terbaca seperti tulisan "Rio". Dan lagi-lagi air mata ini menetes.
Tanpa pikir panjang ku raih jaket yang sedari semalam tergeletak dipojok tempat tidur, dan amplop dari surat yang baru kubaca. Aku bergegas menuju alamat pengirim surat yang tertera dibagian belakang amplom, dengan mobil. Tak ada yang dapat ku pikirkan dalam perjalanan, aku terus mencari alamat yang tertera di amplop itu. Ku lihat dashbord, waktu masih menunjukkan pukul 07.15. Terlalu pagi untuk sebuah lelucon.
Rumah no.95.
Aku terus menyusuri jalan di komplek perumahan yang alamatnya tertera di amplop itu.
no.93, kenapa jantung ku berdegup kencang.
no.94, ada bendera kuning diantara jajaran rumah-rumah besar itu. Tangan ku mulai gemetar, ada rasa takut menghantui ku.
no.95...
Ada banyak orang berkumpul disana. Aku mulai meneteskan air mata lagi. Tanpa sempat menyekanya, aku keluar dari mobil sambil membanting pintu, membuat beberapa orang yang ada disama seraya berpaling melihat ku. Aku melangkah ragu menuju pintu masuk rumah yang terlihat begitu mewah itu. Tapi tak dapat dipungkiri, rumah itu menyiratkan duka yang mendalam.
Aku mulai memasuki pintu masuk. Tak percaya atas apa yang dilihat mata ini, ada jajaran begitu banyak foto di dalam rumah yang dipenuhi banyak orang. Foto-foto yang begitu bagus, artistik. Dan... Ada satu foto ku di sana, foto yang sama seperti yang di kirim kerumah ku pagi ini.
Ada sebuah poster tergantung di atas ruangan, bertuliskan "KALIAN ADALAH HAL YANG TERINDAH YANG PERNAH KU LIHAT, LANJUTKAN HIDUP KALIAN DENGAN BAIK. I LOVE YOU."
Tiba-tiba semua orang menyingkir. Ada sebuah peti di tengah ruang itu. Aku mulai melangkah mendekatinya. Dan dia sedang berbaring disana dengan damai.
"Kakak lagi sakit, sekarang lagi istirahat." Ucap seorang anak kecil yang baru berusia 5 tahun, berdiri di samping ku lalu meraih tangan ku. Menarik tangan ku, meminta ku menyentuh tubuhnya yang tak akan pernah lagi tersenyum pada ku.
Aku menyentuhnya. Tubuhnya begitu dingin, aku harap dapat menyelimutinya agar hangat. Wajahnya pucat pasi, seakan tak berdaya. Aku hanya terdiam memandangnya. Dan air mata ini lah satu-satunya hal yang menyadarkan ku, dia tak dapat lagi menangis...
Dia pergi... Tanpa pernah membagi kisahnya pada ku...
Hanya ini hal terakhir yang dapat ku lakukan untuknya, mengantarnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Menaburi tanah yang menguburnya dalam kegelapan dengan bunga-bunga yang harum. Dan hanya penyesalan yang ku bawa pulang setelahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar