Total Tayangan Halaman

INILAH KISAH KU

Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.

Kamis, 05 April 2012

about love

Setiap manusia di lahirkan sebagai makhluk yang sempurna yang pernah di ciptakan Tuhan, tanpa terkecuali. Tuhan tak menciptakan manusia hanya untuk narsis agar ada yang menyembah-Nya. Tuhan tidak mengadakan manusia dari ketiadaan tanpa sebuah kisah yang telah di gariskan sebelumnya. Bahkan Tuhan tidak pernah menguji manusia di luar batas kemampuannya.Tuhan begitu mencintai ciptaan-Nya. Dalam ajaran agama manapun, Tuhan akan selalu di kenal sebagai Maha pengasih lagi Maha penyayang. Itu adalah cukup bukti kebesaran Tuhan.

Cinta adalah salah satu anugerah dari Tuhan yang tak ternilai harganya. Akankah kita menjadi begitu munafik untuk tidak mengakui kehadiran cinta itu? Memangnya apa itu cinta? Begitu hebatkah dirimu hingga tidak butuh di cintai?

Cinta adalah saat kau merasakan kebahagiaan untuk berbagi. Cinta adalah rasa tak terungkap saat yang kau cinta merasa bersyukur kau berada di sana untuknya. Cinta adalah saling memahami. Cinta adalah terluka untuk memberi yang terbaik. Cinta adalah air mata bahagia melihat yang tercinta bahagia. Cinta bukan sebuah metafora, cinta adalah seni abstrak yang tak terungkap. Cinta adalah menjadi kuat untuk menyeka air mata kepedihan yang tercinta. Cinta adalah maaf yang tak terbatas. Cinta memiliki caranya sendiri untuk membuktikan. Cinta tak meminta dan tak diminta. Cinta tidak merubah demi sebuah keegoisan. Dan berjuta makna cinta lain yang tak dapat terungkapkan dnegan kata-kata.

Cinta Tuhan yang selalu memberikan maaf pada umat-Nya yang paling hina sekalipun. Cinta seorang ibu yang rela menggadaikan jiwa raganya demi mengidupi buah hatinya. Cinta seorang ayah pada anak gadisnya yang selalu terkekang. Cinta guru yang dengan suka rela membagi ilmunya yang begitu berharga. Cinta seorang kekasih yang mau memahami. Cinta seorang pecinta yang menangis terluka melihat yang terkasih bersanding dengan yang lain. Semua itu adalah sebagian kecil dari cinta, cinta yang selalu berbeda wujudnya di waktu dan tempat yang berbeda.

Akankah kita lupa, bahwa selama ini kita selalu memandang cinta hanya sebelah mata. Cinta itu tidak memaksakan kehendak. Cinta itu bukan menggandaikan kehidupan tanpa arti. Cinta bukan melukai. Cinta bukan mati untuk membuktikan. Cinta tidak pernah memaksa. Cinta tidak selalu jujur hanya untuk membahagiakan. Cinta bukan sebuah pertaruhan. Cinta bukan permaian dengan hadiah. Yang terburuk, cinta bukanlah sebuah kepastian.

Hidup ini bukan sebuah roda, yang hanya bisa menggelinding tanpa tumbuh dan menjadi lebih baik. Cinta layaknya sebuah kehidupan, sebuah pohon yang hanya kita yang tahu pohon apa itu. Pohon yang tumbuh menjadi semakin unik disetiap waktunya. Akar yang semakin menghujam bumi menjadi kekokohan seiring berjalannya waktu. Panas, dingin, ataupun badai sekalipun adalah ujian yang terkadang harus dihadapi. Buahnya akan menjadi semakin manis atau pahit sejalan dengan apa yang diupayakan. Bukankah lebih bijak sebuah pohon hidup, dari pada roda yang tak pernah belajar memperbaiki diri dan seakan tak mau menerima kemungkinan lain.

Aku tidak mencoba menggurui. Aku tak jauh lebih baik untuk mengartikan makna cinta dari para pujangga. Aku hanya seorang pecinta yang sedang memaknai cinta. Aku hanya aku yang sedang mencari cinta. Dan aku adalah murid yang akan terus belajar mencintai tanpa pamrih. Aku, aku, dan aku... hanya aku...



ADA KOMENTAR? ADA PERTANYAAN? MAU SHARING? Silahkan, kita sama-sama makhluk Tuhan. Tak ada yang lebih baik di antara kita, hanya amal ibadah kita yang berbeda. Jangan pernah takut mengungkapkan cinta, karena cinta di ciptakan untuk di bagi.

Akhir, untuk sebuah Awal




Aku adalah aku. Tak berharap banyak dari dunia ini, hanya sebuah pengertian sudah cukup. Tapi segalanya berubah, hari demi hari menjadi begitu rumit. Terlalu banyak permainan hati yang tak ku mengerti.

Hari ini adalah hari ke 67 sejak pertama kali aku kelihatnya duduk terdiam disana, di sebuah perpustakaan umum yang sunyi dan penuh kedamaian. Hari itu dia duduk terdiam, terpaku pada buku yang sedang dibacanya. Entah mengapa hati ini tersentak saat melihat pancaran matanya untuk pertama kali, seakan banyak duka yang tersembunyi dibalik kilauan matanya yang indah.

Sejak saat itu hari ku menjadi rumit. Hampir setiap hari setelah selesai kuliah aku mendatangi perpustakaan kecil itu, berharap dapat melihatnya lagi duduk di sana. Akhirnya setelah beberapa minggu berlalu, aku mulai dapat membaca rutinitasnya. Dia akan selalu datang keperpustakaan pada pukul 14.00 di hari yang tak menentu. Hanya untuk memilih buku, membacanya tanpa pernah selesai dan pulang sesuka hatinya. Selalu seperti itu, dengan buku yang berbeda ditiap kedatangannya. Dan aku akan mencari buku yang dibacanya untuk sekedar memahami apa yang ada dipikirannya.

Entah mengapa hari ini aku merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi. Seperti biasanya aku segera bergegas pergi ke perpustakaan umum itu seusai berkuliah, berharap dapat melihatnya lagi duduk di sana. Hari ini aku terlalu lelah untuk berpikir, terlalu banyak tugas dan masalah dengan teman. Aku harap setelah melihanya, duka hati ini akan sedikit terobati.

Sesampainya di perpustakaan itu aku bergegas masuk dan mencoba memandang ke segala penjuru untuk menemukan sosoknya. Hari ini perpustakaan penuh sesak, tak seperti biasanya. Dan akhirnya aku dapat menemukan sosoknya duduk disana, di tempat biasanya mematung tak tersentuh. Aku mencoba mencari kursi kosong, dan akhirnya duduk di kursi terakhir yang tersisa di sudut ruang. Aku duduk sejenak seraya memandangnya, mencoba menghilangkan rasa penat dan lelah.

Detik demi detik berlalu. Tiba-tiba saja sebuah senyum terlukis diwajahku saat melihatnya tersenyum saat membaca sebuah buku. Karena mulai sadar ada orang yang memperhatikan gerak-gerikku yang aneh, tersenyum tanpa alasan, aku bergegas bangkit mencari buku untuk ku jadikan alibi ketika nanti tiba-tiba aku tersenyum lagi saat melihanya. Tak sulit mencari sebuah buku dengan cerita-cerita lucu didalamnya, aku sudah terlalu sering datang ke perpustakaan ini, sampai-sampai mulai hafal buku apa saja yang ada disana.

Tapi saat aku kembali ke kursi ku, ternyata sudah ada orang yang menempatinya. Lagi-lagi aku memandang ke segala penjuru, berharap mendapatkan kursi kosong lagi. Cukup lama aku berdiri terpaku, hingga akhirnya tiba-tiba seorang penjaga perpustakaan ya sudah mengenal ku memanggil. "Ra, ini ada kursi kosong !" Seraya aku melihat kearah tempat yang ditunjuknya, dan sedikit kaget saat melihat bahwa kursi kosong yang dimaksud adalah kursi tempat biasa 'dia' duduk. Ada dua kursi disana, mungkin dia sudah pergi. Saat penjaga perpustakaan itu pergi akupun berjalan ke arah ke dua kursi kosong itu, tiba-tiba saja otak ini berhenti bekerja. Aku melangkah pasti menuju kursi itu, dan saat sampai aku langsung duduk di kursi tempatnya biasa duduk.

Sedikit ada penyesalan memang, kenapa dia harus pergi secepat ini. Tapi tiba-tiba....

"Wah ternyata sudah ada yang nempatin.."

Spontan aku langsung berpaling menghadap sumber suara itu, ternyata itu dia.. Raut wajahnya begitu ramah. Suaranya begitu tenang. Matanya benar-benar indah. Tapi.... Kali ini dia tersenyum.... Aku hanya diam terpanah, dan menatapnya penuh rasa kagum.

"Gak apa-apa kok. Memang tumben banget hari ini ramai, jadi susah cari kursi kosong." Ucapnya lagi sambil duduk di kursi kosong di samping ku.

Aku sempat berhenti bernapas sesaat. Tak tahu apakah ini kenyataan atau mimpi. Aku hanya terdiam melihanya duduk disebelahku, begitu dekat hingga aku dapat menghirup aroma parfume-nya, aroma green tea. Aku hanya dapat terdiam seribu bahasa, kembali memalingkan pandangan ku kearah buku yang sedang ku pegang. Rasanya begitu lama kami saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tiba-tiba Handphone disaku celana ku bergetar. Karena suasana perpustakaan itu cukup ramai, aku pikir tak apa mengangkat telpon disini.

"Ya, hallo... Kenapa?" Aku diam sejenak, menyimak perkataan orang disebrang sana.

"Aku gak tahu kak harus cari CD Nirvana dimana..." Rupanya kakak ku yang menyebalkan itu menelpon hanya untuk menyuruhku membelikan CD kesukaannya.

"Ah, lihat aja ntar.." Karena kesal aku langsung memutus sambungan telpon, dan entah mengapa memandang kearahnya. Dia tersenyum pada ku.....

Dia lalu bangkit dari kursinya, dan berjalan menuju rak buku. Meletakkan kembali buku yang tadi diambilnya, dan berjalan menuju penitipan tas untuk mengambil tas yang dititipkannya sebelum masuk tadi. Tanpa pikir panjang akupun bangkit dari kursi ku, dan mengikutinya menuju pintu keluar.

"Aku tahu dimana harus cari CD yang kamu cari..." Tiba-tiba saja dia mengagetkan ku di pintu keluar.

"Hahh..." Hanya itu yang keluar dari mulut ku.

"Aku Rio.." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

Aku tak dapat berpikir. "Di.. Di.. Dira..." Akupun mengulurkan tanganku.

"Maaf tadi aku gak sengaja denger pembicaraan kamu. Aku tahu dimana tempat yang jual CD Nirvana, mau aku antar..."

Pikiran ini menjadi begitu rumit. Aku akhirnya meng'iya'kan ajakannya. Kamipun pergi bersama menuju toko kaset yang dimaksudnya. Selama perjalanan, didalam mobilnya kami hanya terdiam membisu. Aku bahkan tak tahu harus mulai berkata apa... Seusai membeli CD, dia mengantar ku pulang ke rumah. hanya kata terimakasih yang terlontar dari mulut ku. Lalu dia pergi, da sejuta penyesalan mulai mencambuk hati ku... Kenapa????.........

Aku benar-benar tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata. Semua ini tak pernah terbayangkan oleh ku, tapi mengapa aku menyia-nyiakan kesempatan ini? Apakah ini cinta? Malam ini aku tidur dengan tersenyum. Masih jelas teringat gambaran wajahnya, aroma parfume-nya, suaranya, bahkan rasa nyaman yang ku rasa saat berada didekatnya.

Keesokan paginya..

Tok.. tok.. tok.. "Non, ada surat.."

Aku terbangun mendengar suara itu. Kulihat jam di dinding kamar, masih jam 7 pagi. Sudah ada surat?...

AKu bangkit dengan rasa malas, dan membukakan pintu kamar. Tanpa berkata apapun ku raih surat itu dan menutup pintu kembali.

Dengan penuh tanda tanya dan rasa penasaran ku letakkan surat itu di atas tempat tidur, dan aku bergegas pergi ke kamar mandi lalu membasuh wajahku dengan air yang terasa masih begitu dingin. Aku kembali menuju tempat tidur, duduk di atasnya dan meraih surat itu.

Amplopnya berwarna hitam. Pada bagian depannya, pojok kanan bawah tercantum alamat lengkap rumah ku, dan pojok kiri atasnya ada sebuah stiker gambar tumpukan dua buku dengan bunga mawar diatasnya serta tulisan 'Dira' disampingnya yang ditulis dengan tulisan tangan rapih. Ku balik surat itu, hanya ada alamat pengirim dipojok kanan bawah tanpa dicantumkan nama pengirinya.

Perlahan ku buka amplop yang tak tersegel itu, ku ambil selembar kertas dari dalamnya. Kertas berwarna soft purple yang harum aroma green tea. Tanpa ragu ku buka lembaran surat itu, tulisan tangan yang indah menggores kertas yang terlihat rapuh itu, dan aku mulai membacanya.
 
Rio... Tiba-tiba air mata ini tak tertahan lagi. Banyak tanya dalam hati yang tak dapat terjawab. Apa ini?

Apakah aku bermimpi? Apakah ini permainan?

Tok..tok.. tok.. suara itu membuyarkan pikiranku. Segera ku hapus air mata ku dengan punggung tangan yang masih gemetar karena begitu takut mengartikan semua ini. Aku meletakkan lembaran surat itu di atas tempat tidur dan bergegas membukakan pintu.

"Non, ini ada paket."

"Terimakasih." Hanya itu ucap ku seraya meraih bungkusan paket yang teramat besar itu. Lalu kembali ku tutup pintu, dan berjalan menuju tempat tidur.

Aku duduk, lalu membuka bungkus paket yang baru saja ku terima. Ternyata sebuah foto... Foto diri ku, foto terbaik yang pernah ku lihat. Dengan ukuran 15R, ber-frame kayu klasik berwarna hitam. Dipojok kanan bawah foto ada coretan tangan, yang samar terbaca seperti tulisan "Rio". Dan lagi-lagi air mata ini menetes.

Tanpa pikir panjang ku raih jaket yang sedari semalam tergeletak dipojok tempat tidur, dan amplop dari surat yang baru kubaca. Aku bergegas menuju alamat pengirim surat yang tertera dibagian belakang amplom, dengan mobil. Tak ada yang dapat ku pikirkan dalam perjalanan, aku terus mencari alamat yang tertera di amplop itu. Ku lihat dashbord, waktu masih menunjukkan pukul 07.15. Terlalu pagi untuk sebuah lelucon.

Rumah no.95.

Aku terus menyusuri jalan di komplek perumahan yang alamatnya tertera di amplop itu.

no.93, kenapa jantung ku berdegup kencang.

no.94, ada bendera kuning diantara jajaran rumah-rumah besar itu. Tangan ku mulai gemetar, ada rasa takut menghantui ku.

no.95...

Ada banyak orang berkumpul disana. Aku mulai meneteskan air mata lagi. Tanpa sempat menyekanya, aku keluar dari mobil sambil membanting pintu, membuat beberapa orang yang ada disama seraya berpaling melihat ku. Aku melangkah ragu menuju pintu masuk rumah yang terlihat begitu mewah itu. Tapi tak dapat dipungkiri, rumah itu menyiratkan duka yang mendalam.

Aku mulai memasuki pintu masuk. Tak percaya atas apa yang dilihat mata ini, ada jajaran begitu banyak foto di dalam rumah yang dipenuhi banyak orang. Foto-foto yang begitu bagus, artistik. Dan... Ada satu foto ku di sana, foto yang sama seperti yang di kirim kerumah ku pagi ini.

Ada sebuah poster tergantung di atas ruangan, bertuliskan "KALIAN ADALAH HAL YANG TERINDAH YANG PERNAH KU LIHAT, LANJUTKAN HIDUP KALIAN DENGAN BAIK. I LOVE YOU."

Tiba-tiba semua orang menyingkir. Ada sebuah peti di tengah ruang itu. Aku mulai melangkah mendekatinya. Dan dia sedang berbaring disana dengan damai.

"Kakak lagi sakit, sekarang lagi istirahat." Ucap seorang anak kecil yang baru berusia 5 tahun, berdiri di samping ku lalu meraih tangan ku. Menarik tangan ku, meminta ku menyentuh tubuhnya yang tak akan pernah lagi tersenyum pada ku.

Aku menyentuhnya. Tubuhnya begitu dingin, aku harap dapat menyelimutinya agar hangat. Wajahnya pucat pasi, seakan tak berdaya. Aku hanya terdiam memandangnya. Dan air mata ini lah satu-satunya hal yang menyadarkan ku, dia tak dapat lagi menangis...

Dia pergi... Tanpa pernah membagi kisahnya pada ku...

Hanya ini hal terakhir yang dapat ku lakukan untuknya, mengantarnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Menaburi tanah yang menguburnya dalam kegelapan dengan bunga-bunga yang harum. Dan hanya penyesalan yang ku bawa pulang setelahnya.
 

The Story

Satu Bintang Di Langit Malam

Di hari itu malam begitu pekat, dinginnya angin yang berhembus seakan menusuk tulang-belulang. Dan tiba-tiba kegelisahan itu menyusup relung hati yang memang sedang merindu, merindu pada kemustahilan.
Aku mengeluarkan buku itu, buku yang bagi orang lain hanya lembaran-lembaran sampah tak berjiwa. Hanya orang kuno yang masih menulis diary, menganggapnya hidup dan menceritakan segala hal padanya. Tapi itulah aku, orang kuno yang tak berteman. Hanya buku itu yang setia mendengarkan ku.
Ku balik halaman demi halaman lembaran penuh goresan tinta, seakan tak akan pernah habis ruang kosong untuk diisi. Dan sama seperti malam sebelumnya, ku goreskan tinta disana untuk kembali bercerita...

Mungkin inilah batas kemampuan ku. Level dimana aku tak sanggung lagi mempertahankan yang seharusnya tak ku pertahankan. Saat dimana aku harus berhenti bermimpi, dan berdiam dalam kegelisahan. Mengharapkannya hanyalah kesia-siaan bagi ku. Merindunya hanya semakin melukai ku.
Ku harap dapat melihat cahaya kembali diesok hari...

Hanya itu yang ku tulis, hanya itu. Dan akupun terlelap dengan mendekap buku itu. Semuapun gelap. Damai.
Ku buka kelopak mata ini dengan enggan, karena ada cahaya menyilaukan yang mengusik dengan paksa. Hanya perlu sesaat untuk melihat tempat ku kini terduduk, ruang kosong penuh cahaya putih menyilaukan. Dan disana ada sesuatu yang mendatangi ku dengan perlahan. Ternyata seorang malaikat dengan wajah penuh kedamaian, sayapnya begitu indah berwarna putih pucat. Sayapnya berkepak begitu perlahan, membawa sang malaikat semakin mendekat pada ku. Dan kini ia ada dihadapan ku, tersenyum menyisipkan kedamaian dihati ku.
Angel : 'Mengapa kau tak berhenti menangis dan mengatakan segalanya pada ku.' Hanya itu yang ia katakan, suaranya yang begitu merdu menggugah kesadaran ku.
Me : 'Apa lagi? Ku pikir sudah saatnya menyerah.' Ku coba menyentuh pipi ku, dan ternyata memang ada air mata yang mengalir disana.
Angel : 'Apa kau menangis karenanya?' Malaikat itu masih melayang disana dengan sayap yang seakan tak akan pernah lelah dikepakkan.
Me : 'Tidak. Bukan karena dia...' Ku diam sesaat. 'Dia tak pernah membuat ku menangis. Aku menangis karena kebodohan ku sendiri.'
Angel : 'Ku pikir Tuhan begitu baik memberikanmu otak untuk berpikir.' Kata-kata ketus itu tetap terdengar begitu merdu.
Me : 'Memang. Dan cintalah yang membuat ku lupa pernah memiliki otak.'
Angel : 'Jadi kau ingin mengakui dosa. atau memohon pada ku?'
Me : Dengan penuh keyakinan ku jawab, 'Mengaku dosa.'
Angel : 'Apa cinta itu dosa?'
Me : 'Cinta itu anugerah. Tapi keegoisan ku adalah dosa.'
Angel : 'Dimana letak dosanya?' Sang malaikat semakin tak sabar, kini ia melipat kedua tangannya didada.
Me : 'Aku selalu berharap dia menjadi milik ku, dan itu menyakitkan.'
Angel : 'Aku tidak melihat itu sebagai sebuah dosa.'
Me : 'Itu dosa, karena aku melukai diri ku sendiri dengan sesuatu yang kubiarkan tinggal dihati ku.'
Angel : 'Maksud mu cinta !!' Sang malaikat berpikir sejenak, 'Jadi apa yang kini kau harapkan dari ku?'
Me : 'Tak ada. Aku hanya berharap dapat menebus dosa ku.'
Angel : 'Dengan apa?'
Me : 'Menjalani hidup ku dengan lebih baik. Dan melupakannya.'
Angel : 'Harusnya kau berpikir dulu sebelum berkata. Coba lihat siapa yang duduk disana.' Malaikat itu menunjuk ke arah sisi kanan ku, tapi belum sempat aku menoleh sosok itu sudah berdiri disamping ku. Dan ternyata itu dia...
Him : 'Jadi kini kau belajar membenci ku?'
Me : Dengan perasaan masih tak percaya aku menatapnya. 'Aku tak bilang begitu, hanya mencoba menjadikan mu teman. Tak lebih.'
Him : 'Benarkah itu ??' Wajahnya begitu tenang tanpa ekspresi.
Me : 'Sungguh. Kau bisa tenang sekarang.' Entah apa yang membuatku mengatakan kalimat terakhir tadi.
Him : 'Maafkan aku. Aku terlambat mencintai mu, kini aku sudah tak mampu. Dan percayalah, aku akan tenang sekarang.' Tiba-tiba wajahnya terlihat murung.
Angel : 'Tugas ku selesai. Saatnya kita semua kembali.' Lalu sang malaikat menghentakkan sayapnya sekali, dan menghilang dari hadapan ku begitu saja.
Him : 'Tidurlah, semua akan baik-baik saja.' Hanya kata-kata itu yang dapat ku ingat. Lalu semuapun kembali gelap gulita.
Aku memaksa mata ini terbuka, terlepas dari kegelapan yang ingin ku tolak dan kembali pada cahaya. Tapi saat aku berhasil membuka mata ini, tak ada lagi cahaya putih menyilaukan yang ku temukan. Hanya ruang kamar ku dengan cahaya redup, dan suara dering Handphone yang memaksa untuk dijawab.
Ku raih Handphone itu tanpa berpikir panjang, dan menjawabnya.
Someone: 'Maafkan aku, dia harus pergi secepat ini.'
Me : 'Berapa lama dia akan pergi ?' Aku belum menyadari hal apa yang sebenarnya sedang kami bicarakan, bahkan dengan siapa aku berbicara.
Someone: 'Selamanya. Maafkan aku.'
Dan kini ku berdiri disini, ditempat peristirahatan terakhirnya. Hembusan angin sejuk ini tak akan pernah dapat dirasakannya lagi, sama seperti senyumannya yang tak akan bisa kulihat lagi. Tak ada air mata mengiringi kepergiannya, karena ia pernah berkata semua akan baik-baik saja. Dan aku yakin itu benar, semua akan baik-baik saja.
Dia akan menjadi salah satu bintang dilangit malam, menemani ku dengan sinarnya. Dan buku diary kuno itu tak lagi menjadi tempat ku bercerita, karena disetiap malam ku dia akan setia mendengarkan kisah ku. Selamanya...