Total Tayangan Halaman

INILAH KISAH KU

Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.

Selasa, 27 November 2012

I'm sorry...

Kau...
Yeah, it's you Mom...
Oke, aku menyelesaikan satu paragraf, kalimat yang begitu puitis untuk mengungkapkan, entah apa itu, untuknya. Tapi tiba-tiba jari-jemari ini terhenti. Pikiran ini menjadi kosong, napas ini tercekat. Dan itu membuatku tersadar, tak ada kata-kata yang cukup indah untuk menggambarkan dirinya.

Aku tak akan pernah sanggup mengungkapkan penyesalan dan rasa terimakasih ini. Aku belum bisa menjadi anak yang baik, seperti harapannya, seperti do'anya disetiap malam. Aku hanya bisa melukai hatinya, menyembunyikan segalanya, berharap tak menambah bebannya. Tapi aku salah, setiap langkahku adalah beban baginya. Beban pikiran, yang selalu mengharapkan keselamatan dan segala hal terbaik bagi ku.

Bagaimana caranya agar aku dapat menunjukkan semua penyesalan ini tanpa harus berkata padanya? Karena setiap kata-kata ku hanya ungkapan kasar bernada tinggi. Aku sungguh menjadi musuh baginya. Bagaimana caranya agar dia tahu, bahwa sahabat yang kuinginkan adalah dia. Dan karena itu, aku memusuhi diriku. Aku dirundung ketakutan, ketakutan jika suatu hari nanti menjadi seorang ibu...

Mom, you're give me a life.
But, i just make you wanna dead...

Rabu, 29 Agustus 2012

Bermimpi, tentangmu.


Aku masih akan tetap berdiri disini. Di tempat dimana kau bisa menemukan ku, disaat kau berubah pikiran.

Hanya aku dan mimpi-mimpi ku. Aku bermimpi tentang mu, dirimu yang begitu sempurna seperti harapan ku. Dirimu yang berdiri dipinggir jalan, dan bertemu pandang dengan ku saat aku melintas. Dirimu yang menceritakan berbagai kisah dan rahasia dunia yang belum pernah ku ketahui. Dirimu yang berkata 'semua akan baik-baik saja' saat dunia tak berpihak pada ku. Dirimu yang akan selalu membuat ku tersenyum dengan cara mu. Dirimu yang akan menyeka air mata duka atau bahagia ku. Dirimu yang menghargai impian-impian ku. Dirimu yang memperlakukan ku layaknya seorang sahabat, keluarga, partner, dan kekasih.
Dirimu yang akan selalu menjadi orang pertama yang memberikan senyuman bagi ku dipagi hari. Dan dirimu yang menjadi orang terakhir yang ku lihat diakhir hayat ku.
Ya, ku harap itu dirimu.

Meskipun mimpi-mimpi ku tak akan pernah menjadi nyata, namun aku tetap bersyukur karena pernah diberi kesempatan untuk bermimpi tentang mu yang begitu indah.

Bangau Kertas


Apa kabar kalian wahai burung bangau kertas?
Akankah kau dapat membawa mimpi-mimpi ku tinggi ke langit?
Kata mereka jika aku melipat 1000 bangau kertas, maka 1 harapan ku akan terwujud.
Tapi aku tak percaya itu. Nyatanya, sudah beratus-ratus bangau kertas yang kubuat, disetiap saat aku melipat dan menyelesaikan satu-persatu burung bangau, maka harapan ku-pun berubah-ubah. Jadi harapan mana yang akan terkabul nantinya?
Aku-pun berhenti membuat bangau kertas. Tapi aku belajar menuliskan harapan-harapan ku, mimpi-mimpi besar ku. Dan baru kemudian aku melipatnya menjadi bangau kertas. Berharap tak hanya satu, tapi semua harapan ku akan terkabul. Semua yang terbaik bagi ku akan menjadi nyata.
Wahai bangau kertas, kau tak dapat terbang, bahkan tak hidup. Tapi kala aku menggantung mu di langit-langit kamar ku, cahaya yang menyinari mu terpantul sempurna, dan kau berayun kala tertiup hembusan angin. Semua itu membuat ku menjadi bahagia. Karena aku tahu, mimpi-mimpi ku yang terbawa oleh mu seakan hidup di langit-langit kamar ku dan terbang ringan kesana kemari. Tak perduli akankah kelak harapan ku terwujud atau tidak, setidaknya kini harapan itu seakan nyata dan membuatku merasa bahagia.
Bangau kertas, tolong sampaikan harap ku pada Tuhan di atas sana. Katakan pada-Nya, aku akan terus berharap dan bermimpi, aku akan menjadi bangau terbaik setiap saat aku terbangun dipagi hari, untuk berusaha meraih impian-impian ku.

Minggu, 26 Agustus 2012

Diri mu, lagi...

Ya, dulu aku belajar mengenal mu.
Setelah entah berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk menyadari bahwa dirimu berbeda. Akhirnya ku temukan drimu yang sesungguhnya.
Disaat semua orang tak hentinya menggunjing mu, disaat aku sendiri tak tahu apa yang sebenanya terjadi. Itulah saat dimana aku belajar untuk mengenal diri mu.
Tak perlu alasan hanya untuk sekedar mengenal mu. Semua mengalir begitu saja tanpa dapat ku kendalikan. Karena awalnya semua tentang mu datang begitu saja, hingga akhirnya terlalu banyak dan mulai mengusik ku. Dan dari sanalah aku mulai berharap banyak.
Tak ku sangka harapan ku terpenuhi. Kau menjadi penguat hati ku. Menjaga ku dari semua pikiran tak berguna. Memberikan jawaban dari sebagian besar pertanyaan ku.
Tapi semua itu hanya berhenti sampai di situ. Tak berlanjut menjadi apapun.
Hingga akhirnya kau menemukan kisah mu sendiri. Yang semakin menunjukkan betapa berbedanya diri mu. Dan juga menjadi dinding pembatas bagi kita.
Kini aku harus belajar lagi. Belajar menerima semua kenyataan ini. Belajar melihat mu bahagia dengan cara mu sendiri. Belajar berdiri sendiri tanpa mu.
Tapi terimakasih untuk semuanya. Ini akan menjadi sepenggal kisah indah dalam perjalanan panjang ku.

I'm not a BOY

Aku selalu bertanya mengapa aku dilahirkan sebagai anak perempuan? Apa Tuhan tidak salah, memangnya apa yang Dia rencanakan sebenarnya.
Jelas terlihat, sebuah foto usang tergantung dikamar ku. Itu foto ku saat mungkin berusia 1 tahun. Sepertinya baru bisa berjalan, dan aku terlihat sangat bahagia saat itu. Tapi aneh, baju yang ku kenakan bertuliskan kata BOY. Apa orangtua ku salah membeli baju, atau tidak tau apa arti kata BOY?
Saat aku kelas 3 SD, ibu ku membelikan ku dasi sekolah, satu untuk dipasangkan dengan seragam putih-merah, dan satu untuk seragam pramuka. Dan keduanya salah, itu dasi untuk anak laki-laki. Ayah ku pun salah membelikan topi pramuka, dia memberi ku topi pramuka untuk anak laki-laki.
Sepatu termanis yang pernah ku miliki adalah sepatu saat aku TK. Sebuah sepatu transparan, yang ku sebut sepatu kaca Cinderlela. Dan sepatu ku saat kelas 1 SMP, karena itu terlihat seperti sepatu perempuan, alasnya tinggi terlihat seperti sepatu highheels. Tapi selebinya hanya sepatu kets, yang tak jelas untuk anak perempuan atau laki-laki. Bahkan belakangan aku baru sadar kalau aku juga sering memakai sepatu olahraga ayahku, sepatu untuk bermain bulutangkis dan sepatu bola.
Ayah ku selalu membelikan ku kaos, walupun ibu ku selalu membelikan ku baju berwarna pink. Tetap saja keduanya tidak ada yang ku sukai.
Saat aku masih kecil ayah juga sangat sering mengajak ku pergi memancing. Dulu dia pernah berkata, "Saat menunggu ikan memakan umpan itu sangat menenangkan, dan saat kita mendapatkan ikan itu sangat menyenangkan." Ya, mungkin itu cara dia menenangkan diri saat banyak pikiran membebaninya. Tapi itu menjadi bumerang bagi ku saat ini. Entah mengapa aku jadi tidak suka makan ikan, sungguh menyiksa. Tidak bisa memakan ikan hasil pancingan ayah sendiri, tak bisa makan dengan suka cita lagi bersama mereka.
Mereka selalu berpesan agar aku dapat menjadi kuat, dapat menjadi tumpuan keluarga kelak dan menjadi contoh bagi adik-adik ku.
Ayah ku melarang ku menangis, cengeng katanya, tak ada gunanya. Sendiri ku selalu, tak ingin ku bebani orang lain, hanya diam yang menyiksa ku pada akhirnya.
Ya, semua itu yang ada dibenak ku dulu. Begitu banyak tanya dalam ketidaktahuan.
Hingga akhirnya di sini ku kini. Bagaikan besi yang ditempa dalam bara api, menjadi semakin pipih namun begitu tajam. Ku sadari banyak hal, aku belajar menjadi bijak dalam menjawab tanya ku sendiri.
Tuhan memang begitu Maha Esa. Inilah kuasa-Nya, inilah jawab dari-Nya setelah sekian lama.
Aku memang terlahir dengan ego yang besar, dengan ketetapan hati yang lurus. Seperti nama belakang ku, Istiqomah. Dan ini menjadi doa yang terkabul bagi kedua orangtua ku yang telah memberikan nama itu.
Ayah ku pun demikian, beliau adalah sosok tangguh yang juga sekeras baja.
Tak terbayangkan bukan, jika dua logam itu saling berbenturan. Mungkin salah satunya akan mati.
Tapi itu hanya akan terjadi jika aku adalah anak laki-laki. Nyatanya aku adalah seorang anak perempuan yang terikat dengan kodrat ku. Sungguh melegakan.
Ini membuat ku ingin menjadi air. Air yang menetesi batu, hari demi hari. Hingga akhirnya membuat batu itu berlubang. Membuat besi berkarat, menjadikannya semakin rapuh hingga mudah dipatahkan.
Sifat air ku hanya akan terjadi jika aku perempuan. Karena jika aku laki-laki, sifat air akan menjadikanku banci. (hahahaha....)
Betapa bersyukurnya aku saat ini. Menang hasil tempaan pada diri ku menyisakan sedikit maskulin dalam pribadi ku, tapi itu sangat bagus. Akan ku gunakan untuk menjaga orang-orang yang ku kasihi, terutama mereka yang telah menempa ku. Seburuk apapun cara mereka menempa, kini tak berarti lagi. Karena mereka telah membentuk hati berlian dalam tubuh lemah ku. Berlian yang kuat dan begitu indah.
Semua karena Tuhan tak akan menciptakan kesia-siaan.

Rabu, 15 Agustus 2012

Bukan Aku


Apa yang akan terjadi saat kau sadar, diri mu bukan diri mu???...
Rasanya seperti terbangun dari tidur dan tersadar bahwa baru saja bermimpi sedang bermimpi, bahkan jadi tak dapat membedakan apakah sekarang sedang bermimpi atau terjaga. Itulah yang ku rasakan saat ini, saat dimana akun dibawa kembali menelusuri jejak kehidupan yang telah berlalu. Saat itu dimana semua hal terungkap dengan begitu jujur. Saat dimana kepingan-kepingan kehidupan yang indah dan buruk bermula dan menyatu menjadi rangkaian puzzel yang begitu rumit. Saat dimana aku belajar bahwa hidup itu harus dimulai dengan alasan apapun. Saat dimana aku belajar mengenal apa itu cinta...
 Tak habis pikir, ada yang mengingatkan betapa perfectionist-nya dirimu dengan selalu berkata,
Saat bermain, "Rambut ku nggak berantakan kan?"
Atau saat ingin upacara, "Baju ku udah rapi kan?"
Dan tiba-tiba yang terlihat saat ini hanyalah seorang gadis menyedihkan dengan pakaian compang-camping, wajah tak terawat penuh bintik noda, bahkan tak mengenal siapa dirinya sendiri. Dan itulah aku...
Aku tak dapat memahaminya. Ini menjadi tanda tanya besar (lagi) dalam massa otak ku yang tak seberapa. Ini membuat ku bertanya-tanya, apa yang salah? Harus bagaimana? Mengapa??? Namun tak ada yang menjawabnya. Karena aku tahu, hanya aku yang tahu apa jawabnya (benarkah?). Sungguh menyedihkannya diri ku, yang masih hidup dalam bayang-bayang kelam masa lalu.

Senin, 16 Juli 2012

Ini bukan kali pertama

Rasanya... Tak terungkapkan.
Hanya bahagia, ada rasa menggelitik di hati.
Ingin tersenyum, entah untuk alasan apa itu.
Tapi ini bukan untuk pertama kali, ini mungkin kesejuta kalinya.
Namun tak ada alasan untuk bosan menikmatinya.
Ini seperti alasan untuk tetap bernapas,
Untuk tetap yakin pada mentari yang bahkan belum terbit,
Dan kini semua menjadi kerinduan.

Ini yang membuat ku tak percaya cinta pada pandangan pertama.
Buktinya aku jatuh cinta padanya untuk entah keberapa juta kalinya selama aku mengenalnya.
Dia hanya orang asing dikala pertama berjumpa.
Nama ku pun bahkan aneh berdengung di telinganya.
Tak selalu akur, itulah kami.
Tapi waktu benar-benar tak terkendali,
Datang silih berganti menggugah hati,
Membuka mata dan pikiran,
Menjadi entah suka maupun duka yang tak terelakkan.
Dia hanya orang asing, tapi tak asing bagi hati ku.

Rabu, 11 Juli 2012

Bukan Aku


Apa yang akan terjadi saat kau sadar, diri mu bukan diri mu???...

Rasanya seperti terbangun dari tidur dan tersadar bahwa baru saja bermimpi sedang bermimpi, bahkan jadi tak dapat membedakan apakah sekarang sedang bermimpi atau terjaga. Itulah yang ku rasakan saat ini, saat dimana akun dibawa kembali menelusuri jejak kehidupan yang telah berlalu. Saat itu dimana semua hal terungkap dengan begitu jujur. Saat dimana kepingan-kepingan kehidupan yang indah dan buruk bermula dan menyatu menjadi rangkaian puzzel yang begitu rumit. Saat dimana aku belajar bahwa hidup itu harus dimulai dengan alasan apapun. Saat dimana aku belajar mengenal apa itu cinta...

Tak habis pikir, ada yang mengingatkan betapa perfectionist-nya dirimu dengan selalu berkata,
Saat bermain, "Rambut ku nggak berantakan kan?"

Atau saat ingin upacara, "Baju ku udah rapi kan?"
Dan tiba-tiba yang terlihat saat ini hanyalah seorang gadis menyedihkan dengan pakaian compang-camping, wajah tak terawat penuh bintik noda, bahkan tak mengenal siapa dirinya sendiri. Dan itulah aku...
Aku tak dapat memahaminya. Ini menjadi tanda tanya besar (lagi) dalam massa otak ku yang tak seberapa. Ini membuat ku bertanya-tanya, apa yang salah? Harus bagaimana? Mengapa??? Namun tak ada yang menjawabnya. Karena aku tahu, hanya aku yang tahu apa jawabnya (benarkah?). Sungguh menyedihkannya diri ku, yang masih hidup dalam bayang-bayang kelam masa lalu.