Total Tayangan Halaman

INILAH KISAH KU

Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.

Minggu, 03 Agustus 2014

Untuk engkau yang merasa sendiri

Dari mana harus memulainya..
Bagaimana dengan menyadari bahwa tak ada satu hal-pun terjadi tanpa suatu alasan.
Banyak hal terjadi yang menurut Gw secara pribadi adalah rencana hebat Tuhan yang memang terjadi karena suatu alasan.
Seorang ayah yang sakit, yang memberikan kesempatan bagi anak-anaknya untuk memperoleh banyak pahala saat mengurusnya.
Atau seorang anak yang diam-diam mendoakan kematian ibunya, karena tak sanggup melihat ibunya merasakan penyakitnya sendirian.
Orangtua yang melihat anaknya lahir, dan melihat anak yang dibesarkannya pergi lebih dulu agar mereka dapat lebih menghargai anaknya yang lain yang masih hidup.
Mereka yang pernah melihat teman yang tumbuh besar bersamanya meregang nyawa dihadapannya, lalu mereka belajar bahwa hidup sangat singkat untuk disia-siakan.
Banyak, dan banyak lagi..
Tapi haruskah Gw mengalami semua itu untuk memahami?
"Lo gak ngerti, karena lo gak pernah ngerasain...", Gw sangat familiar dengan kalimat ini. Kalimat itu benar, mereka gak akan pernah ngerti sama apa yang terjadi sama Gw. Tapi juga harus diingat bahwa Gw juga gak ngerti sama apa yang mereka alami.
Ya, kadang kita lupa itu.
Karena Tuhan tak pernah menguji umat-Nya diluar batas kemampuannya. Itu sebabnya ujian setiap orang berbeda. Karena ujian membawa kita naik kelas, membuat kita menjadi lebih baik, dengan kadar kita masing-masing.
Kita memang harus tau rasanya sakit, agar menyukuri ni'mat sehat. Atau kita harus merasakan dulu kesedihan, agar kita tau bahwa bahagia itu begitu berarti. Mungkin kita harus kehilangan dulu, agar nantinya pandai menjaga apa yang kita miliki.
Karena sering kali kita hanya perlu menerima, ada hal yang memang harus terjadi diluar kuasa kita.
Mungkin kita pernah disakiti seseorang. Tapi bagaimana mungkin, apa alasannya? Tak mungkin seseorang menyakiti orang lain jika ia tak disakiti. Kita sering lupa, saat kita disakiti sesungguhnya orang yang kita sakiti merasa lebih sakit. Lalu mengapa tidak terima saja rasa sakitnya. Karena saat kita membalasnya maka akan ada yang tersakiti, lalu mereka membalas sakitnya, dan begitulah seterusnya. Hingga akhirnya terlambat disadari bahwa kita telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk merasakan kesakitan.
Gw pernah melihat orang yang menerima rasa sakit hatinya, dia tak bodoh karena membiarkan dirinya disakiti. Dia hanya tak ingin menyakiti orang yang dikasihinya. Itu menjadikannya tak punya alasan untuk disakiti. Dan perlahan orang yang menyakitinya mengobati sakit yang pernah ditimbulkannya.
Tuhan itu tidak tidur. Tuhan itu penilain yang sempurna. Saat kita belum siap naik kelas, Dia tak akan membiarkan kita lolos begitu saja. Salahkan diri sendiri yang tak mampu memantaskan diri untuk naik kelas. Bukan malah menyalahkan takdir.
Ini gw kenapa ya. Mungkin tadi kejedot. Terimakasih buat yang menyempatkan baca. Maaf seandainya tak sepaham. Karena kita tak harus sepaham, tapi harus mau menghargai perbedaan.

Tidak ada komentar: