Dia hanya gadis biasa.
Selayaknya teman sebayanya, dia bersekolah dengan semestinya, dia mempunyai banyak teman, dan dia dikenal humoris. Terlihat biasa, tak mencolok sedikitpun.
Tapi tak ada yang tahu, bahwa dia sakit.
Sakit yang tak dapat diobati obat jenis apapun. Sakit yang meradang, menjadi gundukan gunung es yang beku. Tak ada seorangpun yang menolongnya, karena tak ada yang tahu. Karena dia begitu biasa, siapa yang menyangka sakitnya separah itu.
Namanya Pepi.
Suatu hari dia datang menemui sahabatnya, lalu menangis tersedu-sedu. Tak habis pikir sahabatnya itu, tak terpikir hal seburuk apa yang menimpa Pepi.
Tina : "Cobalah berhenti menangis. Aku tak paham apa yang terjadi padamu, jika kau tak menjelaskannya. Hentikan tangisanmu, aku butuh kau menjelaskan." Sudah habis akal sahabatnya itu, putus asa hanya karena melihat Pepi menangis. Bagaimana mungkin dia terlihat semenderita ini. Apa yang salah dengan hidupnya yang sempurna?
Pepi : "..." Hanya diam yang sempurna, dan derai air mata yang seakan tak akan terhenti.
Hingga akhirnya dia menemukan seseorang yang entah bagaimana masuk dalam kehidupannya begitu saja. Arlan namanya.
Arlan sama seperti yang lain, seperti sahabat Pepi yang juga tak pernah tau sakit yang dialami Pepi.
Hingga akhirnya hari itu terulang.
Pepi mendatangi Arlan dengan tangis yang tak dapat lagi tertahan.
Arlan : "Kamu sudah lebih tenang? Coba ceritakan apa yang terjadi?" Pepi masih terbenam dalam pelukan Arlan, yang tak merenggang sedikitpun sejak Pepi mendatanginya dengan linangan air mata.
Tapi tak ada jawaban. Tak pernah ada kisah yang terucap dari mulut Pepi.
Hari mulai gelap saat Pepi mencoba tak menangis lagi. Resto itu mulai ramai. Tapi Pepi tetap merasa sepi.
Angin malam menyibakkan rambutnya yang tergerai. Lampu-lampu resto mulai dinyalakan, cahayanya membuat wajahnya seakan merona.
Tak ada yang spesial dari resto itu. Dia hanya menyukai lokasinya yang berada di atap gedung berlantai tujuh, dengan bagian outdoor yang menyuguhkan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Pemandangannya dimalam hari sangat sempurna.
'Selalu tak pernah ada kata selamat', pikirnya. Sia-sia semua usaha ku, tak membuat dia memandang ku. Lalu untuk apa aku mencoba dengan keras, kalau aku sudah tahu itu tak akan pernah merubahnya. Pikiran Pepi mulai menjelajahi masa lalu yang dia harap tak perlu terjadi.
Dulu Pepi tak istimewa. Nilai sekolahnya hanya rata-rata kelas. Tak ada prestasi apapun. Wajar tak ada ucapan selamat. Lalu dia mencoba dengan keras, mendapatkan nilai terbaik. Hingga dapat menjadi yang terbaik di kelas, dan masuk sekolah terbaik, bahkan universitas terbaik. Tapi masih tak ada kata selamat.
'Aku hanya sendiri', pikiran lain menghampirinya.
Sejak kecil dia selalu mengurus segalanya sendiri. Tak dibantu. Dan kadang membuatnya menangis saat tak sanggup menyelesaikan masalahnya.
'Kenapa bukan aku', Pepi menyeka butiran air mata disudut matanya. Dia mulai teringat saat semua karena adiknya. Saat harus dia yang disalahkan karena hal kecil yang bahkan bukan salahnya. Saat dia harus mengalah, meskipun untuk hal yang paling dia inginkan. Dan saat dia selalu dituntut mendapatkan hal-hal yang sulit dicapai, sedangkan adiknya tidak.
Pepi bergegas menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berharap dapat mencegah tangisannya. Dan tiba-tiba sebuah pelukan dari balik punggungnya mengagetkannya. Membuatnya lupa akan air matanya.
Arlan : "Kamu kenapa lagi?.. Aku salah apa?" Suara Arlan begitu lirih, seakan tertahan dengan pilunya melihat kekasih hatinya bersedih.
Seperti biasa tak ada jawaban.
Arlan mengambil kursi dan mendekatkannya ke kursi Pepi. Kini mereka duduk bersisian dalam diam.
Pepi : "Apa yang kamu dapat janjikan untuk aku?", kata-kata Pepi memecah kesunyian. Sungguh memecah kesunyian.
Arlan menghela napas panjang, "Kalau aku punya salah aku minta maaf. Tapi tolong jelaskan apa salah ku."
Pepi diam sesaat, "Satu-satunya kesalahan kamu adalah kamu terlalu baik. Itu membuat aku takut kelak kamu berubah menjadi tidak baik."
Arlan : "Lalu apa masalahnya?" Arlan sungguh tak memahami ucapan Pepi.
Pepi : "Karena aku tak tahu kapan tiba saatnya kamu berubah menjadi tidak baik." Pepi memandang jauh ke langit tak berbintang.
Arlan : "Jadi kamu mau apa?" Suara Arlan meninggi.
Pepi : "Kita sudahi saja. Aku tak sanggup membenci mu kelak."
Diam. Hening dalam kabut yang mencekik.
Maksud Pepi baik. Hanya saja Arlan tak paham itu. Dikecewakan orang yang sangat dicintai adalah hal yang menyedihkan. Hingga menimbulkan penyakit hati, sebuah rasa benci. Yang Arlan tak pahami adalah, saat orang baik membenci sesuatu, berarti itu adalah hal yang sangat buruk. Dan Pepi tak sanggup untuk membenci lagi.
Perlahan air mata itu membasahi pipi Pepi yang merona karena lampu-lampu malam yang redup. Dan tiba-tiba handphonenya berdering, sebuah pangilan masuk rupanya. Nomernya tak dikenal, dia menjawab panggilan itu dengan diam. Lama dia mendengarkan, tanpa mengucap sepatah katapun. Arlanpun tak dapat menerka samar-samar apa yang dikatakan orang diseberang sana. Lalu tanpa aba-aba dia bangkit dari duduknya, menuju pintu keluar resto.
Ayah Pepi terbaring lemah di ruang ICU. Bunyi alat pendeteksi detak jantung sangat lirih, membuat dia takut tiba-tiba bunyinya mengeras berubah menjadi petaka. Pepi duduk lemah disisi ayahnya. Sejak ibunya tiada, dia tak pernah sedekat ini dengan ayahnya. Dan sayangnya ibunya pergi diusianya yang sangat belia.
Ayahnya tertimpa musibah, mobil yang dikendarainya ditambrak truk barang yang mengalami rem blong. Ayahnya kehilangan banyak darah, dan benturan dikepalanya membuanya kritis. Dokter sudah angkat tangan, hanya doa yang bisa menolong ayahnya.
Ragu Pepi menyentuh tangan ayahnya yang semakin menua, kini lemah tak berdaya. Dingin rasanya. Seketika air mata Pepi mengalir tak dapat terbendung lagi.
Lama Pepi menggenggam tangan yang sudah lama tak menggandengnya saat menyeberang jalan. Pepi menyesal tak pernah mencium tangan dingin itu selama ini.
Tiba-tiba suara mesin pendeteksi detak jantung meningkat temponya, pertanda peningkatan aktivitas jantung ayahnya. Dan jari-jari tangan dingin itu bergerak. Napas Pepi seakan terhenti sesaat.
Pepi menekan tombol untuk memanggil perawat. Disaat itu lah wajah pasi itu berubah. Kelopak mata itu perlahan terbuka. Pepi mencoba bangkit dari duduknya, ingin memanggil dokter. Tapi tangan dingin itu mencoba menggenggam tangannya dengan erat. Dia pun mengurungkan niatnya.
Pepi : "Ayah... " Ucap Pepi terbata-bata.
Dengan susah payah sang ayah mencoba mengatakan sesuatu, "Sayang.."
Pepi : "Iya. Gak apa ayah. Aku disini." Pepi menggenggam tangan dingin itu semakin erat.
Ayahnya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan. "Maafin Ayah. Ayah kehilangan kamu nak." Ayah Pepi mulai menitikkan air mata.
Pepi : "Aku yang salah yah.."
Ayah : "Ayah cuma gak mau kamu terlena dengan pujian lalu cepat puas." Ayah berhenti sesaat, Pepi terdiam mencoba mencerna kata-kata ayahnya.
Ayah : "Ayah mau kamu mandiri. Ayah mau kamu jadi contoh buat adik kamu." Pepi menangis sejadinya mendengah kata demi kata ayahnya.
Pepi seperti menemukan jawaban. Dia merasa menemukan obatnya. Dia seperti menemukan alasan tak menangis untuk pertama kali.
Tapi itu tak membuatnya lega. Sungguh menyakitkan mendengar pekikan suara mesin pendeteksi jantung. Jantung ayahnya berhenti berdegub. Seakan Pepi ingin menarik keluar jantungnya untuk menggantikan jantung ayahnya. Tapi itu tak mungkin. Dan tepat saat dia memeluk ayahnya, dokter dan perawat tiba di ruangan itu. Memaksanya melepaskan pelukan itu. Dan berganti pelukan lain dari adiknya.
Dan semua sudah terjawab. Sakit Pepi tak pernah ada yang tahu. Tapi sudah ditemukan obatnya. Sungguh melegakan, ternyata hanya butuh mendengar sebuah pengakuan.
Kini Pepi kembali duduk di resto itu. Resto yang mulai dia sukai hempasan anginnya. Arlan duduk gelisah dihadapannya.
Pepi : "Kamu kenapa sih ?" Suara Pepi agak meninggi.
Arlan : "Hemmm... Aku gak tau salah aku sekarang apa. Tapi aku minta maaf." Suaranya agak bergetar.
Pepi : "Kamu gak salah." Pepi mulai bingung.
Arlan : "Jadi aku gak salah. Berarti boleh nanya?" Wajah Arlan berbinar.
Pepi : "Tapi goceng dulu.." Cita rasa humoris Pepi muncul.
Arlan : "Will you marry me?" Arlan tiba-tiba berlutut dihadapan Pepi.
Pepi hanya diam tanpa ekspresi.
Arlan : "Jadi..." Kata-kata Arlan menggantung.
Pepi : "Menurut kamu ?" Pepi meledek.
Arlan : "Jangan-jangan gak mau ya.." Arlan meraih tangan Pepi dan menggenggamnya.
Pepi : "Ya apa boleh buat. Habis cuma kamu yang mau sama aku." Pepi kembali meledek, tapi memberi kecupan kecil di kening Arlan.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar