Dan sayangnya aku tak sehebat itu. Nyatanya sabar ku berbatas, dan amarah sungguh mudah memperdaya ku.
Tau kah kau. Betapa aku tersiksa dengan pikiran ku sendiri. Begitu banyak tanya yang mencekik ku, dan sudah terlambat untuk terjawab saat ini. Karena kecewa sudah terlanjut mencengkeram ku. Kini terlalu buram bagi mata ini untuk memandang.
Sesak hati ini dengan sesal. Harapan yang tak kunjung berbalas, membuat langkah ini gontai dan air mata tak dapat terbendung lagi. Tapi apa daya ku. Mungkin diam ku lebih baik.
Aku tak menyalahkan dia. Karena ini mutlak khilaf ku. Aku terberdaya amarah, dan diperbudak keraguan. Tak sampai hati rasanya mengutarakan padanya, biar ku simpan sendiri.
Tuhan, kapan akhir semua siksa ini datang. Aku nyaris menyerah dan kalah. Apakah aku harus berteriak, ataukah berdiam bagai batu...
Total Tayangan Halaman
INILAH KISAH KU
Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.
Facebook Badge
Senin, 21 April 2014
Minggu, 06 April 2014
surat yang tak tersampaikan
Dear Lucky Boy..
Lama tak menulis untuk mu. Aku tentu masih dapat mengingat janji ku untuk sering menulis surat untuk mu. Tapi maaf aku harus menghentikannya, karena aku tak menemukan lagi alasan untuk menulisnya.
Dan memang ternyata sudah terlewati sangat lama. 5 tahun silam..
Dan akhirnya kau telah menemukan dan bersama orang yang tepat, yang bisa menerima mu apa adanya. Maaf karena bukan aku orangnya, karena bukan aku yang bisa menerima mu apa adanya.
Semoga suatu saat kau terbangun dari tidur mu, dan menemulan jalan mu.
Kita teman, dan akan tetap begitu. Aku berhutang banyak pada mu, atas semua alasan hidup yang pernah kau berikan, hemm... ajarkan tepatnya. Semoga kelak kau juga dapat menemukan alasan mu sendiri.
Lama tak menulis untuk mu. Aku tentu masih dapat mengingat janji ku untuk sering menulis surat untuk mu. Tapi maaf aku harus menghentikannya, karena aku tak menemukan lagi alasan untuk menulisnya.
Dan memang ternyata sudah terlewati sangat lama. 5 tahun silam..
Dan akhirnya kau telah menemukan dan bersama orang yang tepat, yang bisa menerima mu apa adanya. Maaf karena bukan aku orangnya, karena bukan aku yang bisa menerima mu apa adanya.
Semoga suatu saat kau terbangun dari tidur mu, dan menemulan jalan mu.
Kita teman, dan akan tetap begitu. Aku berhutang banyak pada mu, atas semua alasan hidup yang pernah kau berikan, hemm... ajarkan tepatnya. Semoga kelak kau juga dapat menemukan alasan mu sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)

