Ini adalah kisah si
angsa buruk rupa yang gila.
Entah ini sudah tahun
berapa, yang ia tahu ini adalah siang hari karena matahari bersinar dengan
teriknya. Tik.Tok.Tik.Tok. Itu bukan bunyi dentingan jarum jam, karena tak ada
jam disini. Itu suara dua ranting yang bergoyang dan sesekali bertubrukan karena
tertiup angin.
Ia duduk terdiam
disana, ditepi danau kehidupan yang menampung air dari air terjun harapan yang
tak seberapa deras alirannya. Dibawah bayang-bayang pepohonan si angsa buruk
rupa yang gila terdiam menatapi langit, bersembunyi dari rasa panas yang
menakutkan dan menghirup udara baru dari dedaunan yang baik. Kali ini ia coba
berpikir apa yang akan ia pikirkan. Dan ia memulainya dari sana, dari saat
terburuk yang sempat terlupakan.
Dahulu angsa buruk
rupa yang gila sangat benci kehilangan, apa lagi kehilangan seseorang yang
dikasihi. Ia kehilangan seorang badut yang sangat menarik bagi orang-orang, ia
kehilangan pangeran bergitar, ada juga lucky boy yang tak pernah bersyukur, ada
si anak pertama yang dapat dipercaya, juga si mata empat yang cerdik dan
cerewet. Tapi tak ada yang lebih buruk bagi si angsa buruk rupa yang gila, dari
pada saat ia nyaris kehilangan ayahnya.
Dan kemudian ia mulai
belajar menerima, bahwa kehilangan bukan akhir bagi segalanya. Tuhan memang
membuat segalanya datang dan pergi silih berganti. Lalu bulan dan matahari
datang silih berganti tanpa dapat terhitung lagi, dan datanglah dia yang lain.
Seorang malaikat tak bersayap, bukan malaikat penyelamat, hanya seorang
malaikat penjaga. Yang saat ini sedang bertengger diantara pepohonan, menatapi
siangsa buruk rupa yang gila yang sedang menatapi langit.

