Total Tayangan Halaman

INILAH KISAH KU

Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.

Jumat, 29 Maret 2013

Si Angsa Buruk Rupa yang Gila


Ini adalah kisah si angsa buruk rupa yang gila.

Entah ini sudah tahun berapa, yang ia tahu ini adalah siang hari karena matahari bersinar dengan teriknya. Tik.Tok.Tik.Tok. Itu bukan bunyi dentingan jarum jam, karena tak ada jam disini. Itu suara dua ranting yang bergoyang dan sesekali bertubrukan karena tertiup angin.

Ia duduk terdiam disana, ditepi danau kehidupan yang menampung air dari air terjun harapan yang tak seberapa deras alirannya. Dibawah bayang-bayang pepohonan si angsa buruk rupa yang gila terdiam menatapi langit, bersembunyi dari rasa panas yang menakutkan dan menghirup udara baru dari dedaunan yang baik. Kali ini ia coba berpikir apa yang akan ia pikirkan. Dan ia memulainya dari sana, dari saat terburuk yang sempat terlupakan.

Dahulu angsa buruk rupa yang gila sangat benci kehilangan, apa lagi kehilangan seseorang yang dikasihi. Ia kehilangan seorang badut yang sangat menarik bagi orang-orang, ia kehilangan pangeran bergitar, ada juga lucky boy yang tak pernah bersyukur, ada si anak pertama yang dapat dipercaya, juga si mata empat yang cerdik dan cerewet. Tapi tak ada yang lebih buruk bagi si angsa buruk rupa yang gila, dari pada saat ia nyaris kehilangan ayahnya.

Dan kemudian ia mulai belajar menerima, bahwa kehilangan bukan akhir bagi segalanya. Tuhan memang membuat segalanya datang dan pergi silih berganti. Lalu bulan dan matahari datang silih berganti tanpa dapat terhitung lagi, dan datanglah dia yang lain. Seorang malaikat tak bersayap, bukan malaikat penyelamat, hanya seorang malaikat penjaga. Yang saat ini sedang bertengger diantara pepohonan, menatapi siangsa buruk rupa yang gila yang sedang menatapi langit.

Seperti hembusan angin


Wahai hembusan angin...

Dapatkah kau membawa kegelisahan hati ini padanya...
Katakan padanya, aku merindunya. Berharap ia baik-baik saja disana, dan dapat terus tersenyum. Seandainya ia tahu, betapa besarnya harapan ini untuk berada disampingnya. Tapi kini, hanya mengetahui bahwa ia telah lebih kuat untuk menjalani hidup sudah cukup rasanya.

Pagi bukan milikku, tak dapat ku buat mentari yang hangat selalu menemanimu. Malampun bukan milikku, tak dapat kubuat cahaya bulan dan gemerlap bintang selalu menghiasi gelapmu. Tapi sebagian hati ini terisi olehmu, akan selalu ada ruang untukmu.
Wahai hembusan angin, taukah kau betapa takutnya aku...

Aku takut ia tak bahagia, aku takut ia terluka, terlebih aku takut ia merasa sendiri. Seandainya aku dapat menjadi sepertimu, aku akan berhembus ketempatnya dan membuatnya tak merasa sendirian lagi. Sayangnya aku hanya aku, yang hanya dapat berdiam disini. Yang bahkan tak dapat mendekatinya tanpa seizinnya.
Tetapi doaku bukanlah dosa. Aku harap Kau terus menjaganya, Tuhan.Aku yakin rencana-Mu lebih sempurna dan indah untuknya. Dan aku, besarkan hatiku, Tuhan. Berikan aku kekuatan untuk menjalani dan menerima segala rencana-Mu. Sesungguhnya aku hanya makhluk kecil yang tak bedaya tanpa seizin-Mu...