Total Tayangan Halaman

INILAH KISAH KU

Anda hanya punya satu kesempatan untuk memutuskan, tapi juga sejuta kesempatan untuk memilih.

Sabtu, 06 Juni 2015

Contoh yang buruk

Well,
Hari ini sedikit menyesal.
But first, if you know me, you'll never judge me as a selfish person when read this.
Karena lo tau, gw bukan orang yang akan biarin ibu hamil, anak-anak, atau lansia berdiri di Traja sesangkan gw enak-enakan duduk.
Gw juga bukan orang yang akan marahin adek gw yang jatuh waktu latihan naik sepeda, gw akan bilang ke dia, "Lain kali hati-hati. Besok latihan lagi ya."

Katakanlah hari ini gw agak kurang mujur.
Singkat cerita, gw yang belum lama pulang kerja akhirnya cekcok sama ibu-ibu yang membonceng dua anaknya. Gw jelas bukan orang yang akan naik pitam tanpa dipancing. Sialnya hari ini mungkin gw lelah, banyak pikiran, dan akhirnya terpancing.
Sebenernya ibu itu tau dia salah, dan coba minta pengertian gw. Sayangnya gak dibarengi dengan etikat yang baik, nada suaranya tinggi dan menggeber motor berknalpot racingnya tepat didepan pintu rumah gw. Lo tau kan, knalpot racing itu melanggar peraturan, dan lo pasti tau kenapa itu.
Gw jelas emosi. Dan mulai ikut menaikkan nada bicara gw. Beruntungnya, gw adalah orang yang ketika marah akan menggunakan kata-kata yang formal (baku). Jadi gw gak teriak-teriak seperti orang tak punya sopan santun.
Jelas-jelas gw bilang, "Hati-hati bu naik motornya, semoga selamat sampai tujuan."
lah dia malah teriak-teriak sambil nunjuk-nunjuk kearah gw dan bilang, "Jadi mba doain saya mati!"
WHAT!!! Ini siapa yang bodoh sih. Kapan gw bilang biar dia mati.
Alhasil gw dipisahin adek, nyokap, dan om gw.
Kalo lo mau tau. Gw sama sekali gak merasa bersalah. Karena memang dia yang salah. Dan dia gak berusaha menunjukkan niat baik kalau menyesal atau minta maaf.
Tapi satu-satunya hal yang bikin gw gelisah adalah, gw menyesal karena bertindak seperti tadi didepan dua anak ibu itu, adik gw, dan sepupu gw yang masih kecil.
Gw menyesal karena membuat anak ibu itu belajar dari ibunya, kalo saat berbuat salah tak mengapa menjadi lebih marah dan berkata kasar.
Gw nyesel banget. Gw gak bisa ulang waktu untuk mencegah hal itu terjadi.
Apalagi waktu inget wajah salah satu anak ibu itu yang sampai berkaca-kaca matanya. Entah karena lihat kelakuan gw dan ibunya, atau memang sudah begitu sebelumnya.
Maafkan saya anak-anak. Saya tidak bisa menjadi contoh yang baik.
Tuhan, tolong hapus ingatan buruk ini dari otak mereka. Jangan biarkan mereka belajar menjadi kasar dan bodoh.

Kamis, 04 Juni 2015

Sang Pemimpi.

Aku adalah seorang pemimpi yang ulung.
Impian ku begitu tinggi. Begitu indah.
Namun tak jarang akun harus mengurungkan impian itu. Bukan karena menyerah. Tapi sedikit mengalah pada realitas.
Terkadang impian itu begitu dekat. Bahkan aku dapat melihat dengan jelas jalan untuk meraihnya. Aku yakin dapat mencapainya dengan usaha yang gigih.
Tapi dengan mudah juga aku menemukan alasan untuk menundanya. Atau mungkin tetap membiarkannya sebagai impian.
Meski begitu aku tak pernah berhenti bermimpi. Bahkan impian itu menjadi semakin tinggi dan banyak.
Bukankah bermimpi membuat mu optimis pada masa depan yang abu-abu?

Impian ku saat ini,,
Menyegerasa menyelesaikan studi. Bekerja di gedung itu, salah satu gedung pemerintah di bilangan Senayan. Dan memakai seragam.
Sederhana. Dan aku tau caranya.
Semoga Tuhanpun memudahkan mencapai impian itu.

Selasa, 02 Juni 2015

May I ? . . .

Aku iri pada angin yang bebas membelai mu.
Aku iri pada air yang menghapus dahaga mu.
Bisakah aku menjadi selimut yang menangkal dingin untuk mu?
Atau mungkin menjadi sehelai saputangan lusuh yang akan menghapus keringat mu dihari yang terik..
Ini adalah rasa yang tak dapat lagi diungkapkan. Karena sudah mengakar jauh entah dimana pangkalnya.
Tapi mestinya rasa ini tak melebihi kecintaan ku pada-Nya. Maka tak salah aku minta Dia yang menjaga mu.
Wahai Tuhan yang maha membolak balikkan hati. Bisakah aku menjadi lebih kuat? Pinjamkan aku sedikit kuat mu. Untuk menjaga orang-orang yang ku kasihi.
Karena aku benci menjadi lemah. Benci tak dapat berbuat apa-apa.
Tuhan, bisakah malam tak menjadi terlalu dingin agar mereka dapat tidur dengan nyenyak. Dan siang tak terlalu terik agar kerongkongan mereka tak tercekik karena kering..
Mereka, dia, adalah alasan. Alasan untuk melakukan yang terbaik. Mengusahakan hingga detik terakhir. Alasan untuk terbangun diesok hari.
God,, May I wish a better life for they...
And for him...