tik.. tok.. tik..
tok.. "Suara dentingan jarum jam mengapa terdengar begitu nyaring, akankah
ini pertanda buruk?" Hanya itu yang terlintas dalam benak ku saat ini.
Ruang tunggu rumah sakit ini menjadi begitu dingin, membekukan air mata,
membuat oksigen semakin menipis untuk dihirup. Pintu kaca ruang operasi itu
terlihat begitu suram, separuh jiwa ku berjuang melawan maut dibaliknya, dan
aku hanya terdiam disini tak dapat berbuat apapun. "Tuhan, tolong berikan
dia kesempatan sekali lagi. Tak perduli bagaimanapun yang telah berlalu,
izinkan dia memperbaiki segalanya." Hanya doa ini yang mampu terucap,
mulut ini seakan terkunci oleh ketakutan yang luar biasa.
Detik demi detik
berlalu, menit terlewati tanpa dapat terhitung, tak terasa 6 jam sudah lampu
merah penanda operasi sedang berlangsung itu menyala. Aku bangkit dari duduk
ku, menepis ketakutan yang memenjarakan ku, dan seketika itu juga air mata ini
menetes tanpa dapat terbendung lagi. Bip.. Lampu merah itu padam. Membuatku
terpaku memandangi pintu kaca itu, kaki ku gemetar, napas ku terhenti sejenak.
Aku tak dapat melangkah, tetap terdiam dan menanti. Dan pintu kaca itu terbuka,
2 orang berpakaian putih keluar dari sana, tapi tak ada sepatah katapun.
Dia adalah segalanya.
Mengingatnya membuat ku menyesal, untuk semua yang telah ku lewatkan dan tak
dapat terulang, untuk semua keangkuhan yang memisahkan kami, dan mungkin sebuah
kata maaf yang tak akan lagi dapat disampaikan. Dia yang memberikan kehidupan
bagi ku, menggadaikan nyawanya demi manusia baru yang mungkin akan membencinya,
dia yang selalu menanti ku, dan hanya dia yang akan mengorbankan dirinya demi
ku tanpa diminta.
Waktu menunjukkan
pukul 07.00 pagi, kicau burung masih terdengar sayup-sayup, mentaripun masih
enggan meninggi. Aku menggunakan seragam merah-putih ku bersiap untuk berangkat
ke sekolah. Ku pastikan semua buku pelajaran dan tempat pinsil sudah masuk
kedalam tas, dan suara itu membuatku terdiam. "Sarapannya ada dimeja,
ambil sendiri dan cepat berangkat!", hanya itu. Aku pun bergegas, dan
menuju dapur. Ku buka tudung saji warna hijau kusam itu, hanya ada sedikit nasi
dan setengah telur mata sapi yang entah siapa yang memakan setengahnya.
"Habiskan, dan cepat berangkat!", suaranya tinggi dan penuh amarah.
Semua berlalu begitu cepat, aku melangkahkan kaki keluar rumah dengan hati yang
berkecambuk.
Dihari yang lain aku
seperti enggan mendengar teriakannya, hilang sudah keinginan ku menjadi anak
normal, "Bermain hanya akan membuatnya marah." pikir ku. Dan sepulang
sekolah aku hanya berdiam diri dirumah, bermain dengan boneka-boneka tak
bernyawa itu. Hingga rasa bosan tiba-tiba menghampiri, dengan bantal dan
selimut ku tutupi telinga ku, berharap tak mendengar teriakannya dan hening
yang ku dapat. Entah berapa lama aku tertidur, hingga sebuah bunyi pintu
dihentakkan dengan keras mengusik ku. Seketika aku terduduk, dan dia pun
membentak, "Kamu itu....!" Hanya itu, tapi berhasil membuat ku
menangis tanpa sebab.
"Bangun,
bangun.. Sudah jam 4, cepat belajar." Suaranya menjadi semakin familiar
sudah hampir satu minggu ini, dan hari ini adalah hari terakhir ujian nasional
ku di bangku Sekolah Menengah Pertama. Aku sudah mulai terbiasa dengan semua
ini, aku lalu membasuh muka dikamar mandi dan bergegas mengambil buku pelajaran.
"Belajar yang benar, dan habiskan tehnya, nanti keburu dingin." Hanya
itu pesannya disetiap hari-hari ini. Aku memilih diam dan menuruti katanya,
berharap tak akan ada teriakan dan aku tak harus pergi ke sekolah dengan hati
yang penuh amarah. Aku tak pernah tahu apa yang ada dibenaknya, tak terlintas
sekalipun untuk bertanya padanya. Dan hanya pikiran buruk yang akhirnya
merundung ku, "Mungkin aku bukan anak kandungnya."
Dan hanya itu yang
dapat ku ingat. Banyak hal terlupakan, mungkin karena begitu buruk hingga tak
ingin ku ingat, atau memang tak ada yang perlu diingat. Hanya itu, ya, hanya
itu. Aku seperti orang bodoh yang bahkan tak dapat mengingat pernah hidup
selama ini, aku hanya aku dihari ini yang dapat ku ingat. Hingga peristiwa
seminggu lalu membuat ku sangat ingin mengingat semua hal yang terlupakan itu.
Pagi itu sama seperti pagi-pagi lainnya, semenjak memasuki Sekolah Menengah
Atas aku menjadi semakin pendiam, mungkin karena itu juga dia menjadi lebih
diam dari sebelumnya. Aku bergegas berangkat ke sekolah, tas sudah siap dalam
gendongan ku, dan ku sempatkan membersihkan sepatu ku. Dan dia pun berkata,
"Nanti pulangnya jangan malam-malam ya." Suaranya terdengar begitu
lembut, mungkin suara terlembut yang pernah ku dengar sepanjang hidup ku. Jawab
ku hanya singkat, "Ya." Tapi kata-katanya itu menyisakan tanya dalam
benak ku, siapa dia? Apa yang sebenarnya terjadi?
Seorang berpakaian
putih membuka pintu kaca itu sambil membuka masker berwarna hijau, lalu
menghampiri ayah ku sambil membuka penutup kepala yang sepertinya terbuat dari
kain yang juga berwarna hijau. "Kami sudah berusaha semampunya, namun
beliau masih dalam kondisi kritis. Kita hanya bisa berdoa dan menunggunya
sadar." Laki-laki paruh baya itu berbicara dengan intonasi yang tenang,
tetapi wajahnya menunjukkan penyesalan yang mendalam. Entah karena ini adalah
drama yang sering dia lakukan pada keluarga pasiennya yang lain, atau memang
karena ada hal yang tidak baik sedang terjadi. Ayah ku terdiam, adik ku, kakek,
nenek, dan semua keluarga yang sedang berdiri disana hanya dapat terdiam
memandangi laki-laki berpakaian putih itu berjalan menjauh. Aku bahkan tak
mampu mendekati pintu kaca itu, hanya suara meraung yang dapat ku dengar, dan
pandangan ini pun buyar karena air mata yang menetes seperti tak akan pernah
terhenti.
Aku mendapatkan satu
kesempatan terakhir. Pagi itu setelah 3 hari tak sadarkan diri, dia akhirnya
dapat membuka matanya. Seluruh keluarga datang menjenguknya, tapi hingga
mentari hampir tenggelam pun aku masih tak berani menunjukkan diriku di
hadapannya. Aku hanya duduk didepan pintu kamarnya sepanjang hari, dan
tersenyum palsu pada semua orang yang hendak masuk menjenguknya. Dan dimalam
yang semakin larut, koridor rumah sakit itu menjadi semakin hening.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan." Hanya itu kata yang terus
terucap oleh bibir ku. Hingga pintu kamar itu perlahan terbuka, dan nenek
berkata, "Mungkin sekarang giliran kamu." Aku menarik napas panjang,
bangkit dari duduk ku dan membuka pintu itu dengan penuh rasa menyesal.
Ruangan sempit itu
berdinding putih, tirai jendela, kasur tempat tidur, selimut, dan semua
peralatan medis berwarna putih yang terhubung dengan tubuh ringkih yang
terbaring ditempat tidur dengan selang dan kabel-kabel berwarna merah-kuning.
Hanya sebuah kursi dengan sandaran berada tepat disisi sebelah kanan tepat
tidur yang berwarna hitam, hitam pekat hingga aku mengira kursi itu hanya
memiliki satu rangka tanpa sambungan. Dan hanya ada dia sendirian disana,
terbaring tak berdaya dengan wajah pucat pasi.
"Mama.."
Suara ku begitu lirih, namun seketika itu mata yang tadinya terpejam itu
terbuka perlahan. Dia menggerakkan kepalanya, menoleh pasti kearah ku, membuat
ku tak dapat membendung air mata ini. "Gak apa-apa." Ucapnya dengan
terbata-bata. Hening sesaat, kami hanya saling memandangi selama entah berapa
lama. Hingga tiba-tiba terlihat seutas senyum dibibirnya. Ku raih tangannya
yang tergeletak lemah dihadapan ku, aku bersimpuh disampingnya dan mencium
tangan yang dingin itu. "Maafkan aku... Terima kasih..." Hanya itu
yang dapat ku ucapkan, tapi aku sadar betul, itu tulus keluar dari hati ku.
"Mama tahu." Ucapnya singkat.
Dan disini ku hari
ini, berdiri didepan batu nisannya. Memandangi makamnya dengan background
ratusan makam lain yang tak ku kenal siapa pemiliknya. "Akankah dia merasa
kesepian disana?" tanya ku dalam hati. Air mata ini masih menetes, dan
masih akan terus menetes untuknya.
Mama, maaf karena
sudah sangat terlambat untuk mengucapkan terima kasih dan maaf untuk segalanya.
Memang aku yang buta, aku yang bodoh. Kau begitu baik, begitu sempurna
mengasihi ku. Tapi hanya benci yang dapat ku berikan pada mu.
Kau yang menahan
perut yang perih, hanya agar aku dapat makan dengan layak.
Kau yang
mengkhawatirkan ku lebih dari siapapun, saat keberadaan ku tak pasti.
Kau yang bangun lebih
awal dari ku, hanya untuk menyampaikan doa yang begitu tulus hanya untuk hal
terbaik untuk ku.
Dan kau yang terus
merindukan ku, walalupun kita selalu bertemu.
Mama, akankah sebuah
ucapan terima kasih dan air mata yang menetes ini dapat membayar semua itu?
Kata maaf ku pun sepertinya bukan apa-apa, jika dibandingkan dengan berjuta
maaf yang telah kau berikan pada ku, bahkan sebelum aku meminta maaf.
Terima kasih atas
kehidupan yang telah kau berikan untuk ku, dan maaf karena belum sempat
memberikan yang terbaik untuk mu.
Suatu saat aku juga
akan menjadi seorang ibu, tapi akankah aku dapat menjadi ibu sebaik dirimu, ma?
Suatu saat kita akan
bersama kembali dalam keabadian, dan disanalah aku kan berbakti pada mu dengan
sempurna. Aku berjanji.
