Sulit dimengerti, apa sebenarnya semua ini...
Sesuatu yang tak berwujud, tapi sangat teras keberadaannya.
Sesuatu yang tak dapat terdefinisikan dengan kata apapun yang pernah terucap lisan.
Sesuatu yang selalu luput untuk dilupakan...
Semua ini membuat tubuh ini hanya menjadi bongkahan tulang berdaging tanpa jiwa, karena entah dibawa kemana jiwa ini oleh hembusan angin. Membuatku melupakan setiap hal, membunuh kesepian tanpa alasan, dan menjadikan setiap langkah penuh kisah...
Setiap orang pernah merasakan cinta.
Cinta umat pada Tuhannya. Cinta ibu pada anaknya. Cinta kekasih pada belahan jiwanya.
Cinta itu kekecewaan, pengorbanan, cinta itu jiwa bagi kematian sesaat.
Kecewa karena pada diri sendiri karena tidak dapat menjadi yang terbaik baginya, kecewa karena tak pernah bisa menunjukkan sebesar apa cinta yang terpendam, kecewa karena hanya dapat menjadi tempatnya menangis bukan tertawa, dan kecewa karena hanya diberi satu kehidupan yang kejam untuk mencintainya sesaat.
Mengorbankan perasaan demi sebuah senyuman, pengorbanan untuk tak mengungkap pengorbanan, mengorbankan kebahagiaan sesaat untuk sebuah keutuhan, pengorbanan ego demi pembuktian...
Karena cinta adalah jiwa bagi kekosongan, jiwa bagi ketakutan, jiwa bagi keyakinan. Tapi cinta tak pernah membunuh, karena cinta tak pernah bisa membunuh...
Cinta hanya mencuri sebagian dari ruang hari, meninggalkan lubang menganga yang akan selalu mungkin untuk diobati (sembuh dengan meninggalkan bekas) bukan diperbaiki (menjadi baru sama sekali).
Sebagai manusia yang tak sempurna, harusnya aku dapat berbesar hati menerima segala kehendak-Nya. Karena apa yang Dia rencanakan sesungguhnya adalah hal terbaik yang pantas aku terima, bukan tanpa arti sama sekali…
Tapi mengapa aku terlalu sering lupa akan semua itu, hingga hanya duka yang sering kali memburu hari-hari. Dan entah mengapa karena lupa itu kini aku merasa begitu bersyukur, karena tanpa lupa itu aku tak akan pernah merasakan syukur yang begitu besar atas hidup ku yang singkat seperti saat ini…
Terimakasih Tuhan, karena senantiasa mendatangkan hal-hal hebat dalam hidup ku. Terimaksih atas hidup ini, dan terimakasih karena tak pernah membiarkan ku merasa sendiri. Hanya Kau pemilik jiwa raga ini, Kau berhak atas setiap napas ini, setiap air mata ini…
Seandainya memang masih banyak lagi ujian yang harus aku lalui, kuatkanlah aku Tuhan. Biarkan aku menjalani takdir ini dengan optimis, tanpa terkecuali…
